Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Seru dan Menyenangkan


__ADS_3

Nadia dan Doni sudah rapi membukakan pintu untuk Ay.


"Ayah... Ibu... Kenapa lama kali bukain pintu. Ay udah lama di sini," ucap Ay merengek.


"Maaf yah sayang," ucap Nadia memeluk dan mencium kedua pipi Ay.


"Anak ayah," ucap Doni menggendong Ay. Ay pun tersenyum.


"Ay udah sarapan?" Tanya Nadia.


"Belum ibu, Ay mau sarapan sama Ibu sama Ayah," ucap Ay.


"Oke ayo!" Ucap Doni. Mereka menuruni tangga. Di sana sudah ada semua keluarga mereka kecuali Sonia.


"Kak Sonia mana Mi?" Tanya Nadia.


"Semalam pergi sampai sekarang belum balik. Ada bisnis katanya," ucap Maminya.


"Tante Sonia gak asyik, semalem ninggalin Ay gitu aja," celoteh Ay cemberut.


"Mungkin tante Sonia sibuk, Ay. Ayo sini duduk dekat eyang," ucap Santi.


Mereka pun makan bersama di meja.


"Pi, hari ini Doni mau ajak Nadia pulang ke rumah Doni," ucap Doni.


"Seminggu lah di sini Nak baru pindah ke sana," ucap papinya.


"M... Doni gak mungkin libur kerja, Pi," ucap Doni.


"Iya pi, dari sini ke sekolah jauh, Pi," ucap Nadia.


"Kamu yakin Na, gak mau lama di sini?" Tanya Maminya.


"Kapan-kapan Nadia akan sering berkunjung ke sini kok, Mi, Pi. Lagipula Ay juga gak boleh libur sekolah terlalu lama," ucap Nadia.


"Baiklah! Jika itu sudah merupakan keputusan kalian, tapi papi akan tetap memberikan pengawal untuk kalian," ucap Bram. Mereka sebenarnya ingin menolak namun khawatir papinya semakin kecewa.


"Baiklah Pi, terima kasih," ucap Doni.


"Pi, ini black card Papi, Nadia kembalikan," ucap Nadia.


"Papi menolak Nak," ucap Bram.


"Nadia sudah tanggungan Doni, Pi," ucap Doni.


"Anggap saja itu hadiah pernikahan untuk kalian. Terserah mau kalian gunakan," ucap Bram. "Tolong jangan menolak Nak. Papi gak mau Sonia mendapatkan fasilitas sementera kamu tidak."


Doni dan Nadia merasa tidak enak.


"Baik Pi, akan Nadia gunakan seperlunya," ucap Nadia.

__ADS_1


"Black Card itu apa opa?" Tanya Ay polos. Semua tersenyum mendengar penuturan Ay.


"Nanti opa jelasin yah cucu opa yang bijak," ucap Bram.


"Assalamu'alaikum," sapa suara yang baru masuk.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka.


"Santi..." Sapa Wulan bibi Nadia.


"Wulan... Sama siapa?" Tanya Santi.


"Sama kemenakan," ucap Santi.


"Ayo sarapan bersama, Lan," ucap Maminya yang tidak lain adalah kakak iparnya.


"Naek apa ke sini Lan?" Tanya Bram saat Wulan menyuap nasinya.


"Mobil yang mas kirimlah. Pura-pura nanya lagi. Nadia dan Doni udah nikah baru ingat aku," ucap Wulan sebal. Bram hanya tersenyum.


"Maklum lah buru-buru. Dari pada jadi dosa dan fitnah lebih baik langsung aku nikahkan saja," ucap Bram. Mereka pun tertawa.


Seorang pria muda tegap memasuki ruangan dengan membawa sebuah kado yang besar.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka.


"Eh pendek... Nih kado untukmu pernikahan kalian," ucap Udin. "Jadi dia suami kamu?"


Udin dan Doni saling tatap tidak suka satu sama lain.


"Sudah-sudah... Din. Ayo duduk ikut sarapan," ucap Bram.


"Gak usah om, saya sudah sarapan tadi. Saya ke depan dulu om," ucap Udin.


"Daag pendek," ucap Udin menyentuh kepala Nadia sebelum pergi. Doni menatap punggung Udin tak suka.


***


Nadia sudah siap berangkat bersama suami, anak, dan mertuanya ke rumah mereka. Papinya menyuruh beberapa pengawal untuk mengawal mereka. Sementara Udin dan Bibinya masih tetap di sana. Udin menatap kepergian mereka dengan rasa tidak suka.


"Mengapa harus sama dia sih om Nadia menikah?" Tanya Udin.


"Kenapa?" Tanya Bram.


"Dia kan duda," ucap Udin.


"Kamu gak tau Udin, Doni itu perhatian dan sayang banget sama Nadia," ucap maminya menimpali. Kita tidak boleh menilai orang dari sampulnya saja. Dia pernah gagal di masa lalu. Bisa saja itu kesalahan dari istrinya."


Udin tidak ingin berdebat lagi. Dia memilih bungkam. Bagaimanapun dia sangat menyayangi sepupunya itu yang sejak kecil sering dia jahili. Sekarang sepertinya masa-masa itu telah berakhir.

__ADS_1


Di perjalanan yang lumayan jauh, eyang dan Ay tertidur pulas di bangku belakang. Pengawal berada di belakang mereka dan di depan mereka dengan mobil yang berbeda. Doni tak ingin disetirkan salah satu pengawalnya. Doni memilih untuk menyetir sendiri.


"Selain Ronal dan Udin, siapa lagi pria yang dekat dengan kamu, dek?" Tanya Doni sambil fokus nyetir.


Nadia menatap lama suaminya dengan senyum mengembang. Doni melirik sekilas.


"Kenapa Mas? Cemburu yah?" Tanya Nadia menggoda suaminya.


"Ehm... Iya," ucap Doni.


"Banyak sih," ucao Nadia menggoda suaminya. "Tapi..."


"Tapi apa?" Tanya Doni.


"Tapi gak seganteng ayah ganteng lah," ucap Nadia gombal. Doni tersenyum lebar kemudian menyentuh kepala Nadia dan mengusapnya sebelah tangan. Sebelahnya lagi memegang kemudi.


"Kamu juga cantik sayang. Buat mas selalu berdebar kalau lihat kamu," ucap Doni jujur.


"Oh... Sweet banget suamiku," ucap Nadia. Doni semakin gemas melihatnya. "Tapi, kenapa tangan mas sering gemetar tiap dekat Nadia? Mas deg-degan yah?"


"Sejujurnya iya sayang, mas sudah jatuh cinta sama kamu saat pertama kali liat kamu," ucap Doni. "Ingat gak? Saat mas antar Ay. Tapi kamunya malah tetap duduk di ayunan favorit kamu?"


"Iya inget. Kenapa mas?" Tanya Nadia.


"Karena kamu gak hampiri, kan mas sengaja turunin kaca mobil hanya untuk senyumin kamu," ucap Doni.


"Hehehe... Waktu itu Nadia juga berdebar mas, biasanya kan mas cuek kayak kulkas 12 pintu. Ini malah turunin kaca jendela," ucap Nadia. "Ya udah Nadia senyimin aja lah."


"Kamu ingat juga gak saat kamu pakai payung di waktu hujan. Kamu gak tau kalau itu saya. Saat mobil dekat kamu saya panggil kamu dan melambaikan tangan," ucap Doni.


"Iya bener ingat. Sampai di sekolah Nadia tetap berdebar dan senyum Nadia gak mau hilang," ucap Nadia.


"Makasih yah sayang," ucap Doni.


"Untuk?" Tanya Nadia heran.


"Sudah hadir di hidup aku. Memberikan warna-warni di duniaku. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta lagi," ucap Doni. "Aku harap kamu yang terakhir sayang."


"Nadia juga mau terima kasih sama mas karena sudah memeberikan Ay dalam hidup Nadia. Karena Ay yang bijak Nadia jadi jatub cinta pada Ayah ganteng, ayah Anak didik Nadia," ucap Nadia tersenyum. "Na berdo'a mas adalah yang pertama dan terakhir untuk Nadia." Nadia merangkul lengan Doni yang sedang menyetir.


"Ih... Ayah sama Ibu kenapa mesra-mesraan di mobil sih? Gak malu apa?" Celetuk Ay yang baru bangun mengucek matanya. Nadia segera melepaskan lengan Doni.


"Anak ibu udah bangun sayang," ucap Nadia.


"Tidur lagi Ay, perjalanan masih jauh," ucap Doni.


"Tapi Ay laper, Ibu," ucap Ay. Doni dan Nadia tertawa.


"Ya udah ini sayang ada roti," ucap Nadia.


Perjalanan mereka ke rumah begitu seru dan menyenangkan

__ADS_1


__ADS_2