
Sambil menangis tersedu-seduh menangisi nasibnya.
Miranda tak bisa berkata-kata lagi untuk mengabarkan kepedihan yang ia rasakan saat di nodai oleh seorang pria yang sama untuk yang ke-dua kalinya.
Sambil meringkuk di sisi tempat tidur, dengan kondisi tubuh yang sudah terjamah dengan paksa. Miranda seolah-olah sudah menjadi wanita paling menjijikkan di dunia.
Ketika ia menengok sejenak ke samping. Seorang pria masih nampak tertidur pulas seperti mayat. Pria yang paling ia kutuk dan yang paling ia benci seumur hidupnya.
Sambil menutupi tubuhnya dengan bed cover. Miranda mencoba untuk bergerak dari tempat tidur.
Miranda kemudian memunguti baju baju nya yang berserakan di lantai. Lalu membawa baju baju tersebut ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat kemudian. Miranda keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi. Mengenakan pakaian yang ia pakai kemarin.
Rasa benci yang sudah mendarah daging dalam hati nya membuat Meira tidak mau menengok ke arah Tristan yang sepertinya belum ada tanda tanda untuk bangun itu.
Ketika Miranda melihat celana panjang Tristan tergeletak di lantai. Meira kemudian punya gagasan untuk mencari sesuatu yang bisa membuat dia mendapat informasi tentang Tristan.
Miranda langsung bergegas untuk mencari sesuatu di sana.
Dengan sambil mengawasi Tristan yang masih tidur. Miranda kemudian mengambil dompet milik Tristan dan kemudian ia mengecek dompet tersebut.
Miranda mengambil satu kartu nama yang ada di dompet Tristan.
__ADS_1
Sejenak Miranda juga sempat membaca kartu identitas milik Tristan.
Setelah selesai mengecek dompet milik pria bejat itu.
Miranda langsung bergegas untuk bisa segera keluar dari kamar tersebut.
Tapi baru saja ia hendak membuka handle pintu.
Tristan terbangun dan menertawai usaha Miranda yang akan kabur dari kamar.
"Mau kemana kamu!" seru Tristan. Yang saat itu ia telah bangkit dari tidurnya. Dan masih terduduk di atas tempat tidur.
"Pergi dari tempat neraka ini bre ng sek!" jawab Miranda dengan penuh menahan rasa amarah dan kebencian.
"Kamu pikir kamu siapa! Dan kamu pikir aku ini apa!" teriak Miranda yang kini sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
Dan ia memberanikan diri untuk menatap wajah Tristan yang sudah begitu muak untuk ia liat itu.
"Siapa suruh kamu punya tubuh yang indah dan sempurna. Kau sudah membuat ku gila. Karena kamu aku sudah tidak punya gairah untuk bersenang-senang dengan wanita lain. Yang aku inginkan hanya kamu sekarang."
"Bagaimana bisa kau sebrengsek ini." Seru Miranda dengan menata tajam ke arah Tristan.
"Kamu pikir aku wanita psk. Catat ini baik baik pria bre ng sek. Aku akan membuat perhitungan dengan mu. Kamu tidak akan bisa lolos dari ku." ancam Miranda.
__ADS_1
Tristan yang saat itu sedang mengenakan kembali celananya hanya terkekeh mendengar ocehan Miranda.
"Dasar wanita miskin. Sok kamu mau mengancam ku. Kamu tidak sadar ya, kamu bekerja di resort villa milik keluarga ku. Keluarga ku punya saham 50 persen di resort tempat kamu bekerja. Jika kamu macam macam. Sudah ku pastikan kamu akan kehilangan pekerjaan mu. Dan tidak hanya itu. Lihatlah, aku telah merekam dan memotret tubuh mu yang telanjang itu. Jika kamu macam macam. Aku akan sebar kan foto dan video mu. Dan kau tau artinya itu apa. Nama mu akan hancur. Kamu akan kesulitan mencari pekerjaan. dan keluarga mu akan membenci mu." Ancam Tristan.
Kini sorot kebencian terhadap pria yang sudah dua kali berbuat asusila dengannya makin besar.
Dorongan kemarahan dari dalam jiwa Miranda pun semakin berkobar.
Meira kemudian meraih sebuah botol bekas minuman beralkohol yang ada di sampingnya. Lalu, ia kemudian sengaja memecahkan botol tersebut.
Byur.......
Suara pecahan beling itu pun terdengar keras.
"Kau buka kan pintu kamar ini sekarang juga atau aku kan bunuh diri di hadapan mu sekarang juga." ancaman Miranda.
Kemudian ia mengarahkan pecahan beling itu ke nadi tangannya.
"Kau pikir aku akan percaya dengan apa yang akan kamu lakukan. Lakukan saja jika kamu mau bunuh diri." ujar Tristan.
Tanpa banyak bicara lagi. Miranda punya akhirnya benar benar melakukan apa yang ia ancam kan pada dirinya sendiri.
Dengan penuh tekat dan tanpa pikir panjang. Miranda kemudian menggoreskan pecahan beling itu ke tangannya.
__ADS_1
Dan seketika darah segar langsung mengalir dan tubuh Miranda langsung ambruk terjatuh ke lantai.