
Malam itu, Miranda sama sekali tidak bisa tidur. Ia sudah mencari posisi yang nyaman untuk tidur tapi ia tidak bisa merasakan kenyamanan saat ia hendak beristirahat malam itu.
Sedangkan Wisnu yang sedang lembur kerja di ruang kerjanya juga belum kembali ke kamar.
"Miranda, aku minta maaf. Aku tahu kamu sangat membenciku. Aku juga tidak memaksa mu untuk memaafkan diriku. Aku salah dan sangat berdosa pada mu. Meskipun seumur hidup kamu tidak mau memaafkan aku tidak apa apa. Tapi aku tetap akan minta maaf selalu dengan mu. Dan hari ini, dengan segala kerendahan hati dan penyesalan ku. Aku minta maaf kepada mu Miranda. Maafkanlah semua perbuatan ku yang pernah menyakiti mu di masa lalu. Aku menyesal dan menyadarinya. Dan aku berpesan pada mu Miranda. Jangan pernah katakan aku adalah ayah biologis Jasmine. Jangan pernah beri tau dia jika akulah sebenarnya ayahnya. Ia tidak boleh tahu aku adalah ayahnya yang sebenarnya. Yang harus Jasmine tau ayahnya adalah Wisnu. Aku doakan kehidupan rumah tangga mu dan Bang Wisnu selalu bahagia. Aku tidak akan pernah pulang lagi ke rumah. Berbahagialah hidup bersama abang. Dia orang yang baik dan sangat bertanggung jawab. Kau pasti akan bahagia bersamanya. Hanya itu yang ingin aku sampaikan dengan mu. Selamat tinggal Miranda, sekali lagi. Aku minta maaf." ujar Tristan, kemudian ia membungkuk dan setelah itu ia pergi.
Kata kata yang di ucapkan Tristan siang tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.
Bagaimana Tristan sampai bisa berkata kata seperti itu.
Perasaan Miranda semakin tidak enak.
Karena ia tidak bisa tidur malam itu. Miranda kemudian bangkit dari tidurannya dan kemudian ia memakai jubah gaun malamnya.
Berjalan mendekati pintu kamar. Miranda ingin menengok putrinya Jasmine di kamarnya.
Membuka pintu kamar sang putri dengan perlahan. Miranda kemudian masuk dan berjalan ke arah ranjang Jasmine yang kala itu ia sudah tertidur pulas di sana.
Duduk tepat di sisi rajang. Miranda nampak memperhatikan wajah sang putri yang jika di perhatikan dengan seksama. Jasmine sangatlah mirip sekali dengan Tristan.
__ADS_1
Tentu saja kau sangat mirip dengannya, karena dia adalah Papa mu yang sebenarnya Jasmine.
Sergah Miranda dalam hati.
"Kau diam! Jangan banyak omong. Aku akan membayar mu mahal setelah kita bersenang-senang."
"Aku bukan wanita murahan brengsek!"
"Berteriak lah sebisa mu. Kamar ini kedap suara, tidak ada yang bisa mendengar mu."
Kata kata kasar itulah awal mula percakapan sengit antara dirinya dan Tristan. Memory itu kembali Miranda ingat. Sesaat sebelum Tristan mem per ko sanya.
Tidak hanya melakukannya sekali. Tristan melakukan dua kali pemaksaan itu terhadap Miranda. Sampai pada akhirnya benih yang di tabur oleh Tristan tubuh menjadi janin dan kini janin itu telah lahir dan sudah berusia 2 tahun lebih.
"Miranda." panggil Wisnu, yang saat itu sudah ada di dekat Miranda.
"Kau sudah selesai lemburnya?" tanya Miranda, sambil menoleh ke arah Wisnu yang menyusulnya di kamar Jasmine.
"Aku sudah selesai. Tadi aku sudah ke kamar. Tapi kamu tidak ada."
__ADS_1
"Aku memeriksa Jasmine."
"Dia terlihat pulas sekali tidurnya. Ayo kita ke kamar. Aku sudah mengantuk." ajak Wisnu.
"Oke." Miranda kemudian melabuhkan satu kecupan manis ke pipi Jasmine.
"Good night sayang."
Sambil merangkul Miranda. Wisnu mengajak sang istri untuk pergi ke kamar mereka sendiri.
Saat Wisnu baru saja menutup pintu kamar Jasmine. Wisnu yang pada saat itu sedang berhasrat tinggi dengan Miranda. Merasa gemas dengan wanita yang saat ini sangat ia cintai itu.
Sampai sampai Wisnu tidak tau tempat saat dirinya sudah mendorong tubuh Miranda ke dinding dan menghimpitnya.
Tanpa aba aba, Wisnu langsung melabuhkan bibirnya ke bibir Miranda.
Mendapat ciuman posesif dan mendadak yang di lakukan oleh Wisnu. Membuat Miranda ingin mendorong tubuh Wisnu. Karena saat itu Wisnu tengah berhasrat tinggi. Sehingga dorongan Miranda sepertinya tidak di rasa oleh Wisnu.
"Hemmmmmmm."
__ADS_1
Begitu mendengar suara deheman dari arah anak tangga. Wisnu langsung menarik bibirnya dari bibir Miranda.
"Tristan!" seru Wisnu kaget.