
"Na... Ayo..." tiba-tiba Mala datang membuka pintu. Keduanya saling melepaskan tangan. " Kalian abis ngapain?" Mala menatap curiga sambil tersenyum.
"Nggak ada kak," ucap Nadia merasa malu berlalu dari situ. Sementara Doni tersenyum melihat Nadia yang salah tingkah.
"Kalian abis ngapain Ayah Ay?" tanya Mala tersenyum.
"Hehehe... Gak ada Bu..." jawab Doni kikuk.
"Di mana kamarnya?" tanya Mala.
Doni pun menunjuk kamar yang dituju. Mala segera ke sana. Sementara Doni memilih keluar menyusul Nadia. Nadia duduk di kursi panjang dekat pasien yang menunggu antrian. Doni mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Nadia memberi jarak aman. Doni tersenyum melihat tingkah Nadia yang gugup.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Doni.
Nadia menatap Doni di sebelahnya seolah pertanyaan yang ditujukannya seharusnya dari pertama mereka ketemu kemarin. Nadia menatap wajah itu. Garis hidung yang lurus dan lancip. Mata yang sendu. Bibir yang...
"Kenapa?" tanya Doni tersenyum menatap Nadia di sebelahnya.
Nadia terkesiap dan segera membuang mukanya.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya," ucap Doni.
Nadia menarik nafasnya mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar terus.
"Kabar saya baik, sangat baik malah," ucap Nadia tanpa memandang Doni. "Tapi, saya sering merindukan Ay. Makanya saat dengar kabar Ay kecelakaan saya shock." Nadia menambahi dengan jujur. Doni tau bahwa Nadia memang benar menyayangi Ay bukan sebuah kepalsuan yang dibuat-buat.
"Kamu tidak merindukan ayahnya?" tanya Doni.
Nadia terkekeh mendengar penuturan Doni yang lagi-lagi dengan pede yang tinggi. Doni pun ikut tersenyum.
"Yah... Rindu sih. Sedikit..." ucap Nadia menyatukan ujung jari jempol dan telunjuknya.
Doni tersenyum masih menatap Nadia dengan gemas.
"Selamat yah atas kembalinya Ayah Ay bersama Bunda Ay," ucap Nadia. Doni terkekeh.
"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Doni.
"Nggak, justru saya senang karena keluarga Ay utuh kembali," ucap Nadia tulus. "Saya permisi yah, semoga Anda sekeluarga sehat. Kak Mala sudah keluar itu."
Nadia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Doni yang menatap sendu kibasan jilbab Nadia tanpa mampu mencegahnya. Doni menghela nafas panjang. Nadia begitu sulit digapainya padahal ada di depan matanya dan begitu dekat di hatinya.
***
__ADS_1
Sudah lama Nadia tidak bertemu dengan Ay dan juga Doni. Ay hanya VC jika dia merasa rindu. Sedangkan Doni, Nadia mengabaikannya. Nadia fokus ke karirnya saat ini.
Suatu ketika saat Nadia berada di parkiran sebuah restoran. Mobil putih itu juga terparkir di sana. Namun Nadia mengabaikannya. Nadia fokus dengan kegiatannya. Saat pria jangkung itu turun, barulah Nadia menoleh. Doni tersenyum manis dengannya membuat Nadia berdebar dengan keras. Doni membuka pintu depan dan keluarlah Ay.
"Tuan putri, Assalamu'alaikum," ucap Nadia ramah seperti biasa.
"Wa'alaikum salam, Ibu," ucap Ay tersenyum.
Ay menyalam Nadia, kemudian Nadia memeluk Ay.
"Aduh, Ibu," ucap Ay.
"Kenapa Nak?" tanya Nadia.
"Bahunya masih sakit Ibu," ucap Doni.
"Ya Allah maaf yah Nak," ucap Nadia. Nadia pun menurunkan Ay.
Nadia memegang puncak kepala Ay. Doni melakukan hal yang sama. Sehingga tangan mereka tak sengaja saling bersentuhan. Tangan Doni terasa dingin. Nadia merasa malu kemudian melepaskan tangannya dari tangan Doni.
"Kalau gitu Ibu duluan yah Ay," ucap Nadia bersama tim nya yang lain. Urusan Nadia memang baru selesai.
"Tunggu Ibu! Ay masih rindu," ucap Ay memelas. Nadia tersenyum manis memeluk Ay dengan gemas kemudian berjongkok sehingga wajah mereka sejajar. "Kapan-kapan kita ketemu lagi yah, Sayang." Nadia mencium pipi Ay dengan gemas sehingga menempelkan lipstiknya di pipi Ay. Sementara Doni menatap nanar ke arah Nadia dan Ay.
***
Suatu saat Nadia memasuki sebuah toko buku. Di sana terpajang rak-rak yang di dalamnya beragam buku. Nadia merasa nyaman melihat deretan buku yang ada. Nadia menelusuri setiap jenis buku yang ada. Sampai Nadia memegang sebuah buku yang cocok. Namun tangan yang lain menyentuh buku yang sama sepertinya. Nadia bersikeras mengambilnya begitu juga dengan orang itu. Nadia menoleh gemas pada orang yang bersikeras ingin mengambil buku yang sama dengannya.
"Apa kabar?" sapa suara itu. Nadia tertegun. Deg!
Nadia pun melepaskan buku itu dan berlalu dari sana. Tentu saja pria jangkung itu mengikutinya dengan langkah yang cepat sehingga langkah mereka sejajar. Sialnya keadaan toko saat itu sunyi karena kebanyakan orang sudah malas ke toko buku. Orang lain lebih suka melihat dan membaca melalui gedget. Langkah mereka seirama. Doni menyentuh tangan Nadia. Sialnya lagi Nadia menyuruh para pengawalnya untuk tetap di luar. Nadia berusaha menepis tangan itu, namun Doni makin mempererat pegangannya.
"Lepaskan Pak!" ucap Nadia kesal. Doni hanya tersenyum nakal.
Posisi Nadia saat ini tidak aman. Doni makin mendekatkan dirinya ke arah Nadia tanpa melepaskan tangan Nadia sedikitpun. Doni tak ingin memberi celah pada Nadia. Nadia berusaha menetralkan jantungnya agar bersikap biasa.
"Bagaimana kabar Ay, Pak?" tanya Nadia yang masih berusaha melepaskan tangannya.
"Baik, apa kamu tidak ingin menanyakan kabarku?" tanya Doni yang kian mendekati Nadia menjulang di depannya. Nadia menundukkan wajahnya berusaha menahan debaran jantungnya.
"Ba... Bagaimana kabar Anda, Pak?" tanya Nadia.
"Tidak baik," ucap Doni. Nadia mengangkat wajahnya dan menatap Doni yang tersenyum manis padanya membuat Nadia semakin berdebar. Nadia menundukkan kepalanya kembali. "Cek saja sendiri." Doni mengangkat tangan Nadia yang dipegangnya ke arah dada Doni. Sehingga Nadia bisa merasakan sendiri bagaimana kerasnya debaran di dada Doni.
__ADS_1
"Saya harap kita jaga jarak aman Pak! Hal itu lebih baik untuk Bapak dan untuk saya," ucap Nadia tegas tanpa menatap Doni.
"Saya tidak mau," ucap Doni semakin memepet Nadia ke dinding.
"Bapak mau apa?" tanya Nadia panik. Doni berusaha menahan tawa melihat kepanikan Nadia.
"Melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang yang saling mencintai," ucap Doni Pede.
"Apa?" Nadia menatap Doni melongo sebentar kemudian menunduk lagi. "Si... Siapa yang mencintai Anda? Ge-er..." Nada bicara Nadia bergetar membuat Doni gemas begitu juga tangan Nadia yang gemetar saat digenggamnya.
"Nadia... Tidak usah membohongi diri sendiri," ucap Doni mendekat kembali. Nadia semakin panik. Namun Nadia memiliki akal.
"Baiklah..." ucap Nadia berusaha santai tangannya yang tidak digenggam Doni menyentuh leher belakang Doni membuat wajah Doni memerah dan semakin berdebar. Nadia mengangkat wajahnya tersenyum dan saat pegangan tangan Doni mengendur Nadia menginjak kaki Doni dan mengambil buku di tangan Doni lainnya kemudian berlari cepat meninggalkan Doni yang kesakitan.
"Aduh..." Doni meringis namun tersenyum melihat tingkah Nadia yang begitu menggemaskan baginya yang masih sempat mengejek padannya. Nadia berhasil kabur darinya dan saat ini pasti sudah bersua dengan para bodyguardnya di luar.
Doni sudah mengejar Nadia di parkiran, namun Nadia sudah menaiki mobilnya. Doni berusaha mendekati mobil itu namun Nadia yang panik segera menyuruh mobil melaju. Ternyata Doni mengikuti mereka dengan melaju kencang. Nadia menjadi panik dan khawatir. Bagaimana kalau kecelakaan? Bagaimana dengan Ay kalau ayahnya kecelakaan?
"Berhenti!" ucap Nadia. Mobil pun berhenti. Begitu juga dengan mobil Doni.
Nadia turun dan menuju ke arah mobil Doni ingin memastikan Doni baik-baik saja.
"Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Nadia mengetuk kaca mobil Doni. Doni membuka pintunya dan tersenyum menatap Nadia yang mengkhawatirkannya.
"Kenapa?" tanya Doni melipat tangannya di dada.
"Tolong Pak, jangan ceroboh. Nanti kalau Bapak kenapa-kenapa kasian Ay," ucap Nadia mengomel. Doni tetap tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita makan," ajak Doni. Nadia berfikir sejenak.
"Ba... Baiklah..." ucap Nadia.
"Tapi saya mau kamu di mobil saya," ucap Doni.
"Tidak... Tidak..." ucap Nadia.
"Ya sudah kalau begitu saya akan menyetir seperti tadi," ucap Doni mengancam. Nadia berusaha berfikir.
"Baiklah... Tapi ada syaratnya. Saya duduk di kursi belakang," ucap Nadia.
"Yah... Baiklah..." ucap Doni membuka pintu belakang.
Apa sebenarnya yang ku lakukan? Batin Nadia. Doni tersenyum puas.
__ADS_1