
Dan pada akhirnya, Miranda menyerah pada keadaan.
Dia sudah tidak mampu lagi untuk menyimpan semua lara hati dan segala kegundahan yang ia hadapi sendirian.
Miranda merasa sudah tidak bisa untuk menutupi semua fakta-fakta yang telah terjadi pada dirinya.
Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa dirinya saat ini tengah berbadan dua.
Setelah menyuruh adik-adiknya untuk pergi meninggalkan rumah sebentar. Miranda yang saat itu sudah duduk di sebuah kursi di ruang tamu. Tengah menata harinya untuk mengungkapkan semua beban yang ia rasakan pada kedua orang tuanya.
Miranda merasa sangat gemetaran ketika ia hendak berkata jujur kepada ayah dan ibunya.
Dengan penuh rasa gemetaran sambil *******-***** kan kedua tangannya. Miranda berusaha untuk jujur.
"Ayah, ibu, sebelumnya Miranda minta maaf. Jika sudah membuat kecewa ayah dan ibu. Ada sesuatu yang ingin Miranda bicarakan sama ibu. Miranda sudah tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi ini." Tutur Miranda.
Kemudian ia menunduk. Dan, bulir-bulir air mata bening itu kini menetes dari kedua sudut mata Miranda.
__ADS_1
Miranda merasa sangat sedih dengan semua kejadian yang menimpa dirinya
Di saat ia ingin sekali berjuang membantu keluarganya demi bisa mengurangi beban keluarga.
Justru kini dirinya sendiri di hadapan pada situasi yang sulit. Musibah yang menimpa nya membuat Miranda tidak siap untuk menerima semua keadaan itu.
"Ada apa Mir? Kok kamu malah nangis begitu. Jangan bikin Ibu dan Ayah khawatir. Katakan ada apa, jujurlah sama Ayah dan Ibu!" Seru Bu
"Bu, Ayah, Miranda hamil!"
Sejenak kedua orang tua Miranda hanya bisa terdiam membeku ketika mendengar pengakuan Miranda.
"Pak, sabar, istighfar, nanti napas Bapak sesak." Tutur Bu Ratna.
"Sekarang napas Bapak juga sudah sesak Bu. Mir, katakan semuanya. Ceritakan semua kejadiannya sama Ayah dan ibu." Cecar Pak Hadi, Ayah Miranda.
Kemudian, Miranda pun akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya kepada ayah dan ibunya.
__ADS_1
Miranda menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya sebulan yang lalu kepada kedua orang tuanya apa adanya.
"Bapak tidak terima Miranda, kamu diperlakukan seperti itu. Ayah akan menuntut keluarganya. Kamu jangan menahan Ayah untuk tidak melakukan sesuatu sama Pria bejat itu. Dia sudah keji sama kamu Nak. Dan sebagai ayahmu, Ayah tidak terima jika anak Ayah di perlakukan seperti binatang. Besok Ayah akan pergi ke rumah orang itu dan akan membuat perhitungan. Ayah tidak terima jika pelakunya bersantai santai saja setelah melakukan tindakan keji sama kamu Mir. Kita ini sudah orang susah, dan dia sudah menambah susah kira."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Setelah menceritakan semua yang ia alami pada kedua orang tuanya.
Pikiran Miranda kini sudah merasa lebih baik.
Miranda merasa sedikit lega. Paling tidak, orang tuanya saat ini sudah tahu jika dirinya tengah berbadan dua.
Bilamana terjadi sesuatu pada dirinya di kemudian hari, orang tuanya sudah tau.
Setelah selesai berbicara kepada kedua orang tuanya. Miranda kembali menuju kamar tidurnya.
Berada sendiri di kamarnya yang sempit. Miranda kembali meratapi nasibnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami semua kejadian naas ini. Padahal banyak sekali cita cita yang ingin hamba lakukan untuk membantu kedua orang hamba." Ratap Miranda dalam hati.
"Dan kamu Tristan. Aku bersumpah, aku tidak akan membuat hidupmu tenang. Setelah kamu juga telah merebut ketenangan dalam hidupku. Aku akan memaksamu untuk bertanggung jawab untuk semua tindakan yang telah kamu lakukan terhadapku. Dengan cara apapun aku akan memaksamu. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, aku akan memenjarakan dirimu. Aku sudah punya bukti untuk dapat memenjarakan dirimu." Desis Miranda, yang bertekad untuk menuntut pertanggungjawaban Tristan.