
"Sayang, bisa tolong rapi kan dasi ku!" seru Wisnu minta tolong pada sang istri Miranda. Yang kala itu Miranda sendiri juga tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Tentu saja." Miranda kemudian meletakkan hairdryer yang saat itu ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Dengan luwes, Miranda memakaikan dasi ke lehernya sang suami Wisnu.
"Wajah mu makin cantik saja." puji Wisnu pada Miranda, saat ia masih sibuk menalikan dasi ke leher Wisnu.
"Masih pagi sayang, jangan mengombal. Aku tau, sebenarnya kamu bisa lakukan ini sendiri. Bilang saja kamu sedang manja." tuduh Miranda.
"Sah sah saja kan curi perhatian dari istri." timpal Wisnu.
"Setelah ini kita sarapan di meja makan ya." Mendengar ajakan itu, langsung membuat wajah Miranda seketika muram.
"Aku tidak ikut sarapan lah di meja makan."
"Kenapa?"
"Ada dia." jawab Miranda singkat.
"Tidak enak dengan Papa dan Mama sayang. Mama saat ini tengah berbahagia dengan kembalinya Tristan. Kita juga kan sudah dua Minggu pergi. Masa kita mau berlalu begitu saja tanpa sarapan dulu bersama mereka. Kamu tenang saja. Ada aku."
Tak enak hati melawan suami. Miranda pun menurut.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi itu terjadi sedikit ketegangan di meja makan. Ketika seluruh anggota keluarga Prawira sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan.
__ADS_1
Miranda duduk di samping Wisnu, Prawira seperti biasa duduk di kursi kebesarannya.
Sedangkan Aminah duduk bersebelahan dengan Tristan.
Atmosfer keheningan dan ketegangan menyelimuti suasana di meja makan kala itu.
Miranda sebenarnya tidak ingin duduk di meja makan pagi itu. Tapi ia tidak enak hati terhadap kedua mertuanya.
Tristan lah seseorang yang sangat ingin ia hindari.
Tapi bagaimanapun, Miranda tidak akan bisa terus-menerus menghindar dari Tristan. Karena Tristan sendiri adalah bagian dari keluarganya saat ini. Tristan kini sudah menjadi iparnya.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, dengan pandangan wajah tertunduk fokus pada makanannya. Miranda ingin sesegera mungkin menyelesaikan sarapannya dan pergi.
Paham dengan apa yang di rasakan oleh menantunya. Aminah mengajak cucunya Jasmine mengobrol. Untuk mencairkan suasana.
Prawira membicarakan masalah pekerjaan pada Wisnu. Saat Prawira juga mengajak Miranda bicara. Miranda hanya menjawab hal hal yang penting yang telah di tanyakan sang papa mertua.
Miranda saat ini menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan milik mertua nya.
Miranda benar benar tidak sedikitpun menatap wajah Tristan yang kala itu duduk di sebrang meja dekat sang Mama mertua.
Tristan sendiri hanya bisa diam membeku di tempatnya tanpa ingin ikut larut dalam percakapan yang sedang berlangsung ketika itu di meja makan.
"Paman aku ingin roti itu." Ucap Jasmine pada Tristan. Sambil menunjuk ke arah roti tawar yang ada di atas meja
"Bisakah Paman tolong oleskan selai nya juga?" pinta Jasmine berbicara dengan nada cadel pada Tristan.
__ADS_1
"Tentu saja. Mau selai apa?" tanya Tristan lembut.
"Aku mau selai cokelat Paman." jawab Jasmine.
"Oke, Paman buatkan ya." jawab Tristan ramah sambil tersenyum.
Tristan kemudian mengambil selembar roti tawar dari piring. Lalu ia mengolesi lembaran roti itu dengan selai yang diinginkan oleh Jasmine.
Setelah jadi, Tristan memberikan roti itu ke piring Jasmine.
"Terima kasih Paman Tristan." jawab Jasmine dengan begitu girangnya.
"Sama sama sayang." jawab Tristan lembut penuh kasih.
Semua yang ada di meja makan kala itu pun tercengang dengan sikap Tristan pada Jasmine. Terlebih Miranda.
Miranda di buat membeku dengan sikap manis Tristan pada anaknya.
Sifat yang begitu berbeda dari sifat penuh arogan yang selalu di perlihatkan Tristan dulu.
Apalagi Jasmine menyebut Tristan Paman. Padahal, Tristan adalah ayah biologisnya.
Tidak mau terlalu menanggapi semua kejadian yang baru saja ia liat di meja makan. Membuat Miranda ingin buru-buru meningalkan ruang makan.
Miranda tidak tahan menyaksikan semua yang terjadi barusan. Miranda tidak terima jika anak nya baik pada Tristan.
Dan akhirnya, Miranda izin berlalu lebih dulu dari meja makan.
__ADS_1