
"Ris, tolong keruangan ku sebentar." ujar Wisnu memangil asisten pribadinya untuk datang menghadap nya ke ruang kerjanya.
Dan tak lama Risky, sang asisten pribadi Wisnu datang.
"Ada apa Pak? Pak Wisnu memangil saya?" tanya Risky begitu ia telah berada di ruang kerja Wisnu.
"Tolong kau beli satu unit sepeda motor yang biasanya di pakai oleh cewek. Aku ingin kamu beli cash motor itu dan langsung kirim ke alamat ini." ujar Wisnu yang kemudian memberikan alamat rumah Miranda.
"Hari ini Pak?"
"Iya, hari ini. Langsung kirim ke alamat ini ya. Dan surat surat nya jangan lupa untuk di urus juga." titah Wisnu.
"Laksanakan Pak," jawab Risky sang asisten.
"Bagaimana dengan motor yang tempo hari di perbaiki. Apa sudah bisa di kembalikan." tanya lagi Wisnu.
"Sepertinya sudah Pak, nanti sekalian akan saya urus."
"Bagus, semua biaya perbaikan motor dan harga motor baru nya nanti langsung kirim ke nomor ku saja. Semuanya akan aku transfer." ujar Wisnu.
"Siap Pak, saya akan urus semua."
Saat Risky undur diri dari hadapan Wisnu, di waktu yang sama Tristan datang. Dan seperti biasa ia langsung duduk di sofa pajang yang ada di ruang kerja Wisnu.
Dari tempat ia duduk, Wisnu melirik ke arah sang adik.
"Ada apa Tristan," tanya Wisnu sambil mengecek file demi file yang ia sedang pelajari.
"Aku ingin minta cuti kerja Bang," ujar Tristan.
"Izin cuti untuk apa?" tanya Wisnu penasaran.
"Ya izin saja. Aku butuh liburan." jawab Tristan dengan nada gusar.
"Jangan minta izin pada ku Tristan. Minta izinlah sama Papa." Jawab Wisnu
"Aku kan bekerja untuk mu, ini perusahaan milik mu Bang,"
__ADS_1
"Aku hanya menjabat sebagai direktur. Semua urusan di perusahaan ini tetap masih Papa yang pegang kendali. Aku hanya melaksanakan tugas perusahaan dan hanya memegang 50 persen saham di perusahaan ini Tristan." tutur Wisnu.
"Bulsit," jawab Tristan ketus.
"Jaga mulut mu Tristan." Ucap Wisnu sedikit bernada tinggi.
"Enak ya Abang, lulus kuliah langsung di beri jabatan di perusahaan sama Papa." ujar Tristan dengan ketus.
"Kamu tidak tau saja Tristan. Awal awal Abang kerja di perusahaan ini juga berawal menjadi karyawan seperti kamu."
"Tapi Abang sekarang menjabat sebagai direktur."
"Abang juga melaluinya dengan tidak instan Tristan. Kamu ini kaya tidak tau Papa saja. Papa itu orang memang keras. Tidak hanya sama kamu saja. Tapi juga sama Abang dan Shalimar."
"Papa pilih kasih, aku juga tidak tau kenapa. Papa membedakan aku. Sedangkan Abang dan Kak Shalimar saat ini sudah memegang perusahaan satu satu." ucap Tristan masih ngotot. Dan hal itu membuat kepala Wisnu terasa pening.
"Sudahlah Tristan, tidak ada gunanya protes sama Abang. Aku hanya punya 50 persen saham di perusahaan ini. Aku masih bekerja untuk Papa. Walau kamu bekerja di perusahaan ini dengan berstatus sebagai karyawan. Kamu sudah mendapatkan banyak fasilitas kan. Mobil mewah, tunjangan bulanan, gaji. Apa lagi Tristan."
"Sudahlah, percuma ngomong sama Abang." cicit Tristan yang kemudian bangkit dari sofa dan hendak pergi.
"Tunggu." tahan Wisnu.
"Bekerjalah dengan serius dan giat. Papa ingin melihat mu sungguh sungguh dalam bekerja. Papa ingin kamu berubah, jangan suka main perempuan. Jangan suka mabuk, rubah lah gaya hidup mu. Aku yakin, Papa akan mempercayakan salah satu perusahan nya kepada diri mu. Papa hanya ingin perusahaan yang sudah dia rintis di kelola dengan baik dan benar. Tidak hanya sekadar untuk berfoya-foya. Di balik kerasnya watak Papa, Papa itu sebenarnya sayang sama kamu."
"Aku masih muda, aku masih ingin bersenang-senang. Aku tidak mau hidup ku di atur atur. Sampai urusan jodoh pun juga di atur sama Papa. Kaya Abang dan Kak Shalimar. Mau nikah saja harus sama anak kenalan Papa. Kalau aku tidak mau." ucap Tristan dengan pongahnya.
"Jangan samakan aku dengan Abang atau Papa yang hidupnya terlalu monoton, kerja dan kerja. Hampir tak pernah meluangkan waktu untuk diri sendiri. Papa juga tidak adil dengan anak anak nya. Dan aku merasa di bedakan sendiri sebagai anak."
"Itu hanya perasaan mu saja Tristan." sanggah Wisnu.
"Tidak apalah aku tidak punya jabatan di perusahaan milik keluarga. Aku bisa cari uang lebih dengan cara ku sendiri. Aku akan buktikan sama Papa aku bisa buat perusahaan sendiri dan tidak hidup di bawah kendali Papa." ucap Tristan yang kemudian langsung bergegas pergi meninggalkan ruang kerja sang Kakak.
Wisnu hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan sang adik.
Dan malam itu, di sebuah club malam. Tristan seperti biasa menghabiskan waktunya bersama beberapa wanita penghibur dan mabuk mabukan.
Jika pikirannya sedang kacau. Biasanya Tristan akan menghabiskan waktunya di Clup sampe pagi.
__ADS_1
Ia bisa menghabiskan puluhan juta dalam semalam hanya untuk kesenangan sesaat.
Ketika Tristan kini sudah setengah mabuk. Tiba tiba ia melihat sosok wanita yang pernah ia rasakan tubuhnya sedang berada di club itu.
"Kau ada di sini rupanya." guman Tristan.
Tristan pun kemudian berjalan ke arah wanita itu dan langsung mengajak wanita tersebut untuk masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.
Dan wanita itu mau mau saja untuk di ajak Tristan. Bahkan perempuan itu langsung melingkarkan tangannya ke perut Tristan.
Sesampainya di dalam kamar. Tristan yang saat ini tengah berada dalam pengaruh minuman keras. Mendekati wanita penghibur itu yang dia kira adalah Miranda.
"Sejak kapan kamu bekerja sebagai pe la cur?" tanya Tristan pada wanita itu, yang ia kira adalah Miranda.
"Aku sudah lama bekerja di sini." jawab wanita tersebut.
"Kenapa kau tidak berontak, dasar murahan kau." ucap Tristan mulai melantur. Yang kemudian langsung mendorong tubuh wanita itu ke tempat tidur.
"Kenapa aku harus berontak, aku akan melayani mu." tantang si wanita.
Setelah wanita itu sudah berada di tempat tidur. Tristan kemudian langsung ikut naik ke tempat tidur.
Sejenak Tristan mengamati wajah wanita yang ia anggap adalah Miranda.
Samar samar, wajah Miranda telah memenuhi pikirannya.
Akan tetapi wanita cantik di hadapannya saat ini sekilas bukanlah wanita yang Tristan maksudkan. Kini perlahan lahan ingatan Tristan mulai pulih.
Begitu kesadaran Tristan sudah benar-benar pulih. Ia bisa mengenali wanita tersebut.
Spontan, Kini Tristan langsung bangkit dari tempat tidur ketika menyadari wanita itu bukanlah Miranda.
"Pergi kau." teriak Tristan pada wanita penghibur tersebut.
"Kenapa?"
"Kau bukan dia, pergi!" seru Tristan dengan keras.
__ADS_1
Karena sudah di usir, wanita itu pun akhirnya pergi.
"Sialan, kenapa harus wajahnya yang selalu aku pikirkan." ucap Tristan dengan penuh gusar.