
Miranda di buat membeku dengan sikap manis Tristan pada anaknya.
Sifat yang begitu berbeda dari sifat penuh arogan yang selalu di perlihatkan Tristan dulu.
Apalagi Jasmine menyebut Tristan Paman. Padahal, Tristan adalah ayah biologisnya.
Tidak mau terlalu menanggapi semua kejadian yang baru saja ia liat di meja makan. Membuat Miranda ingin buru-buru meningalkan ruang makan.
Miranda tidak tahan menyaksikan semua yang terjadi barusan. Miranda tidak terima jika anak nya baik pada Tristan.
Dan akhirnya, Miranda izin berlalu lebih dulu dari meja makan.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Berlalu dari ruang makan. Miranda langsung bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, kilasan-kilasan memory kelam pada malam naas ketika Tristan merenggut kesucian kembali berputar-putar di benaknya.
Sampai-sampai membuat Miranda menutup kedua matanya dengan kedua tangan. Miranda belum bisa melupakan semua kejadian buruk itu. Meskipun saat ini hidupnya sudah berubah.
__ADS_1
Tetap saja, peristiwa itu masih melekat di ingatannya.
Apalagi saat ini anaknya terlihat dekat dengan Tristan dan memanggilnya paman. Padahal Tristan adalah Ayah biologisnya.
Ketika Miranda terduduk termenung di sisi ranjangnya. Wisnu datang menghampiri sang istri.
Wisnu kemudian duduk tepat di samping Miranda.
"Ada apa Miranda?" tanya Wisnu lembut.
"Sepulang dari kantor, untuk sementara aku tidak akan tinggal di sini. Aku tidak bisa berinteraksi dengannya. Aku harap kau mengerti sayang. Aku belum bisa berhadapan dengannya. Untuk sementara aku akan tinggal di rumah ibuku." jelas Miranda pada sang suami.
"Aku tahu ini sangat sulit untukmu Miranda. Tristan memang telah menorehkan luka yang dalam pada dirimu. Karena kamu yang merasakan semuanya. Aku tidak bisa memungkirinya. Baiklah, jika kamu punya keinginan untuk tidak tinggal di sini. Aku akan menyuruh bibi untuk membersihkan apartemen ku. Untuk sementara kita akan tinggal di apartemen itu"
"Aku tidak mau tidak tingal di sana." tolak Miranda.
"Kenap?"
"Dia melakukannya dua kali terhadap ku Wisnu. Pertama di villa, dan kedua di apartemen milik mu. Aku juga tidak bisa tinggal di sana. Maaf." jelas Miranda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Wisnu kemudian meraih pundak Miranda. Membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang. Ini pasti sangat sulit untuk mu. Kalau begitu, aku akan beli rumah baru untuk kita. Bagaimana kalau seusai makan siang. Kita pergi ke agen properti. Kita bisa pilih pilih rumah yang sesuai dengan yang kita inginkan." terang Wisnu.
"Bagaimana dengan Papa dan Mama."
"Aku akan bicara sama Papa dan Mama. Mereka pasti mengerti. Lagipula kita kan sudah punya rumah tangga sendiri. Sebagai seorang suami, aku harus bisa mengambil keputusan. Dan karena kamu adalah istri ku. Aku akan prioritas kamu."
"Terimakasih sayang" Miranda kemudian mengeratkan pelukannya ke tubuh Wisnu.
"Tapi, ada satu hal yang ingin aku bicarakan dengan mu Miranda."
"Tentang apa?" ucap Miranda, kemudian ia memandang wajah Wisnu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ini masih tentang Tristan."
"Miranda, bagaimanapun, Tristan adalah adikku. Adik kandungku. Dia adalah bagian dari keluarga Prawira. Rumah ini adalah tempat tinggalnya. Aku paham dengan apa yang kamu alami di masa lalu. Aku bisa saja mengikuti keinginanmu. Tetapi aku harap, kamu juga bisa berdamai dengan masa lalu mu. Maafkanlah Tristan, maafkan adikku. Lupakan masa itu. Sebagai seorang suami. Aku akan melindungi mu dan akan memastikan keselamatan mu. Aku pikir, Tristan sudah berubah. Dia tidak seperti Tristan yang dulu. Aku harap, kalian justru bisa berdamai." ucap Wisnu berkata dengan lembut pada Miranda.
Karena memang sudah seharusnya Wisnu bisa bijak dalam bersikap. Di satu sisi ia sebagai seorang kakak dari Tristan. Dan di lain sisi ia juga telah menjadi suami Miranda.
__ADS_1
Wisnu paham dengan kondisi mental sang istri yang belum siap berdamai dengan sang adik. Tapi Wisnu pun juga tak bisa membiarkan sang istri selamanya membenci adiknya.