
Saat ini, Miranda belum sadar dari pingsannya. Ia masih tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.
Dan di sisinya, Tristan juga nampak tiduran. Karena saat itu ia sedang mentransfusikan darahnya untuk Miranda.
"Kau membuat ku susah. Aku tidak pernah di buat susah seperti ini sebelumnya." ucap Tristan dalam hati. Sambil terus memandangi wajah Miranda yang terlihat pucat tersebut.
"Kenapa kau begitu menggiurkan. Saat kau sekarat pun aku membayangkan bagaimana aku begitu menikmati tubuh mu." batin Tristan.
"Aku memang brengsek kan. Dan percayalah, kau lah yang membuat aku jadi pria brengsek." ucap lagi Tristan dalam hati.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Kini Miranda mulai mengerjabkan matanya. Keinginannya untuk meloloskan diri dari sekapan Tristan seperti telah sia sia.
Tapi, setelah ia membuka matanya lebar-lebar. Ia menyadari, jika ia sudah tidak lagi berada di kamar bersama pria brengsek itu. Hal itu cukup membuat Miranda merasa lega.
Dengan gerakan pelan, Miranda mencoba untuk bangkit.
Setelah ia terduduk di tempat tidur di sebuah rumah sakit. Seorang perawat menghampirinya.
__ADS_1
"Mbak, bagaimana keadaan Mbak?" tanya seorang perawat.
"Siapa yang membawa ku kemari?" tanya Miranda pada perawat itu. Karena ia penasaran siapa yang membawanya ke rumah sakit.
"Saya tidak tau siapa nama mas mas yang tadi membawa Mbak kemari. Tapi dia berpesan pada saya untuk menjaga Mbaknya."
Miranda kemudian berfikir. Yang membawa dirinya ke rumah sakit pasti Tristan. Setelah ia berfikir sejenak. Miranda langsung turun dari tempat tidur.
"Mbak, Mbaknya mau kemana?" Tanya perawat itu heran.
"Aku sudah baikan. Aku ingin pulang." ucap Miranda, yang tidak perduli lagi dengan hal hal yang lain.
ππππππππ
Satu Bulan Kemudian
Mata Miranda membulat sempurna dengan mulut ternganga ketika ia mengetahui hasil percobaan pertama tes untuk kehamilannya saat itu.
Miranda tidak percaya jika kini dirinya sedang berbadan dua.
__ADS_1
Pantas saja sudah beberapa hari ini badannya terasa tidak enak dan terasa sakit semua. Dan masa haid nya juga terlambat.
Saat mengetahui dirinya berbadan dua, Miranda tidak tahu harus berekspresi apa.
Karena pikirannya masih terlalu kalut dengan kenyataan bahwa dirinya saat ini tengah hamil.
Miranda benar benar bingung dan tidak tau harus berbuat apa jika nanti perutnya membuncit besar.
Sedangkan dirinya saat ini tidak punya kekasih dan tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.
Dan, rasa muak dan benci pada pria yang bernama Tristan kini kembali mencuat dan bercokol di hati nya. Karena Pria itulah yang menghamilinya.
Di pertahankan atau di buang. Dua hal itulah yang kini sedang Miranda pikirkan tentang janin yang masih kecil yang ada di rahimnya.
Dua perasaan itulah yang kini sedang berkecamuk di dalam pikiran Miranda.
Tapi sebagai wanita yang punya hati nurani dan juga seorang wanita baik-baik, dari lubuk hati Miranda yang paling dalam. Dia pun juga tidak akan sampai tega untuk menyakiti janin yang ada di kandungan saat ini.
"Aku harus Bagaimana menghadapi ini semua. Bagaimana jika Ayah dan Ibu tau jika aku hamil. Bagaimana dengan pekerjaan ku. Bagaimanapun aku bisa membantu perekonomian keluarga ku, jika aku hamil." Ucap Miranda lirik, yang saat itu ia sedang berada di kamar mandi di rumahnya.
__ADS_1