
Hari ini Nadia datang agak cepat karena piket. Ay belum juga datang. Anak menggemaskan yang penuh semangat. Sering membuat gerakan yang lucu. membuat Nadia senang melihatnya dan bertambah sayang. Saat mereka senam mobil putih itu terparkir. Nadia segera mendekati Ay dan ayahnya.
"Aysila Husna Ananda," ucap Nadia saat ayahnya membuka pintu dengan mode yang super cool. "Assalamu'alaikum."
Nadia meraih tas Ay. Doni menyerahkannya. Sepertinya dia buru-buru.
"Salam ayah Nak," ucap Nadia. Doni pun menyalam Ay tanpa berkata sepatah kata pun dan tanpa melihat Nadia. "Dingin yah Ay. Seperti ada kulkas dua pintu."
Doni berhenti mendengarkan penuturan Nadia padahal dia sedang buru-buru. Doni berbalik dan kali ini menatap punggung Nadia yang mengajak Ay untuk masuk. Doni tersenyum melihat mereka.
"Mana kulkasnya Bu?" tanya Ay polos.
"Tuh... Ada kulkas berjalan," ucap Nadia berbisik. Ay melihat ke belakang. Nadia tidak ikut menoleh. Kemudian mereka saling tertawa.
***
Hari ini Nadia merasa demam, tadi pagi badannya menggigil kedinginan. Maka Nadia memilih memakai Jaket yang tebal juga memakai masker. Nadia agak terlambat datang ke sekolah. Saat sampai di sekolah Nadia sudah mendapati Ay bersama teman yang lainnya.
"Ibu Nadia..." panggil Ay memeluk Nadia.
"Siapa yang anter Ay?" tanya Nadia tersenyum.
"Eyang," ucap Ay tersenyum.
"Eyang? Bukan ayah ganteng?" tanya Nadia.
"Bukan Ibu," ucap Ay.
Selama pelajaran berlangsung, Nadia merasa badannya tidak enak. Namun Nadia tetap mengajar anak-anak. Nadia merasa lucu melihat Ay dan temannya menari. Gemes rasanya.
Saat pulang Nadia merasa badannya semakin demam. Saat Ay dijemput tantenya, Nadia mengatakan bahwa dia kurang fit sehingga tak bisa mencium Ay. Nadia bergegas ke kos nya dan mengunci rapat kosnya. Nadia lebih memilih beristirahat. Beberapa kali Nadia buang air kecil, beberapa kali pula Nadia tidur. Nadia lebih memesan misop dan badrek untuk memulihkan tenaganya.
Keesokan harinya Nadia sudah merasa lebih fit namun masih lemas. Sebuah pesan masuk ke ponsel nya.
'Na... Buah duku udah lebat nih! Datang ke sini!'
Itu pesan dari bibinya. Nadia pun bergegas membereskan kosnya. Masak seadanya dan membersihkan diri. Saat Nadia sudah bersiap ingin memesan ojol sebuah septor muncul di depan kos nya.
"Woy pendek, cepetan ayo!" ajak Udin, sepupunya.
"Udin? Lumayanlah tumpangan gratis," ucap Nadia. Udin ngedumel.
Sampai di sana, Udin juga yang panjat dan petik buahnya. Sehingga Nadia dan yang lainnya rame mengutip dari bawah. Nadia merasa bahagia bersama yang lain dapat menikmati buah duku yang manis dan berbuah lebat. Sorenya Nadia diantar sepupunya juga.
"Makasih yah!" ucap Nadia.
"Hm..." balas Udin. "Mana ongkos sama upah petiknya?"
Nadia hanya tertawa menanggapi dan masuk ke kosnya.
__ADS_1
"Dasar..." Udin tersenyum menatap pintu kos Nadia.
***
Keesokan harinya Nadia pergi ke sekolah agak terlambat. Sampai di sana Nadia mendapati Ay sudah datang.
"Ibu..." panggilnya.
"Eh... Nak... Siapa yang antar?" tanya Nadia.
"Ayah Ibu, ayah ganteng dianter naik mobil," ucapnya.
"Ayah ganteng? Ah... ayah Ay jelek tuh," ucap Nadia.
"Nggak lho Ibu, ayah Ay ganteng," ucap Ay.
Nadia dan Ay saling mengejek satu sama.lain dan tertawa. Saat pembelajaran selesai anak-anak makan.
"Ibu... Ay gak ada makanan," ucap Ay sedih.
"Hm... Ayo kasih tau ayah," ucap Nadia.
Ay pun merekam suaranya melalui ponsel Nadia.
'Ayah... Mana makanan Ay?'
'Hahaha... Maaf yah Nak. Ayah lupa. Bentar lagi diantar yah Nak.'
"Bilang nanti makasih sama ayah yah Nak," ucap Nadia. Ay mengangguk.
Saat pulang Nadia tidak mengantar anak-anak karena sedang mengajar les. Nadia menatap dari kejauhan Ay yang dijemput oleh ayahnya. Doni melihat ke sekeliling namun tidak mendapati Nadia. Sudah berapa hari mereka tidak bersua. Begitu juga dengan Nadia yang merasa berdebar menatap Doni dari kejauhan.
***
Keesokan harinya Nadia datang lebih cepat namun karena ada yang ketinggalan Nadia kembali lagi ke kosan nya. Saat Nadia ingin kembali ke sekolah saat itu hujan rintik-rintik. Nadia memakai batik corak biru coklat senada dengan rok biru serta memakai jilbab krim dan jaket warna hitam. Tak lupa Nadia memakai payung karena hujan. Sebuah mobil putih di depan berpapasan dengan Nadia. Nadia mengangkat sedikit rok nya menghindari becek. Nadia tidak bisa melihat dengan jelas siapa pengemudinya karena kacanya hitam. Sementara pengemudinya tersenyum menatap Nadia yang kelihatan anggun dan cantik di bawah rintik hujan. Doni segera meng-klekson mobilnya. Nadia meminggirkan tubuhnya ke tepi. Saat Nadia bersampingan dengan kaca mobil samping bagian depan Nadia menoleh dan di dalam sana membayang Doni yang tengah melambaikan tangannya pada Nadia dan menyebut namanya, membuat Nadia berdebar dan tersenyum senang. Doni pun bahagia bisa melihat Nadia yang sudah lama tidak ditemuinya. Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat.
Nadia masih berusaha menetralisir kan jantungnya yang berdebar keras setiap kali bertemu dengan Doni. Nadia tersenyum mengingat momen saat Doni melambaikan tangan ke arahnya. Ayah ganteng. Batin Nadia.
Sementara Doni merasa heran karena Allah selalu mempertemukan mereka dengan keadaan yang tidak terduga serta baju yang mereka pakai juga senada. Kebetulan saat ini Doni memakai baju biru dan celana coklat. Senada dengan baju yang Nadia pakai.
Hari ini juga saat makan Doni lupa membelikan bekal anaknya. Nadia menelfon Doni tapi Ay yang berbicara. Ponsel sudah diangkat, tapi suara di seberang tidak terdengar.
"Ayaaaahhhhh..." sapa Ay.
"Hah... Iya... Apa Nak?" tanya Doni.
"Makanan Ay mana ayah?" tanya Ay.
"Oh... Iya... ayah lupa Nak," ucap Doni. "Bentar lagi diantar tante yah!"
__ADS_1
"Iya ayah," ucap Ay.
Panggilan berakhir.
***
Keesokan harinya Nadia datang lebih cepat. Nadia memasak ikan sambel dan sayur tumis hari ini. Nadia membawa bekalnya ke sekolah. Kebetulan hari ini Nadia piket. Nadia menunggu anak-anak datang. Hujan agak deras pagi ini. Saat senam ayah Ay mengirim pesan bahwa mereka datang terlambat.
'Assalamu'alaikum, Ibu. Ay agak telat datang yah Ibu.'
'Iya Pak!' jawab Nadia.
Saat sudah masuk kelas, Nadia sengaja duduk menghadap jendela agar kelihatan Ay dan Doni datang. Hari ini Nadia mengajari anak-anak mewarnai buah. Tak lama septor itu berhenti di depan gerbang. Nadia menatap Doni dan Ay dari jauh. Saat itu masih rintik. Nadia sengaja tidak ingin mendatangi mereka. Nadia ingin Doni datang ke kelas mengantar Ay. Saat mereka sudah mendekat ke kelas, Nadia tersenyum menatap mereka. Doni menatap Nadia melalui jendela. Nadia pun segera membuka pintu dan tersenyum menatap Doni. Doni terpesona sesaat kemudian membuang mukanya. Ay sampai di depan Nadia.
"Macet ibu di jalan," ucap Doni.
"Iya... Aduh... Kehujanan lah jadi nya anak Ibu yah?" ucap Nadia.
"Iya Ibu," ucap Doni menatap Nadia yang menunduk menatap Ay.
Ay kelihatan susah membuka sepatunya yang sebelah lagi.
"Bisa Nak?" tanya Nadia yang segera berjongkok dan membantu Ay membuka sepatunya. Sementara Doni menatap keduanya dengan tatapan cinta.
"Sudah Nak?" tanya Doni.
"Terima kasih yah Ibu," ucap Doni.
"Iya Pak!" jawab Nadia melihat punggung Doni yang pasti rasanya nyaman kalau dipeluk. Aduh... Dasar apa yang aku pikirkan. Batin Nadia kembali fokus ke pelajarannya.
Saat makan Ay mengeluarkan banyak bekal dari tasnya. Ay bagi untuk Nadia.
"Ibu bawa nasi sama ikan dan sayur ni. Siapa yang mau?" tanya Nadia.
"Ay mau ibu," ucap Ay. "Ay gak suka pedas Ibu."
"Gak pedas lho Nak," ucap Nadia.
Nadia pun menyuapi Ay. Ay makan dengan lahap.
"Enak masakan Ibu, Ay suka," ucap Ay.
"Ay suka?" tanya Nadia. "Kalo suka suruh ayah bayar sama Ibu, biar Ibu masak tiap hari makanan untuk Ay."
Ay pun tertawa, begitu juga dengan Nadia.
"Kalau Ay makan bekal Ibu, Ibu makan apa?" tanya Via.
"Ini nasi Ibu banyak kok Nak, tenang aja, cukup kok," ucap Nadia.
__ADS_1
"Lagian Ay juga udah kasih sama Ibu," ucap Ay.
"Heem... Sekarang habiskan makanannya biar selalu sehat," ucap Nadia.