
Selesai berbincang-bincang, papinya sendiri berniat mengantar putri nya ke kosan nya. Walau sudah berkali-kali ditolak Nadia. Sementara maminya, karena kecapekan tidak ikut mengantar Nadia. Saat sampai di kosan Papi nya turun dan merangkul Nadia serta mencium keningnya. sementara Nadia mencium punggung tangan Papi nya.
"Ingat Na, kalau ada apa-apa kamu wajib mengabari Papi," ucap Papi nya.
"Iya Pi, Siap!" ucap Nadia. Papinya mengelus pipi Nadia. Nadia tersenyum senang.
Sementara pemilik mobil putih yang tidak sengaja lewat di depan sana menatap tajam ke arah Nadia dan Pria tua itu. Pemilik mobil putih itu merasa marah sekaligus kecewa. Namun dia tidak bisa melakukan apa pun. Karena bagaimana pun dia belum ada ikatan dengan wanita itu. Hatinya terasa sakit karena ternyata pernyataan mantan istrinya tidaklah salah.
***
Keesokan harinya Nadia datang lebih cepat. Hari ini mereka berolah raga. Nadia mengutak-atik speaker karena tidak mau hidup. Mobil putih itu terparkir di sana. Doni menatap ke arah Nadia yang begitu serius mengutak-atik speaker. Namun saat melihat Nadia bersama pria tua semalam hati Doni merasa sakit kembali. Ay mendatangi Nadia.
"Eh, Nak, siapa yang antar?" tanya Nadia.
"Ayah," ucap Ay.
"Ayah nya mana?" tanya Nadia. "Ibu mau kasih uang study tour yang tak jadi."
"Ayah sudah pergi Bu," ucap Ay.
"Okelah nanti pulang aja dikasih," ucap Nadia.
Saat mereka masuk kelas, Nadia mengirim pesan ke Doni.
'Assalamu'alaikum, Pak! Siapa nanti yang jemput Ay Pak? Saya mau kasih sisa uang study tour 285.000.'
'Nanti eyangnya yang jemput Ibu. Titip di eyang aja.'
'Siap Pak!'
Nadia melihat ke pesannya yang tidak dibaca oleh Doni.
Beberapa hari Doni juga tidak datang ke sekolah mengantar Ay. Selalu orang berbeda yang mengantar. Nadia cuek saja karena dia juga disibukkan dengan aktivitas sekolah, les, dan mengaji. Teror dari bunda Ay juga tidak ada lagi. Sementara Ay sendiri juga perlahan menjauh dari Nadia, namun Nadia mengabaikannya saja. Karena Nadia merasa harus lebih profesional dalam bekerja.
Hingga akhirnya kejadian tak terelakkan yang mengharuskan dia dan Doni harus bertemu. Nadia utusan diklat dari sekolahnya. Sementara Doni menjadi salah satu narasumbernya. Doni tampak terkejut melihat Nadia sebagai salah seorang peserta Diklat nya. Sementara Nadia sudah tau bahwa yang akan menjadi narsum nya kali ini adalah Doni. Doni membawakan materinya begitu menyenangkan, sehingga para peserta tidak merasa bosan. Apalagi paras wajah Doni yang begitu tampan begitu menarik perhatian bagi para peserta wanita terutamanya yang masih single. Nadia lebih memilih bersikap profesional melaksanakan kegiatan tersebut.
__ADS_1
Doni beberapa kali mencuri pandang ke arah Nadia yang tersenyum, tertawa, dan serius selama kegiatan berlangsung. Hingga diklat nya selesai, Nadia merasa begitu lelah. Nadia kebelet dan buru-buru ke arah kamar mandi. Saat di belokan tak sengaja Nadia terjatuh menubruk seseorang.
"Aduh maaf, saya buru-buru," ucap Nadia yang tidak menatap siapa orang yang ditubruknya.
Sementara tubuh jangkung tampan itu berdiri kokoh menatap Nadia yang buru-buru ke kamar mandi. Perasaannya campur aduk saat ini.
Selesai melaksanakan hajatnya. Nadia keluar dari toilet, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nadia mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Pi. Iya Pi... Iya..." ucap Nadia tersenyum melihat ke sekeliling memastikan tidak ada orang lain. "Nadia juga sayang Papi."
Tubuh jangkung itu masih berada di sana mendengar Nadia yang berceloteh. Hatinya merasa kecewa karena Nadia benar-benar simpanan dari Sugar Daddy. Nadia mengakhiri pembicaraannya. Nadia ingin segera pulang karena merasa lelah.
"Apakah pantas Anda menjadi seorang guru?" ucap Doni yang berada di belakang Nadia.
Nadia yang mendengar itu berhenti, kemudian berbalik menatap pria tampan di depannya. Nadia tersenyum.
"Maaf... Bapak berbicara dengan Saya?" tanya Nadia.
"Iya, dengan kamu," ucap Doni tegas.
"Apakah pantas kamu menjadi seorang guru? Apalagi seorang guru untuk anak saya. Apakah sekolah Anda tidak menyeleksi dengan benar orang-orang yang ingin mereka jadikan guru," ucap Doni.
Nadia mengerutkan kening, kali ini senyuman hilang di wajahnya. Ada apa dengan pria ini? Batinnya. Namun Nadia mencoba untuk tenang dan membaca situasi.
"Atas dasar apa Bapak mengatakan itu?" tanya Nadia mencoba berusaha tenang.
Doni mencibir dan memilih meninggalkan Nadia. Nadia semakin heran menatap punggung itu menjauh.
"Kenapa dengan Dia? Dasar orang aneh!" gerutu Nadia yang lebih memilih mengabaikan perkataan Doni barusan.
Nadia melaksanakan sholat Ashar terlebih dahulu di dekat mesjid sekitaran situ. Terasa lebih segar selesai melaksanakan sholat. Nadia menunggu ojol di depan mesjid. Nadia ingin segera merebahkan diri di kosan nya yang nyaman walaupun kecil. Tak lama ojol datang. Nadia menaikinya. Nadia memberi jarak dengan tas nya.
Saat di lampu merah, ojol berhenti di sebelah mobil putih. Nadia tidak melihat ke kiri dan kanan. Nadia hanya fokus ke lampu merah. Sementara pengendara mobil putih itu menatap tajam ke arah Nadia. Bukannya dia simpanan Sugar Daddy, namun kenapa dia memilih naik ojol? Batin Doni. Kemudian, Doni teringat dulu pernah menolong Nadia yang hampir ditipu ojol saat ke rumah bibinya.
Ah... Itu bukan urusanku lagi. Dia juga bukan siapa-siapaku. Batin Doni menatap ke arah Nadia.
__ADS_1
Lampu hijau kembali menyala. Ojol melaju kembali membawa Nadia. Sementara Doni ke arah yang sama. Doni tidak ingin mengikuti Nadia. Namun tetap saja dia melajukan mobilnya ke arah ojol yang dinaiki Nadia. Saat berada di jalanan sunyi, ojol berhenti. Doni merasakan hal yang sama seperti kejadian di tempat bibinya.
"Ada apa Pak?" tanya Nadia.
"Maaf Bu, ojolnya mogok," ucapnya.
Nadia pun segera turun. Nadia memilih berjalan ke pinggir seraya membaca do'a. Sementara Doni yang melihat dari kejauhan, memilih diam dan tenang di mobilnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mobil Doni dan memaksa Doni untuk keluar. Doni melihat beberapa orang berjas hitam di sekeliling mobil Doni. Doni terpaksa keluar sebelum mereka menghancurkan mobilnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan pada Nona Muda? Kenapa kamu selalu mengikutinya?" tanya pria tambun sangar menatap Doni.
Oh... Jadi mereka para pengawal Sugar Daddy nya. Batin Doni.
"Maaf, saya tidak mengikuti siapa pun. Kebetulan saja jalan kami searah," ucap Doni.
Nadia yang mendengar keributan dari jauh melihat ke arah mobil putih itu. Nadia terkejut menatap Doni bersama bodyguard Papi nya. Nadia setengah berlari menuju ke arah mereka.
"Eh... Bu... Mau kemana?" tanya tukang ojol.
"Bentar Pak!" ucap Nadia sampai ke mobil putih.
Segera saja semua bodyguard menghormat ke arah Nadia. Nadia melotot memberi kode kepada mereka agar tidak mengatakan identitasnya.
"Ada apa Pak?" tanya Nadia kepada Doni. Doni menatap ke arah Nadia dengan tatapan tidak suka.
"Tanya saja pada para bodyguard mu," ucap Doni ketus. Nadia tampak terkejut namun segera bersikap biasa.
"Dia orang tua murid saya," ucap Nadia pada para bodyguard.
"Baik Nona," ucap para bodyguard itu memberi celah.
"Bu... Kereta nya sudah siap," teriak si ojol.
"Permisi," ucap Nadia berlalu meninggalkan Doni yang mematung menatap kibasan jilbabnya.
Apa yang sudah ku lakukan? Batin Doni menatap ke arah kereta yang menjauh.
__ADS_1