Suami Pengganti Untuk Miranda

Suami Pengganti Untuk Miranda
Menutut Keadilan


__ADS_3

Malam itu, di kediaman rumah Tristan. Sang pemilik rumah, Prawira Adiyaksa dan keluarganya sedang menikmati malam bersama.


Semua telah duduk di kursinya masing-masing. Wisnu dan Tristan tampak duduk bersampingan


Di tengah-tengah mereka sedang menikmati makan malam. Seorang art datang dan memberi tahu pada sang pemilik rumah. Jika mereka kedatangan seorang tamu.


"Maaf Pak, di luar ada tamu. Dia mencari Den Tristan." Ujar art tersebut.


Mendengar namanya di sebut. Tristan langsung menoleh ke arah sang art.


"Mencari aku, siapa memangnya?" Tristan pun kini jadi penasaran.


"Maaf den, saya lupa menanyakan namanya." tutur sang art.


Karena merasa begitu penasaran, Tristan langsung berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan ke arah ruang tamu.


"Tristan, selesaikan dulu makan malam mu." Seru sang ibu.


"Nanti saja Ma." jawab Tristan, yang kemudian terus berjalan menuju ruang tamu.


"Tamunya masih di luar Den. Saya suruh masuk dulu ya." Tutur art tersebut.


"Tidak usaha Bik, biar aku yang menemui nya." ujar Tristan, kemudian ia berjalan menuju pintu di ruang tamu.


Dan, saat ia membuka pintu rumahnya. Tristan di buat kaget dengan kedatangan Miranda di rumahnya.


Tristan membatin, dari mana wanita itu bisa tau alamat rumahnya.


Wanita yang sudah ia kenal itu berdiri mematung dan melayangkan pandangan tajam ke arah Tristan. Dan di sampingnya, Ayah juga terlihat menatap wajah Tristan dengan pandangan tidak suka.

__ADS_1


Bukannya menyuruh Miranda dan ayahnya masuk. Tristan justru menutup kembali pintu rumahnya.


Kemudian ia berjalan ke arah Miranda dengan tatapan mata penuh keterkejutan.


"Kamu, ngapain kamu ke sini. Tau dari mana alamat rumah ku?" Tanya Tristan dengan nada suara ketus.


Pak Hadi, Ayahnya Miranda yang melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana sikap Tristan yang arogan langsung terbawa emosi.


"Apa kabar Tristan. Syukurlah, jika kamu tidak hilang ingatan tentang aku." ucap Miranda, dan ia sengaja memasang wajah penuh keberanian. Karena bagi Miranda, Tristan harus di hadapi dengan sikap berani, bukan dengan sikap lemah.


"Tidak usah banyak basa-basi. Ngapain kamu kemari?" Tanya Tristan lagi dengan nada ketus.


"Dasar anak kurang ajar." ucap ayah Miranda. Yang kemudian ia langsung melepaskan satu pukulan ke wajah Tristan.


Tristan yang mendapatkan pukulan secara tiba-tiba itu langsung terhuyung kebelakang serta kaget.


Sambil memegangi rahangnya yang terkenal pukulan keras tangan Pak Hadi. Tristan melayangkan pandangan ke arah ayah Miranda dengan tatapan mata tajam.


"Dasar anak brengsek." seru ayah Miranda dengan suara lantang.


"Ayah, kendalikan emosi ayah. Kita ke sini untuk menuntut keadilan." Ucap Miranda, mencoba untuk menenangkan ayahnya.


"Pantas saja dia memperlakukan kamu seperti bintang. Sikapnya saja tidak sopan dengan orang tua." Tutur Ayah Miranda.


Dari dalam rumah. Prawira, Wisnu dan juga Bu Aminah yang mendengar suara ribut-ribut itu kemudian bergegas meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju teras.


"Ada apa ini?" seru Prawira. Yang terkejut saat melihat anak laki-lakinya Tristan, nampak berdarah di bagian sudut bibirnya.


Tristan tak menjawab. Ia kini merintih kesakitan menahan rahang nya yang di pukul oleh ayah Miranda.

__ADS_1


Wisnu yang kebetulan telah kenal dengan Miranda kemudian menyapa Miranda.


"Miranda." pangil Wisnu.


Melihat sesuatu yang tidak beres dan membuat sang pemilik rumah Prawira bingung. Ia kemudian mempersilahkan Miranda dengan Ayahnya untuk masuk dulu kedalam. Agar semua bisa jelas.


Miranda dan juga Pak Hadi pun masuk ke dalam rumah.


Kini mereka semua telah berada di ruang tamu.


Prawira duduk di sebelah sang istri. Wisnu duduk di sebelah Tristan.


Tristan kini hanya bisa menunduk. Sesekali ia melayangkan pandangannya yang tajam ke arah Miranda. Dan menatap Miranda dengan tatapan menyeringai.


Sedangkan Miranda sendiri duduk di samping ayahnya.


"Maaf sebelumnya, boleh tau kalian ini siapa?" tanya Prawira membuka pembicaraan.


Ayah Miranda, Pak Hadi, kemudian menatap Prawira.


"Saya Hadi, Ayahnya Miranda. Dan ini putri pertama saya Miranda." jawab Pak Hadi memperkenalkan diri.


"Baik, Pak Hadi, boleh saya tau ada apa dan ada tujuan apa Bapak kerumah saya?" Tanya lagi Prawira.


"Kedatangan saya dan anak saya kemari untuk menuntut keadilan." Ujar Pak Hadi.


"Keadilan? Keadilan apa?" Tanya Prawira bingung.


"Anak laki laki anda. Yang bernama Tristan. Telah memperkosa anak perempuan saya Miranda." jawab Pak Hadi to the point.

__ADS_1


Dan hal itu sontak membuat keluarga Tristan kaget.


__ADS_2