
Wisnu dan Miranda terlihat sangat canggung.
Mereka tidak menyangka jika mereka saat ini telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah
Seperti yang Bu Aminah katakan. Wisnu juga tidak tahu akan seperti apa kedepannya pernikahannya yang ia lakukan bersama Miranda.
Sedangkan Miranda sendiri pun sama. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap dirinya yang ternyata malah menikah dengan Wisnu.
"Miranda ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sebaiknya kita bicara di kamar." ujar Wisnu, yang kemudian ia berjalan ke kamarnya.
Dan Miranda berjalan mengekor di belakang Wisnu.
Wisnu kemudian membuka pintu kamarnya. Setelah Pintu itu terbuka, Miranda pun masuk. Setelah itu Wisnu menutup pintu kamarnya.
Setelah kedua masuk, Wisnu dan Miranda sama sama tegang.
__ADS_1
Dan sejak tadi, Miranda hanya diam. Meski ia diam, sebenarnya ia sedikit kaget dengan sambutan dirinya di keluarga itu.
Yang ternyata dirinya di sambut lumayan baik.
Miranda benar benar bingung.
Hatinya kini diliputi berbagai macam perasaan yang campur aduk. Seharusnya saat ini yang ada bersamanya adalah Tristan. Seharusnya saat ini dia sudah memaki-maki pria brengsek itu sepuas hatinya.
Karena ia sudah berhasil menjebak Tristan dengan perjanjian pernikahan itu.
Tujuan Miranda melakukan perjanjian pernikahan itu adalah untuk menyiksa perasaan Tristan sendiri.
Maka ia akan dilaporkan Tristan ke polisi. Tidak hanya itu.
Jika Tristan dengan sengaja menyentuh dirinya ataupun mengajak dirinya berhubungan badan itu pun juga tak luput akan dilaporkan oleh Miranda ke polisi.
__ADS_1
Poin-poin yang berat itulah yang mungkin membuat Tristan tidak mau menikahi Miranda.
Dan dia memilih pergi meninggalkan rumah yang entah tidak tahu kapan dia akan kembali.
Atau entah kapan dia akan muncul kembali di hadapan keluarganya.
Karena ancaman Miranda benar-benar membuat nyali Tristan ciut.
"Miranda, langsung saja aku mau mengatakan sesuatu. Kita saat ini sudah menikah secara sah. Kita adalah suami istri sekarang. Baik secara agama maupun negara. Aku ingin kita berdua tetap tinggal di kamar ini. Kita akan tidur di kamar ini bersama. Tapi aku paham, dan aku sangat menghargai kamu. Jangan takut, karena kita masih asing. Kita masih sama-sama tidak memiliki perasaan apapun. Aku sangat menghormati dirimu. Kau yang akan tidur di tempat tidur itu." ucap Wisnu sambil menunjuk ranjangnya.
"Dan aku akan tidur di sofa ini." imbuh Wisnu yang kemudian juga menunjuk sofa yang ada di sudut kamarnya.
"Jadi kamu tidak perlu tertekan dan kamu tidak perlu takut. Meskipun kita telah menjadi suami istri. Anggap saja kita berteman. Anggap saja aku temanmu dan aku tidak ingin status kita membuatmu canggung serta gugup. Seperti kata Mama. Kamu mulai sekarang menantu di rumah ini. Kita bisa berakting menjadi suami istri bukan. Aku hanya ingin memberikan status yang jelas untuk kamu selama kamu mengandung dan sampai anak itu lahir. Seperti katamu yang kau tulis dalam surat perjanjian bahwa kau akan bercerai setelah kamu sudah melahirkan dan anak itu sudah dapat status jelas itu terserah kamu. Aku menyerahkan semuanya terhadap kamu. Jadi, kita jalani saja pernikahan ini seperti kataku tadi. Kita bisa berakting menjadi suami istri yang baik. Dan mulai sekarang kamu bisa panggil aku Mas."
"Baik Pak Wisnu. Saya paham."
__ADS_1
"Mas, pangil aku Mas mulai sekarang."
Dan entahlah, kata kata Wisnu terasa teduh di hati Miranda.