Suami Pengganti Untuk Miranda

Suami Pengganti Untuk Miranda
bertemu kembali


__ADS_3

Mata Miranda terbelalak kaget ketika melihat seorang pria yang sudah ia kenal tengah duduk di sebelah putrinya di meja makan malam itu.


Malam itu Miranda dan Wisnu baru saja pulang dari liburannya ke luar negeri.


Begitu mereka masuk ke dalam rumah. Langkah Miranda terhenti beberapa meter dari meja makan dan membeku di sana.


Siapa lagi jika bukan Tristan yang membuat Miranda kaget.


"Tristan!" seru Wisnu.


Sedangkan Prawira, Aminah, Tristan dan juga Jasmine yang ketika itu tengah menikmati makan malam. Melayangkan pandangan mereka kearah Wisnu dan Miranda yang baru saja datang.


"Mama." seru Jasmine, kemudian Jasmine berinsut dari tempat duduknya, berlari ke arah Miranda.


Miranda pun langsung menyambut kedatangan sang putri dengan senyum merekah.


"Mama aku kangen sama Mama." celoteh Jasmine.


"Mama juga kangen." Miranda kemudian memeluk Jasmine dengan pelukan kangen.


"Bagaimana jika kita ke kamar dulu. Mama ada sesuatu untuk Jasmine." tutur Miranda pada putrinya.

__ADS_1


"Ayo!" seru Jasmine.


"Mas Wisnu, aku ke kamar dulu ya." ucap Miranda beralasan. Sebenarnya ia hanyalah ingin menghindari Tristan.


Paham dengan situasi yang terjadi. Wisnu membiarkan Miranda untuk ke kamar dengan Jasmine.


"Ma, Pa, Miranda ke kamar dulu ya." ucap Miranda yang menyapa kedua mertuanya terlebih dahulu.


"Iya Mir, istirahatlah." jawab Aminah paham.


Setelah Miranda pergi, Wisnu kemudian melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dan ia langsung memeluk Tristan.


"Kamu kemana saja anak bandel." gurau Wisnu.


Untuk sejenak, mereka melanjutkan acara makan malam mereka sambil mengobrol. Membicarakan hal hal ringan tentang hubungan kekeluargaan mereka.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Seusai makan malam. Wisnu mengajak Tristan untuk mengontrol santai di teras rumah.


"Kamu selama ini kemana saja Tristan? Hampir tiga tahun kamu pergi. Abang mencari mu tapi kamu sepertinya sengaja menghilang. Memangnya kamu tidak butuh uang." tandas Wisnu.

__ADS_1


"Aku memang sengaja menghilang Bang. Aku kan orang yang pengecut." tukas Tristan, menghina dirinya sendiri.


"Sudahlah, lupakan saja semua masa lalu. Aku mengambil alih tagung jawab itu Tristan. Aku dan Miranda melanjutkan pernikahan itu. Kami saling mencintai sekarang. Kami menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Awalnya kami tidak yakin. Tapi kami sama sama belajar."


"Selamat Bang. Semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu bahagia. Aku ikuti bahagia. Tapi, sepertinya Miranda masih membenci ku."


"Dia perlu waktu untuk melupakan semua memory buruknya." terang Wisnu.


Untuk beberapa saat, Wisnu dan Tristan saling diam. Seolah-olah sedang berfikir.


"Tristan, sepertinya kamu banyak berubah." Mendengar itu, Tristan nampak menghela nafas berat. Kemudian ia menatap wajah sang kakak.


"Banyak yang terjadi pada diri ku selama tiga tahun ini Bang." terang Tristan.


"Jika itu perubahan baik, itu sebuah kemajuan Tristan. Aku yakin, Papa pasti akan memberikan mu jabatan penting seperti yang kamu idam idamkan dulu di perusahaan."


"Tidak Bang, ini bukan tentang hal itu. Aku telah menyadari hidup ku penuh dengan kesalahan dan dosa sebelumnya. Aku sudah tidak mempermasalahkan soal jabatan. Aku hanya ingin hidup normal tanpa beban. Aku punya banyak dosa pada kalian semua. Termasuk pada Miranda. Dan aku ingin memperbaiki itu semua. Sebelum aku, sebelum aku......" Tristan nampak mengurungkan melanjutkan perkataannya.


"Sebelum kamu apa?" sergah Wisnu curiga.


"Tidak apa apa Bang."

__ADS_1


"Jujurlah pada ku Tristan, jujurlah pada Abang seperti biasanya. Papa dan Mama pasti sudah memaafkan mu. Bagaimanapun, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Jika untuk Miranda, aku yakin. Dia pasti akan memaafkan mu."


"Dia tidak perlu terpaksa memaafkan ku. Biarkan saja hukum Tuhan menghukum ku. Atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada Miranda. Aku pantas menerimanya."


__ADS_2