
"Mbak di depan ada motor baru tuh, pengirimnya orang yang kemarin mengantar Mbak Mirna pulang pas Mbak jatuh." ujar Tari adik bungsu Miranda, ketika ia berpapasan dengan sang kakak di dapur selepas ia baru saja mandi.
"Motor baru?" Pikir Mirna bigung.
"Jangan lupa untuk berterima kasih pada orang yang sudah kasih motor baru untuk Mbak. Motor nya bagus Lo Mbak. Nanti aku pinjam ya." celoteh Tari sambil meringis, sebelum ia masuk kembali ke kamarnya.
Sambil mengusap rambu panjangnya yang masih basah. Miranda langsung bergegas ke teras rumahnya untuk melihat apa yang tadi sang adik ucapkan.
Dan benar ternyata, satu unit sepeda motor baru terpampang di teras. Bersebelahan dengan motor bututnya yang sepertinya juga sudah di perbaiki.
"Bu, ini motor baru dari siapa?" tanya Miranda pada Ibunya.
"Kata Pak Risky, motor baru itu untuk mu. Dari Pak Wisnu yang kemarin mengantar mu pulang. Motor lama mu juga sudah di perbaiki, dan sudah di ganti baru beberapa onderdilnya yang rusak." jelas Bu Ratna.
"Kenapa ibu terima motor itu. Kembalikan saja Bu motornya. Aku tidak ingin kita malah berhutang budi sama dia. Lagian motor lama ku juga masih layak pakai." jelas Miranda, merasa tidak enak untuk menerima motor baru pemberian Wisnu. Karena motor bututnya sudah di perbaiki.
"Ya itu terserang kamu Nak, kan kamu yang bersangkutan dengannya. Oya, Pak Risky menitip kan ini." Bu Ratna memberikan sebuah kartu nama pada Miranda.
__ADS_1
Miranda lalu meraih kartu nama tersebut.
"Memangnya kapan motor itu diantar Bu?" Tanya Miranda.
"Tadi siang," jawab Bu Ratna sambil merapikan beberapa dagangannya di etalase.
"Jangan lupa menghubungi Nak Wisnu Mir. Kalau kamu mau kembalikan motor itu ya terserah kamu" Imbuh Bu Ratna.
"Iya, nanti Meira akan menghubunginya. Meira siap siap dulu ya Bu, takut nanti telat pergi bekerja." tukas Miranda yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah dan bersiap siap untuk bekerja.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dari rumah ke tempat bekerja.
Miranda kemudian langsung melakukan absensi kehadiran.
Dan seperti biasa, ia langsung bersiap untuk menjalankan segala tugas dan rutinitasnya.
"Mir." seseorang manggil Miranda.
__ADS_1
Dan hal itu membuat Miranda terlonjak kaget.
Pasalnya saat itu Miranda tengah fokus membersihkan meja meeting room yang akan di gunakan esok hari.
"Yoga, kamu, ngagetin orang aj." Desis Miranda pada teman prianya yang sudah akrab dengan dirinya itu.
Bersama Yoga, Mirna berada dalam satu tim dalam menjalankan tugasnya sebagai housekeeping di villa.
"Kau yang apa apa an Mir, di sapa gitu aj sudah kaget." balas Yoga.
"Kamu akhir-akhir ini kenapa sih Mir, aku perhatikan kamu ini sering banget melamun dan seperti memendam sesuatu." tebak Yoga.
Yoga bukan hanya sekedar teman kerja Miranda. Tapi Pria 24 tahun itu juga merupakan teman sekolah serta teman seperjuangan saat ia melamar pekerjaan di Villa tersebut.
"Aku tidak kenapa napa Ga, biasalah. Kamu kan tau keadaan keuangan keluarga ku. Bapak sakit sakitan, dua adik ku masih sekolah dan aku harus membantu keuangan keluarga. Jika aku melamun, aku hanya memikirkan mereka." jelas Miranda mencoba untuk tetap menutupi masalah pribadinya.
Sebenarnya, Miranda sedang berfikir untuk mencari tau identitas Pria yang sudah merenggut mahkotanya pada malam naas itu.
__ADS_1
Hanya saja dia tidak tau harus melakukan apa dan minta bantuan siapa untuk bisa lebih dalam mengungkap identitas Pria tersebut.
Meskipun ia sudah tau nama Pria brengsek itu.