
Suara pecahan beling itu pun terdengar keras.
"Kau buka kan pintu kamar ini sekarang juga atau aku kan bunuh diri di hadapan mu sekarang juga." ancaman Miranda. Kemudian ia mengarahkan pecahan beling itu ke nadi tangannya.
"Kau pikir aku akan percaya dengan apa yang akan kamu lakukan. Lakukan saja jika kamu mau bunuh diri." ujar Tristan.
Tanpa banyak bicara lagi. Miranda punya akhirnya benar benar melakukan apa yang ia ancam kan pada dirinya sendiri.
Dengan penuh tekat dan tanpa pikir panjang. Miranda kemudian menggoreskan pecahan beling itu ke tangannya.
Dan seketika darah segar langsung mengalir dan tubuh Miranda langsung ambruk terjatuh ke lantai.
Tristan yang tidak habis pikir jika Miranda benar benar akan melakukan itu pun langsung melompat dan meraih tubuh Miranda.
"Bodoh, kamu benar-benar melakukannya." seru Tristan. Dan kini ia justru di buat panic dan bingung.
Tristan kini di buat panik dengan sikap nekat yang di tunjukan oleh Miranda.
Tristan tidak habis pikir, jika wanita yang membuatnya gila itu ternyata benar-benar nekat dan sengaja melukai dirinya sendiri dengan pecahan beling.
Meskipun begitu, Tristan tidak bisa hanya berdiam diri membiarkan wanita itu sekarat.
Atau bahkan mungkin dia bisa mati akibat kehabisan darah.
__ADS_1
"Sial." umpat Tristan.
Dengan gerakan cepat, Tristan memakai kembali pakaiannya.
Dan dengan segera juga ia langsung membopong tubuh Miranda untuk segera di larikan ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Darah yang mengalir dari pergelangan tangan Miranda tidak kunjung berhenti.
Darah itu pun bahkan sampai mengalir ke jok mobil milik Tristan.
"Kalau mau mati jangan di mobil ku." gerutu Tristan. Yang kini makin di buat panik dan juga takut jika Miranda akan meregang nyawa di mobilnya.
Setelah beberapa saat mengemudikan mobilnya sambil mencari rumah sakit terdekat. Akhirnya Tristan sampai di sebuah rumah sakit.
"Tolong lakukan sesuatu untuk nya." ucap Tristan pada seorang perawat yang bertugas di unit UGD kala itu.
Dengan tanggap, beberapa perawat langsung menangani luka di pergelangan tangan Miranda.
"Anda bisa menunggu pasien di luar ya Pak. Kami akan menangani luka pasien yang sepertinya cukup parah." ucap salah seorang perawat.
"Baiklah." jawab Tristan yang kemudian ia keluar dan menunggu di depan unit layanan UGD.
Tristan kini nampak panik berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD.
__ADS_1
Setelah beberapa saat ia menunggu. Seorang perawat mendatanginya.
"Pasien sepertinya banyak mengeluarkan darah. Dan ia saat ini butuh darah."
"Lalu bagaimana?" tanya Tristan tidak sabaran.
"Kami minta persetujuan anda untuk melakukan transfusi darah untuk pasien." ucap perawat itu.
"Apa golongan darah nya." tanya Tristan.
"Golongan darah pasien 0,"
"Kalau begitu ambil darah ku saja. Kalau bisa di ditransfusikan untuk nya." ujar Tristan.
Dan akhirnya, Tristan lah yang mendonorkan darah nya untuk di berikan pada Miranda.
Saat ini, Miranda belum sadar dari pingsannya. Ia masih tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.
Dan di sisinya, Tristan juga nampak tiduran. Karena saat itu ia sedang mentransfusikan darahnya untuk Miranda.
"Kau membuat ku susah. Aku tidak pernah di buat susah seperti ini sebelumnya." ucap Tristan dalam hati. Sambil terus memandangi wajah Miranda yang terlihat pucat tersebut.
"Kenapa kau begitu menggiurkan. Saat kau sekarat pun aku membayangkan bagaimana aku begitu menikmati tubuh mu." batin Tristan.
__ADS_1
"Aku memang brengsek kan. Dan percayalah, kau lah yang membuat aku jadi pria brengsek." ucap lagi Tristan dalam hati.