Suami Pengganti Untuk Miranda

Suami Pengganti Untuk Miranda
Wisnu Abimanyu


__ADS_3

Kediaman Rumah Tristan


"Tristan, bangun nak! Waktunya makan malam. Dari pagi kamu tidur saja, ini sudah malam." pangil Aminah pada Tristan. Anak bungsu nya yang pada saat itu masih berada di kamarnya.


"Iya Ma, nanti Tristan menyusul." jawab Tristan dari dalam kamar.


"Jangan lama lama, Papa ingin bicara dengan mu." imbuh Aminah.


"Iya Ma," jawab Tristan lagi.


Tristan akhirnya keluar dari kamarnya. Setelah seharian ia hanya tidur di dalam kamarnya.


"Selamat malam semuanya." sapa Tristan pada semua anggota keluarganya yang saat itu sudah berada di meja makan untuk makan malam.


"Kau tidak ke kantor tadi pagi." Tanya Wisnu pada sang adik Tristan.


Wisnu Abimanyu adalah anak pertama dari Pasangan Prawira Adiyaksa dan juga Aminah. Sedangkan anak kedua mereka perempuan bernama Shalimar. Sudah menikah dan menetap bersama suaminya di Amerika. Sedangkan Tristan Abimana adalah anak terakhir.


"Aku capek habis meeting di villa kemarin Bang," jawab Tristan.


"Kamu ini, baru seperti itu saja dah capek." Jawab Prawira, sang Papa yang memang sedikit agak tegas pada Tristan.


"Jangan bandingkan aku dengan Abang, Pa. Aku bukan Bang Wisnu yang giat bekerja dan jago urus perusahaan." Jawab Tristan.


"Kau ini, banyak alasan saja Tristan. Umur mu sudah bukan anak ABG lagi. Tapi kelakuan kamu masih malas malasan untuk bekerja. Bagaimana Papa bisa menitipkan salah satu perusahaan Papa untuk bisa kamu kelola. Jika kamu masih malas." ujar lagi Prawira dengan nada sedikit keras.


"Pa, kita makan dulu. Jangan bahas pekerjaan." ucap Aminah dengan nada lembut. Mencoba mendinginkan suasana di meja makan yang nampak mulai tegang.


Seperti biasa, Prawira memang sedikit ketus dan juga tegas pada Tristan. Karena Tristan sendiri memang punya sifat yang keras. Tidak seperti Wisnu atau Shalimar yang anak nya penurut serta cerdas dan juga pintar mengurus perusahaan.


"Sudahlah, aku sudah tidak mood makan malam." ujar Tristan yang kemudian langsung pergi meninggalkan meja makan.


"Anak ini, benar benar selalu membuat Papa emosi." ucap Prawira sambil menahan emosi yang tertahan.


"Sabar Pa, sifat Tristan beda dengan Wisnu dan juga Shalimar." tutur Aminah menenangkan suami nya.


"Papa jadi, ingin menjodohkan Tristan dengan Laura, anak bungsu Pak Chandra, pemilik villa Lestari ?" tanya Wisnu pada sang Papa.


"Tergantung bagaimana kesiapan anak itu. Sekarang saja dia masih malas malasan bekerja. Apa kata Chandra nanti, kalau Tristan jadi menikah dengan teman bisnis papa itu. Jika Tristan belum ada prestasi seperti kamu." jawab Prawira.


"Jika kamu mau, menikah lah dengan Laura. Kalian juga sudah saling kenal kan." ucap Prawira memberikan Wisnu saran.


"Maaf Pa, Wisnu masih belum siap untuk menikahi lagi. Renata belum genap setahun meningal. Wisnu masih belum ingin menikah lagi. Wisnu masih sangat mencintai Renata. Walau kini Renata sudah tidak lagi ada di sisi Wisnu."


"Sabar Nak, Mama yakin, suatu saat kamu akan mendapatkan pengganti Renata." timpal Aminah memberikan dukungan pada anak laki-laki pertama nya itu. Yang telah di tingal mati oleh istri tercintanya


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Duduk di kursi kebesarannya di kantor. Wisnu nampak tidak begitu konsentrasi saat mengecek file demi file dokumen penting yang harus ia periksa saat itu.


Bayangan sang istri yang setahun lalu telah wafat saat melahirkan putri pertama mereka masih saja terngiang di pelupuk matanya.


Tidak hanya kehilangan istri yang sangat ia cintai. Tapi Wisnu juga kehilangan calon anak mereka karena lahir prematur.


Sejak saat itulah, Wisnu seolah-olah telah kehilangan separuh jiwanya.


Belahan jiwanya telah pergi besama sang buah hati yang belum sempat ia gendong.

__ADS_1


Terkadang Wisnu menangis pilu sendiri jika mengingat semua buruk yang menimpa istri dan calon bayinya saat itu.


Sibuk dengan pekerjaan lah yang sedikit membuat Wisnu terlepas dari bayangan hal buruk yang selama ini ia rasakan.


Bahkan beberapa bulan setelah kepergian sang istri, Wisnu sampai harus mendatangi seorang psikolog.


Hal itu sangat ia butuhkan di saat ia tak mampu lagi untuk membendung rasa sedih akan kehilangan dua nyawa yang ia sayang.


Dan bersyukur nya, kini Wisnu sudah bisa menerima takdirnya.


Di Sebuah Pemakaman


"Assalamualaikum Ren, Mas Wisnu datang menjenguk mu. Mas selalu berdoa untuk mu Ren. Semoga kamu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Tenanglah di sana bersama anak kita ya Ren." ucap Wisnu sambil memegang batu nisan sang istri yang sudah setahun ini wafat.


"Mas kesepian Ren. Mas kadang masih merindukan mu. Mas belum mampu menemukan pengganti diri mu di hati mas." (Sebelum Renata kala itu wafat, Renata sempat berucap pada sang suami untuk menikah lagi dan membina rumah tangga bersama wanita lain yang Wisnu cintai).


"Mas pulang ya Ren, Mas masih sangat mencintai kamu. Mas juga tak pernah henti untuk mendoakan diri mu dan anak kita."


Sesuai berziarah ke makam sang istri, Wisnu kembali mengendari mobilnya menuju rumah.


Karena waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, Wisnu memutuskan untuk pulang saja dari pada harus kembali ke kantor.


Disaat Wisnu sedang menyetir dengan kecepatan sedang dan sambil mendengarkan musik di mobilnya.


Tiba tiba saja suara benturan terdengar keras oleh Wisnu.


Brukkkkk.........


Wisnu langsung menghentikan mobilnya dan bergegas keluar dari mobil.


Wisnu tersentak kaget saat menyadari bahwa ia baru saja menabrak seseorang.


Seorang wanita muda nampak meringis kesakitan menahan kaki sebelah kirinya karena tertimpa motor miliknya.


Beberapa orang di lokasi langsung dengan sigap menolong.


"Sebaiknya kita ke klinik atau rumah sakit terdekat untuk mengobati luka mu. Aku yang akan bertanggung jawab untuk biaya nya." tutur Wisnu.


"Sudah, tidak apa apa. Kaki ku hanya terkilir, dan kejadian tadi juga tidak sepenuhnya salah mu." ucap wanita berwajah cantik tersebut.


"Sepeda motor mu seperti nya mengalami kerusakan. Jangan kawatir, aku akan ganti rugi. Soal kaki mu ini, sepertinya kamu juga harus cek ke dokter. Aku bantu kamu jalan ya." tutur Wisnu dengan perasaan khawatir dan bersikap penuh tanggung jawab.


Setelah berfikir sejenak, akhirnya wanita itu mau untuk di ajak ke klinik terdekat.


Wisnu memapah wanita itu sampai ia bisa duduk ke kursi penumpang bagian belakang di mobilnya.


"Jangan khawatir, tadi aku sudah menyuruh orang ku untuk menuju lokasi tempat kejadian. Dia akan mengurus motor mu dan akan di perbaiki. Siapa nama mu?" tanya Wisnu pada wanita yang ia tabrak.


"Miranda," jawab wanita cantik itu singkat.


"Miranda, maaf sudah membuat mu celaka sore ini. Aku benar-benar tidak sengaja tadi." ucap Wisnu meminta maaf kepada Miranda dengan raut wajah penuh sesal.


"Tidak apa apa, tadi aku juga salah. Aku kurang berhati-hati." ujar Miranda.


Sesampainya di klinik, Miranda langsung di tangani oleh dokter.


Setengah jam setelah nya, kini Miranda sudah keluar dari dalam ruang praktek sang dokter.

__ADS_1


Begitu Miranda keluar dari ruang praktek dokter. Wisnu langsung bergegas menghampiri Miranda.


"Bagaimana, tidak ada yang serius kan?" tanya Wisnu penasaran.


"Sudah ku bilang, aku hanya terkilir, dokter sudah memberikan aku obat." jelas Miranda lembut, sambil memegangi lengannya dan berjalan sedikit terseok.


"Kalau begitu aku antar kamu pulang." ucap Wisnu menawarkan diri. Merasa tidak enak jika tidak mengantarkan Miranda kembali ke rumahnya.


"Sebenarnya aku tadi baru saja mau berangkat bekerja. Aku ada kerja shift malam." tutur Miranda.


"Tapi dengan kondisi mu yang seperti ini, tidak mungkin kamu bekerja. Langsung saja kamu minta surat keterangan dari dokter. Agar surat itu bisa kamu gunakan untuk izin tidak masuk bekerja. Memangnya kau kerja di mana?" tanya Wisnu ramah.


"Di resort villa Permata." jawab Miranda jujur.


"Oh kau kerja di sana. Sebaiknya kau tidak kerja dulu sekarang. Kembali lah bekerja saat keadaan mu sudah baik. Aku akan antar kamu pulang." tutur Wisnu ramah.


Sebenarnya Miranda menolak, tapi karena Wisnu memaksa, akhirnya Miranda pun mau untuk di antara pulang oleh Wisnu.


Sesampainya di rumah Wisnu memberi tau dan menceritakan semua kejadian yang menimpa Miranda pada kedua orang tua Miranda. Kedua orang tua Miranda pun paham dan mengerti.


Wisnu berjanji pada kedua orang tua Miranda untuk bertanggung jawab penuh atas insiden itu.


Wisnu juga telah menjelaskan semua kronologi tentang kejadian itu pada kedua orang tua Miranda.


"Kalau begitu saja pamit ya Pak, Bu," ucap Wisnu ramah pada kedua orangtua Miranda.


"Terimakasih ya Nak Wisnu, sudah antar anak kami." jawab Ayah Miranda yang saat itu mengantar Wisnu untuk menuju mobil.


"Sama sama Pak," jawab Wisnu ramah dan kemudian ia berpamitan.


Sebenarnya Wisnu masih mau bicara pada Miranda. Dan Ingin minta nomor ponselnya untuk memudahkan berkomunikasi tentang urusan mereka saat itu.


Tapi karena Miranda sudah lebih dulu pamit untuk masuk ke dalam. Akhirnya Wisnu mengurungkan niatnya untuk minta nomor ponsel Miranda.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Keesokan harinya


"Ris, tolong keruangan ku sebentar." ujar Wisnu memangil asisten pribadinya untuk datang menghadap nya ke ruang kerjanya.


Dan tak lama Risky, sang asisten pribadi Wisnu datang.


"Ada apa Pak? Pak Wisnu memangil saya?" tanya Risky begitu ia telah berada di ruang kerja Wisnu.


"Tolong kau beli satu unit sepeda motor yang biasanya di pakai oleh cewek. Aku ingin kamu beli cash motor itu dan langsung kirim ke alamat ini." ujar Wisnu yang kemudian memberikan alamat rumah Miranda.


"Hari ini Pak?"


"Iya, hari ini. Langsung kirim ke alamat ini ya. Dan surat surat nya jangan lupa untuk di urus juga." titah Wisnu.


"Laksanakan Pak," jawab Risky sang asisten.


"Bagaimana dengan motor yang tempo hari di perbaiki. Apa sudah bisa di kembalikan." tanya lagi Wisnu.


"Sepertinya sudah Pak, nanti sekalian akan saya urus." ucap Risky.


"Bagus, semua biaya perbaikan motor dan harga motor baru nya nanti langsung kirim ke nomor ku saja. Semuanya akan aku transfer." ujar Wisnu.

__ADS_1


"Siap Pak, saya akan urus semua."


__ADS_2