
Rencana bulan madu yang sudah tersusun rapi oleh Wisnu beberapa bulan lalu akhirnya tidak jadi Wisnu dan Miranda lakukan.
Karena tiba-tiba saat itu Prawira papanya Wisnu kembali di rawat karena terkena serangan jantung.
Hal ini membuat Wisnu dan Miranda akhirnya mengurung niatnya untuk pergi ke Eropa.
Barulah setelah 8 bulan kemudian, akhirnya Wisnu dan Miranda bisa merealisasikan rencana mereka. Tertunda lama karena baik Wisnu dan Miranda tidak enak hati pergi liburan dalam keadaan sang Papa sakit. Belum lagi tugas tugas perusahaan yang banyak yang harus Wisnu dan Miranda urus.
Setelah 8 bulan menunda, barulah kini mereka bisa pergi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ma, memangnya Mama sama Papa mau pergi kemana? Kenapa Jasmine di tinggal?" tanya Jasmine dengan bahasa cadelnya.
Kini Jasmine telah berusia kurang lebih dua tahun. Jasmine sudah biasa berbicara walau belum banyak kata kata yang ia pahami.
"Mama tidak pergi lama Sayang. Jasmine sementara sama Oma dan Opa ya. Minggu selanjutnya, Jasmine bisa main kerumah Eyang dan Kakung." Ujar Miranda yang pada malam itu ia berpamitan dengan sang putri.
__ADS_1
"Jasmine yang pintar ya. Dan jangan nakal. Mama tau Jasmine anak pinter." puji Miranda pada Jasmine.
"Tapi Mama janji nggak lama ya Ma." ucap Jasmine lagi.
"Iya, Mama nggak lama. Ayo, Mama bacakan cerita. Jasmine pilih, buku cerita apa yang ingin Jasmine Mama bacakan." kemudian Jasmine berinsut dari tempat tidur dan berjalan ke arah meja di sudut kamarnya.
Ia kemudian mengambil satu buah buku cerita dan kemudian ia memberikan buku itu pada sang Mama.
Sambil bersandar pada headboard tempat tidur. Miranda menceritakan sang anak perempuannya buku cerita. Sebagai pengantar tidur yang selalu Miranda lakukan setiap malam pada Jasmine.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mir, ko wajahnya sedih gitu. Kenapa?" Tanya Wisnu pada Miranda ketika mereka masih dalam perjalanan menuju bandara.
"Aku kepikiran Jasmine." jawab Miranda dengan raut wajah cemas.
Tau jika sang istri memang mengkhawatirkan anaknya. Wisnu kemudian meraih tangan Miranda.
__ADS_1
"Aku kagum pada mu Miranda. Meskipun kau seorang wanita karier. Kamu selalu ada waktu dan dekat dengan Jasmine. Kau tau, dulu, almarhum istri ku Renata, sebenarnya tengah mengandung anak kami di saat ia meningal. Seharusnya sekarang aku sudah jadi seorang Ayah. Tapi karena takdir. Kesempatan itu tidak jadi aku rasakan. Tapi, keberadaan Jasmine, meskipun dia bukan darah daging ku. Aku sangat menyayanginya. Diakan anak dari adik ku sendiri, Tristan."
"Stop." Sela Miranda.
"Stop, jangan bahas dia. Dia seorang pengecut." Jawab Miranda dengan nada getir.
"Maaf sayang." ucap Wisnu, yang menyadari jika Miranda sampai kini belum memaafkan Tristan.
"Jasmine tidak perlu tau siapa ayah biologisnya yang sebenarnya. Ia hanya perlu tau, kau lah Papanya. Meskipun Mas Wisnu bukan ayah biologis Jasmine. Tapi jaminan adalah keponakan Mas Wisnu. Kalian masih ada ikatan darah kekeluargaan. Aku ingin, Jasmine tau jika papanya itu ada Mas Wisnu, bukan orang lain. Walaupun begitu, nasab Jasmine juga telah bernasab dari keluarga ku bukan dari keluarga Mas Wisnu. Aku harus bisa menjaga mental Jasmine. Agar kedepannya dia tidak bigung."
"Iya, aku paham. Tapi bagaimanapun, Tristan tetap lah adik ku. Kapan saja dia bisa kembali dan ia bisa melihat Jasmine. Aku tidak tau bagaimana reaksinya nanti."
"Dia orang yang tidak punya perasaan Mas. Dia saja dari awal sudah tidak mengakui bahwa Jasmine anak nya. Bila mungkin dia kembali. Yang ada dia hanya akan benci dengan anak ku. Sudah ya Mas, jangan rusak mood ku untuk mengingat betapa bejat nya dia." Ujar miranda, yang kadang memang masih tertawa emosi jika membahas soal Tristan.
"Ya sudah tidak usah membahas Tristan. Maaf ya." ucap Wisnu seraya mengelus pundak miranda.
"Jika seumpama dia kembali. Aku ingin kita tidak tinggal di rumah besar Mas. Aku ingin kita pindah ke apartemen atau kemana saja. Asal tidak di rumah. Aku tidak bisa serumah dengan nya jika misalnya suatu saat ia pulang." ucap Miranda tegas.
__ADS_1
"Ia, aku paham. Hal itu bisa kita bicarakan nanti. Lagi pula sampai detik ini Mas juga belum tahu dimana dia dan bagaimana nasibnya. Sejak kepergian dia dua tahun lalu. Dia benar-benar menghilang. Aku sudah berusaha untuk mencarinya tapi hasilnya masih nihil. Mas hanya kasian sama Mama. Karena ia kepikiran Tristan terus." jawab Wisnu bijak.