
"Bang, aku pinjam sebentar apartemen mu ya," Ucap Tristan pada Wisnu melalui sambungan telepon.
"Mau apa kamu kesana." Tanya Wisnu menyelidik.
"Aku sedang bosen pulang ke rumah. Aku Ingin menyendiri saja," tukas Tristan dengan nada gusarnya.
"Di sana tidak ada orang. Aku hanya menyuruh seorang Bibik yang datang satu Minggu sekali untuk membersihkan Apartemen. Aku juga jarang ke sana sejak Renata sudah tidak ada." jelas Wisnu pada sang Adik.
"Makanya aku pijem dua atau tiga hari saja bang," Tutur Tristan.
"Asal jangan di gunakan untuk mabok mabokan dan bawa perempuan silahkan saja," Jawab Wisnu.
"Tenang saja bang, terimakasih sebelumnya." ujar Tristan, yang kemudian ia mematikan ponselnya.
Saat ini Tristan sedang berada di mobilnya di tepi jalan. Entah apa yang di lakukan Tristan di sana.
Sambil menajamkan pandangannya pada sebuah tempat. Tristan terlihat sangat fokus memandang lurus ke depan sambil memegangi setir mobilnya.
Di samping nya, di kursi penumpang, beberapa botol minuman beralkohol nampak bergeletakan.
"Harusnya kau sudah keluar, kenapa kamu belum juga keluar." desis Tristan.
"Kau sudah membuat aku gila. Tubuh mu sekarang telah menjadi candu untuk ku. Dan hari ini, kita akan bersenang-senang kembali. Siapa suruh kamu punya tubuh yang indah dan sempurna seperti itu. Bahkan sekarang aku jijik melihat wanita lain selain diri mu. Hal yang aneh yang aku rasakan setelah aku mencicipi tubuh mu Miranda" Desis lagi Tristan dengan mata yang sudah memerah dan sudah dalam kondisi setengah mabuk.
__ADS_1
Tak lama kemudian, wanita yang sudah lama di tunggu tunggu oleh Tristan sedari tadi terlihat sudah keluar dari gerbang tempat ia bekerja.
Dengan segera, Tristan langsung menguntit Miranda dari belakang dengan mobilnya.
Karena Tristan sudah sangat hafal dengan situasi jalanan.
Tristan sudah buat rencana sebelumnya. Ia sudah tau spot mana yang terlihat lengang pada jalanan yang akan di lalui oleh Miranda.
Dan di waktu yang tepat. Pada saat kondisi jalan sepi dari pengendera lainnya.
Tristan melajukan mobilnya mendahului Miranda yang saat itu tengah mengedarai motornya.
Tristan kemudian menghentikan mobilnya secara mendadak tepat di depan Miranda yang saat itu masih berada di atas motornya.
Tristan kemudian langsung bergegas keluar dari dalam mobilnya.
Ia langsung berjalan ke arah Miranda yang saat itu tergeletak di jalanan bersama dengan motor nya.
"Kau, kau lagi! Kau sengaja ya membuat aku celaka!" pekik Miranda. Menatap kearah Tristan dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan.
Bukannya langsung menolong Miranda yang saat itu sedang jatuh. Tristan kini malah berjongkok ke arah Miranda, seraya menatap wajah wanita yang sudah membuatnya berhasrat itu dengan tatapan mata nyalang.
"Kau memang cantik." Desis Tristan.
__ADS_1
"Ba ji ngan kamu!" Teriak Miranda, yang kemudian ia berusaha untuk bangkit.
Dan tanpa ingin membuang waktu lagi. Tristan langsung mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.
Dan ia pun segera membekap mulut Miranda sedang sapu tangan yang sudah ia bubuhi dengan cairan biusan.
Tubuh Miranda seketika lunglai tak berdaya.
Setelah membuat Miranda pingsan. Tristan dengan segera langsung meraup tubuh Miranda dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Bahkan Tristan tak memperdulikan motor Miranda yang tergeletak di tengah tengah jalan kala itu.
Yang ada di otak Tristan saat itu hanyalah ia ingin kembali mengulang perbuatannya pada Miranda seperti saat di Villa.
Mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tristan langsung mengarahkan mobilnya menuju apartemen milik sang kakak.
Setibanya di gedung Apartemen, Tristan langsung membopong tubuh Miranda menuju unit Apartemen milik Wisnu.
Tristan langsung membawa Miranda ke kamar tamu. Dan ia langsung merebahkan tubuh Miranda di atas tempat tidur.
Dengan kondisi rok Miranda yang tersingkap dan menampilkan paha mulus Miranda. Hal ini semakin membuat Tristan makin panas.
Senyum jahat Tristan terukir sempurna.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan hidup mu. Aku tidak peduli dengan semuanya. Yang aku mau hanya tumbuh mu. Mari kita bersenang senang, Miranda." desis Tristan yang kemudian melangkah mendekat Miranda yang masih tak sadarkan diri itu.