
Dalam rentang waktu sebulan ini, Miranda sudah sangat cermat mengumpulkan berbagai macam barang bukti.
Miranda juga masih menyimpan sprei yang ada noda bercak-bercak darah dari villa. Tempat ia di perlakukan tidak manusiawi oleh Tristan pertama kali.
Miranda sengaja menyimpan sprei itu sebagai barang bukti juga.
Dan masih banyak bukti-bukti lain yang Miranda sudah kantongi.
Miranda juga sudah berkonsultasi dengan seorang teman yang paham soal hukum. Semua barang bukti yang Miranda punya sudah cukup kuat untuk bisa menjerat sang pelaku, Tristan ke ranah hukum dengan tuduhan pemerkosaan dan pelecehan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dan malam itu, di kediaman Prawira. Seperti biasa keluarga itu sedang menikmati makan malam bersama.
Saat mereka sedang menikmati makan malam dengan suasana tenang.
Seorang art datang dan melaporkan bahwa di depan ada polisi.
Mendengar bahwa di depan ada anggota polisi yang sedang bertugas dan mencari keberadaan Tristan. Prawira langsung bergegas meninggalkan kursi kebesarannya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Selamat malam, maaf mengganggu waktu istirahat anda Pak. Kami dari kepolisian membawa surat penangkapan untuk saudari Tristan Abimana atas dugaan pemerkosaan yang telah dia lakukan terhadap saudari Miranda." jelas salah seorang anggota polisi.
"Boleh saya memeriksa surat perintah penahanannya." tanya Prawira yang ingin mengecek surat penahanan untuk Tristan.
__ADS_1
Dan petugas polisi itu memberikan surat perintah penahanan tersebut kepada Prawira.
Saat membaca dengan seksama isi surat penahanan tersebut. Prawira kemudian mengembalikan kembali surat tersebut pada salah seorang polisi.
"Tristan!" Panggil Prawira berteriak memanggil anak sulungnya.
Tak berselang lama, Tristan datang dan disebelahnya ada Wisnu.
Tristan nampak berdiri membeku di samping Prawira. Belum sempat Tristan membuka mulutnya. Prawira berjalan beberapa langkah dan kemudian langsung menampar pipi kanan Tristan dengan tamparan yang cukup keras. Bahkan tamparan itu sampai-sampai membuat hidung Tristan berdarah.
Seketika itu juga, Aminah langsung menitikan air matanya saat Prawira menampar wajah Tristan.
Saat Aminah hendak mendekati putranya Tristan, Prawira menahan langkah Aminah.
"Silahkan bawa Pak." tutur Prawira kepada dua petugas anggota polisi yang pada malam itu datang untuk menangkap Tristan.
Tristan sendiri nampaknya tidak banyak bereaksi. Karena ia tau mau menangis darah atau merengek pun pada Papanya sudah percuma. Jika papanya sudah bersikap keras hati seperti itu.
Dua orang anggota polisi itu kemudian berjalan ke arah Tristan dan langsung memborgol tangan Tristan.
"Bang, temui aku nanti di kantor polisi." pesan Tristan pada Wisnu, kakaknya.
Wisnu tak menjawab, tapi ia menganggukkan kelapa pada adiknya tersebut.
__ADS_1
Aminah hanya bisa menangis saat menyaksikan Tristan di masukan ke mobil tahanan.
Ia sendiri tidak bisa berbuat apa apa.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Wisnu, lakukan sesuatu untuk adik mu. Papa mu tidak akan peduli dengan Tristan." ujar Aminah pada Wisnu yang ketika itu mereka masih berada di ruang tamu. Sedangkan Prawira sendiri sudah tidak ada lagi di ruang tamu.
"Iya Ma, Wisnu pasti akan temui Tristan besok. Mama tenang saja ya. Wisnu akan coba bantu Tristan dan juga mencoba melobi Miranda agar mencabut laporannya. Kita bisa selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan." ujar Wisnu
"Kamu benar Wisnu. Mama percayakan masalah ini sama kamu. Karena papa mu pasti sudah angkat tangan dan tidak perduli lagi dengan Tristan. Karena dia sudah membuat papa sangat kecewa."
"Iya, Ma."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sebelum mendatangi Tristan ke kantor polisi. Wisnu pagi itu terlebih dahulu menemui Miranda di rumahnya.
Wisnu mencoba untuk melakukan negosiasi terhadap Miranda soal di tahanannya Tristan dengan tuduhan pemerkosaan itu.
Wisnu sudah punya rencana untuk menyelesaikan masalah antar Tristan dan Miranda dengan cara kekeluargaan.
Tapi apakah Miranda setuju dengan cara kekeluargaan itu. Padahal sebelumnya Miranda dan pak Hadi sudah datang dengan baik baik ingin menyelesaikan masalah itu dengan cara keluar juga.
__ADS_1
Tapi yang mereka dapatkan hanyalah kekecewaan.