Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Pergumulan


__ADS_3

Nadia kelihatan bahagia begitu juga dengan Doni. Doni mengecup Nadia sekali lagi kemudian berbaring di sebelahnya. Doni mengambil nafas sebentar kemudian menuju ke kamar mandi membersihkan diri. Lalu dia mengambil tisu membersihkan sisa-sia pertempuran mereka. Nadia merasa malu saat Doni membersihkan area privasinya. Doni tersenyum menatap bercak merah di sprei.


"Mas... Gak usah," ucap Nadia yang merasa malu saat Doni membersihkannya. "Malu."


"Bentar sayang," ucap Doni yang kembali on.


"Nadia mau ke kamar mandi," ucap Nadia ingin turun dari tempat tidur. Doni ingin mencegahnya. Namun saat Nadia ingin berdiri dia merasa sakit di area sensitifnya. "Aduh... Perih."


"Yang mana sakit sayang?" Tanya Doni pura-pura tidak tau mendekati Nadia. Doni menahan nafasnya karena melihat Nadia yang polos menambah on nya kembali.


"Gara-gara mas ini," rengek Nadia cemberut.


Doni tidak sabaran menggendong Nadia menuju kamar mandi.


"Ah... Mas lepasin, Nadia berat," ucap Nadia refleks merangkul leher belakang Doni agar tidak jatuh.


"Biar cepat sayang," ucap Doni meletakkan Nadia di atas closet. "Mau pipis kah?" Nadia mengangguk malu menatap Doni yang polos dengan on.


"Mas jangan diliatin, Nadia malu nanti gak mau keluar," ucap Nadia.


Doni menghela nafas dan menuruti Nadia meninggalkannya.


"Kalau perlu bantuan panggil mas yah sayang," ucap Doni mengelus kepalanya. Sweet banget sih perlakuan suaminya ini. Ternyata perlakuan suaminya ke Ay sama dengan memperlakukan dirinya. Begitu lembut dan perhatian. Nadia segera menyelesaikan hajatnya. Rasanya terasa perih. Ternyata ini yang dirasakan setiap wanita. Batin Nadia. Nadia merasa malu mengingat pergumulan mereka tadi. Nadia ingin berjalan sendiri namun sepertinya masih sulit.


"Mas... Nadia udah selesai," ucap Nadia manja. Doni yang baru saja mengganti sepreinya dengan yang baru kembali ke kamar mandi. Doni suka dengan Nadia yang bergantung padanya dan membutuhkannya. Doni masih saja tetap polos. Di bawah sana juga masih on. "Mas kenapa gak pakai baju? Gak dingin apa?"


Doni terkekeh geli mendengar penuturan istrinya yang selalu menggemaskan baginya saat pertama kali mereka bertemu. Doni mencium istrinya sekilas karena gemas.


"Mas mau trip kedua sayang," ucap Doni yang sudah mengangkat Nadia dan mengusel-usel pipinya ke leher Nadia membuat Nadia kegelian. Doni meletakkan Nadia ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Tapi masih perih mas," ucap Nadia merengek. Doni awalnya cemberut namun merasa kasihan juga dengan istrinya yang pastinya jika dia memaksa akan menimbulkan cedera.


"Baiklah, kita lanjutkan besok sayang. Semoga besok perihnya sudah hilang," ucap Doni menyelimuti Nadia dan mengecup kening, pipi, dan bibirnya. Nadia tersenyum karena suaminya yang pengertian.


"Nadia mau pakai baju tidur, dingin," ucap Nadia merengek.


Doni mengambil pakaian tidur Nadia yang tadi dia pakai. Ternyata sudah basah. Lingerinya berakhir mengenaskan. Doni pun melangkah ke lemari pakaian di sana. Namun tak ada pakaian satu pun. Dia ingat kamar Nadia di sebelah. Sementara ini kamar tamu yang dia tempati tadi malam yang sudah disulap menjadi kamar pengantin mereka. Doni mencari baju nya yang pas untuk dikenakan Nadia dari kopernya.


"Nih, pakai aja kaos mas," ucap Doni memakaikan kaos ke Nadia. Size nya yang besar membuat Nadia kelihatan imut. "Ini udah yang paling kecil. Imutnya jadi mau mas makan." Doni merasa gemes. Nadia merasa malu sendiri. Doni hanya polos saja masuk ke selimut yang sama dengan Nadia.


"Pakai bajunya mas, gak dingin apa?" Tanya Nadia.


"Nggak sayang. Mas kepanasan nih karena on," ucapnya. Nadia tersenyum malu. "Tidur sayang, dari tadi ngoceh terus." Doni mengelus kepala Nadia. Nadia menguap sebentar. Akibat ulah Doni yang mengelus kepalanya, Nadia pun tertidur dengan dengkuran halus. Doni yang masih terjaga menatap Nadia dengan senyum mengembang. "Akhirnya aku bisa menikahimu sayang. Setelah banyaknya drama yang kita lalui." Doni pun ikut terlelap sambil berusaha menenangkan dirinya yang masih on.


***


Paginya Doni terbangun karena mendengar suara adzan. Doni menatap Nadia yang merangkulnya begitu erat. Kaki Nadia juga sudah berada di atas dirinya seolah-olah menganggap Doni guling.


"Nadia ngantuk mas," ucap Nadia yang masih memeluknya erat.


"Sayang kalau adek gak bangun, yang di sana jadi bangun atau kita seronde dulu pagi ini?" Tanya Doni.


"Nggak mas, masih perih," ucap Nadia. Sebenarnya sudah tidak begitu perih kali sih. nadia bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi dengan malas. Padahal biasanya dia selalu tepat waktu untuk sholat. Doni gemas sendiri menatap baju Nadia yang kedodoran berjalan dengan gontai. Doni pun menyusulnya dengan menyampirkan handuk di pinggangnya.


Mereka mandi bersama di bawah guyuran shower. Doni membantu Nadia membersihkan diri. Doni sengaja berlama-lama di area sensitifnya membuat Nadia xxx dan Doni kembali on penuh.


"Sayang..." Panggil Doni dengan suara seraknya tanda mode on tinggi.


"Nanti kita telat subuh mas," ucap Nadia menahan diri dari serangan suaminya.

__ADS_1


"Habis subuh yah?" Pinta Doni.


"Iya," ucap Nadia asal saja. Doni bersemangat kembali cepat-cepat menyudahi mandi mereka.


Doni dan Nadia akhirnya hanya melakukan sholat berjamaah di kamar saja karena untuk sholat berjamaah di mushola mereka sudah sangat terlambat. Suara Doni yang fasih terdengar begitu merdu menggetarkan sampai ke hati Nadia. Selesai sholat mereka berdo'a bersama. Nadia mengamini setiap do'a yang dipanjatkan suaminya. Selesai sholat, Nadia mencium punggung tangan Doni dan Doni mencium keningnya. Doni tersenyum nakal ke arah Nadia.


"Kenapa mas?" Tanya Nadia.


"Janji tadi seronde sehabis subuh," ucap Doni. Nadia tidak bisa mengelak lagi.


Doni melepaskan semua yang melekat padanya dan Nadia. Kemudian Doni langsung menyerang Nadia dengan lembut. Nadia membalas semua yang dilakukan suaminya. Doni begitu aktif membuat Nadia merasakan sensasi menyenangkan.


"Sayang..." Nadia menutupinya.


"Jangan ditutupi sayang kelurkan suaranya mas suka," ucap Doni.


"Malu mas nanti terdengar keluar," ucap Nadia.


Doni sudah on penuh membuat Nadia merasa bahagia dengan berbagai sensasi.


"Masih sakit sayang?" Tanya Doni perhatian.


"Nggak sayang, malah..." Nadia merasa malu untuk mengatakan enak. Namun Doni mengerti maksud Nadia. Doni pun penuh semangat.


"Sayang... Mau coba pindah posisi?" Tanya Doni. Nadia menurut saja. Saat ini posisi mereka terbalik.


"Sayang... Ayo!" Doni membimbing Nadia yang masih polos dengan hal seperti ini. "Gerak sayang." Perintah Doni saat memastikan semuanya.


Mereka merasakan sensasi menyenangkan. Nadia dan Doni bersemangat saat mereka sudah sampai tiba-tiba.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Ayah... Ay mau masuk!" Teriak suara kecil mungil di luar sana. Keduanya tertawa dan bergegas membersihkan diri khawatir si ceriwis tuan putri mereka tidak sabaran dan menerebos dengan otak cerdiknya.


__ADS_2