Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Celoteh Ay...


__ADS_3

Doni berusaha mengelak dari Sonia, kakak Nadia. Doni mencari alasan kebelet. Doni menuju ke salah satu kamar mandi rumah itu. Kamar mandinya luas dan ada bath tub serta shower nya. Doni mengetik pesan.


'Nadia di mana?'


'Di kamar atas sama Ay.'


'Di mana?'


Nadia yang membaca pesan itu mengerenyitkan keningnya. Mau apa dia ke sini? Sudah puas tebar pesonanya? Batin Nadia.


'Saya sudah di lantai atas. Kakakmu terlalu berisik.'


Nadia tersenyum. Rasain. Batinnya. Ay tertidur lelap di kamar Nadia. Selesai bermain Ay tertidur apalagi ruangan dingin ber-AC. Nadia sebenarnya ingin tidur juga. Namun, datang pesan penggangu. 😄


Doni tampak berdiri di dekat tangga atas memperhatikan ke sekeliling. Ada foto keluarga bertengger di dinding dan beberapa lukisan abstrak. Doni memasukkan tangan kanannya di kantong celana. Nadia keluar dari kamar dan menatap Doni yang terlihat seperti patung sempurna di sana. Bagaimana kak Sonia gak mau jadikan dia model? Ganteng abis. Batin Nadia. Doni menoleh ke arah Nadia yang menatapnya. Nadia membuang mukanya menahan debaran di dadanya yang siap meledak kapan saja. Doni mendekatinya dengan senyum mengembang. Di mana gaya cool nya itu.


"Ehem... Mana Ay?" tanya Doni menjulang di depannya.


"Hem... Tidur di dalam," ucap Nadia. Ragu antara ingin meninggalkan kamar atau berjalan ke arah lain bersama Doni.


"Kamu tidak ingin mengajakku berkeliling?" tanya Doni.


"Saya khawatir nanti Ay bangun nyariin," ucap Nadia menjawab ketidakpekaan pria coolkas 12 pintu ini.


"Oh iya," ucap Doni memegang kepalanya. "Duh..."


"Kenapa?" tanya Nadia melihat Doni yang meringis.


"Nggak tau nih kenapa," ucap Doni duduk deretan bangku yang menempel di dinding kamar Nadia. Memang biasa para pengawal menjaga di situ.


Nadia memperhatikan kepala Doni yang membengkak dan ada luka sedikit. Namun Nadia memberi jarak aman.


"M... Pasti tadi kena kamera awak media waktu mau ambil Ay," ucap Nadia berasumsi. "Tapi, sempat-sempatnya yah gak sadar malah tebar pesona." Nadia menambahkan.


Doni terkekeh dan menatap Nadia yang kelihatan cemburu. Doni gemas melihatnya. Doni tersenyum senang memperhatikan Nadia. Yang diperhatikan buang muka ke arah lain.


"Bilang aja cemburu," ucap Doni.


"Bentar yah saya ambil P3K dulu. Takutnya nanti gegar otak," ucap Nadia menakuti. Doni terkekeh melihat tingkah Nadia yang begitu lucu di matanya.


Nadia masuk kembali ke dalam kamarnya mencari kotak P3K. Kemana yah? Batin Nadia mencari. Ay masih tertidur nyenyak. Nah... ini dia. Batin Nadia meraih kotak P3K di dekat meja riasnya. Nadia keluar kamar. Sekarang Nadia bingung bagaimana cara mengobatinya. Nadia pun mendekati Doni. Doni tersenyum menatap Nadia.


"Liat kepala nya Pak!" ucap Nadia.


"Kenapa panggil Pak lagi?" tanya Doni. Nadia mengerutkan keningnya.


"Pak saya sedang tidak bercanda," ucqp Nadia.


"Saya juga tidak sedang bercanda Nadia," ucap Doni tersenyum menggoda.


"Nih obati sendiri!" ucap Nadia kesal menyerahkan kotak P3K nya ke tangan Doni kemudian membanting pintu kamarnya. Doni tertawa renyah melihat tingkah Nadia. Namun kepala nya saat ini benar-benar berdenyut.


Nadia masih mendengar jelas tawa Doni di luar sana. Nadia ikut tersenyum karena Doni menggodanya tadi. Nadia memilih membaringkan diri di sebelah Ay.


Tok... tok... tok...


Terdengar ketukan pintu di luar. Nadia mengabaikannya. Doni jadi gusar sendiri.


"Ngapain kamu di situ Doni?" tanya Santi dari seberang bersama seorang wanita paruh baya.


"Mama dari mana?" tanya Doni mengalihkan perhatian mamanya mendekat ke arah mereka.


"Jadi ini putra Ibu?" tanya Mami Nadia.


"Iya Ibu," ucap Santi.


"Ganteng yah masih muda," ucap Mami Nadia. Yang diceritakan hanya tersenyum dan menyalam mami Nadia.


"Beliau mami Nadia, Doni," ucap Santi.

__ADS_1


"Saya Doni Ibu," ucap Doni.


"Ay mana? Nadia mana?" tanya Santi.


"Di kamar Nadia Ma," ucap Doni.


Mami Nadia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Mami Nadia masuk dan mendapati Nadia dan Ay yang tertidur.


"Mereka tidur," ucap Maminya.


"Ya udah biarin aja gak usah diganggu," ucap Santi.


"Ayo kita turun Bu!" ajak Mami Nadia. Mereka meninggalkan Doni yang tak tau harus kemana.


Akhirnya Doni memilih duduk di depan kamar Nadia menunggui salah satu dari mereka bangun. Doni men-scrool ponselnya. Banyak pemberitaan mengenai Rasya dan Tom. Begitu juga dengan Nadia dan Sonia kakak beradik konglomerat. Kemudian dirinya juga yang sedang berbincang dengan Sonia. Kenapa harus diliput segala sih? Batinnya kesal. Judul headline nya 'Oppa model terbitan xxx.' Sementara Nadia sendiri berjudul 'Putri cantik kedua keluarga Wijaya.' Doni ingin turun tapi awak media masih banyak di bawah juga sedang ramai-ramainya. Sementara di atas sini tidak ada orang. Doni menutup ponselnya sampai terdengar suara merengek Ay di dalam.


"Ibu... Ay mau pipis," ucap Ay membangunkan Nadia. Nadia yang setengah sadar pun bangkit dan membawa Ay ke kamar mandi di kamar itu.


"Sudah Nak?" tanya Nadia.


"Sudah Ibu," ucap Ay. "Ibu ayah sama eyang mana?"


Nadia teringat bahwa tadi meninggalkan Doni di luar kemudian ketiduran di sebelah Ay. Nadia segera menyambar jilbabnya menuju ke arah pintu diikuti Ay. Nadia membuka pintu kamarnya.


"Ayah..." ucap Ay yang langsung berada di pangkuan Doni. Nadia tersenyum melihat Ay.


"Kita pulang yuk Ay!" ajak Doni. Nadia memperhatikan kotak P3K yang tergeletak begitu saja dan kepala Doni belum diobati.


"Lukanya belum diobati," ucap Nadia. Doni cuek bebek dan berdiri menggendong Ay.


"Udah salam ibu Nadia? Biar kita balik cari eyang dulu," ucap Doni mengabaikan Nadia dan hanya berbicara pada Ay.


"Belum," ucap Ay. "Tapi Ay gak mau balik. Ay mau nginap di rumah Ibu Nadia."


"M... Nanti ayah rindu kalau Ay gak ada," ucap Ay.


"Ayah nginap di sini juga sama eyang juga," ucap Ay.


"Besok kan hari minggu ayah," ucap Ay mengingatkan.


"Yah... Tapi ayah mau cuci mobil," ucap Doni.


"Cuci di sini aja ayah. Luas kok halaman rumah ibu Nadia," ucap Ay gak mau kalah.


"Ya Allah Nak, gemes kali Ibu liat Ay," ucap Nadia menimpali.


"M... Ay sini yuk sama Ibu. Kepala ayah lagi luka," ucap Nadia.


"Kepala ayah luka? Kenapa?" Ay bertanya dan ingin menangis.


"Jangan nangis anak baik. Ibu obati luka ayah dulu yah," ucap Nadia.


"Pak..." Doni tak bergeming. "Ayah ganteng sini biar Nadia obati lukanya."


Doni tersenyum mendengar kata-kata Nadia. Tanpa bicara Doni kembali duduk. Ay pindah duduk di sebelahnya berdiri melihat kepala ayahnya.


"Ih kepala ayah bengkak, ada lukanya," ucap Ay.


Nadia pun tetap menjaga jarak aman mengobati luka Doni. Tangan Nadia gemetar berada sedekat itu dengan Doni.


"Aduh..."


"Maaf Pak... Sakit yah..." Nadia meniup luka Doni dan merasa de javu dengan kejadian serupa. Nadia selesai memperban luka Doni


Ay yang lasak karena gaunnya panjang terpeleset. Nadia yang liat itu ingin menangkap Ay. Namun Nadia kehilangan keseimbangan sehingga Nadia memeluk Ay dan lagi-lagi Doni memeluk pinggang Nadia agar keduanya tidak terjatuh.


"Kalian berdua ini kenapa ceroboh sekali," ucap Doni. Suaranya begitu dekat di telinga Nadia. "Nadia... Jangan salahkan saya jika bertindak lebih karena selalu ada peluang untuk dekat dengan kamu." Doni melepaskan Nadia. Nadia merasa malu.


"Ay gak papa kan Nak?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Nggak ibu. Ay gak papa," ucap Ay.


"Ayah kenapa sering peluk ibu Nadia? Ayah kan belum nikah sama Ibu Nadia," ucap Ay polos.


Aduh... Ini lah punya anak terlalu bijak. Batin Doni. Nadia jangan ditanya wajahnya memerah kayak kepiting rebus. Doni tersenyum menatap Nadia yang gugup.


"Ay... Tadi kan Ibu Nadia mau jatuh karena nangkep Ay. Makanya Ay jangan lasak yah, Nak," ucap Doni. "Untung ada ayah. Kalo ayah gak di sini. Jatuh lah kalian berdua."


"Tapi kan ayah gak harus peluk-peluk Ibu Nadia. Kan belum nikah," ucap Ay lagi.


"Iya Ay bener. Ay pinter anak Ibu," ucap Nadia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Biar makin pinter ayo kita makan. Ibu udah laper."


"Ayo..." ucap Ay kegirangan. Doni mengikuti mereka untuk turun.


Beberapa orang sudah mulai pindah ke kolam renang belakang untuk acara selanjutnya.


"Na... Ayo makan!" ucap Mami Nadia. "Tadi mami ke kamar, kalian tidur. Ayo Nak Doni makan."


"Iya ibu." Di meja makan sudah ada Santi.


"Eyang..." sapa Ay.


"Cucu eyang sudah bangun. Ayo makan!" ajak Santi.


"Kalian makan gak ajak-ajak Papi," ucap Bram mendekati mereka. Semua menoleh.


"Papi kan lagi banyak tamu," ucap Mami Nadia.


"Tamunya udah papi usah di belakang," ucap Bram. Semua tertawa.


"Ayahnya Ibu Nadia," celoteh Ay.


Bram berbinar menatap Ay dan mendekatinya.


"Panggil saya opa," ucap Bram.


"Opa itu apa?" tanya Ay.


"Opa itu kakek," ucap Bram.


"M... gitu... Opa..." ucap Ay tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.


Mereka pun makan bersama. Doni merasa kikuk karena berada di meja makan bersama papi dan mami nya Nadia.


"Opa... Opa... Ayah Ay ganteng kan?" tanya Ay.


Bram menoleh ke arah Doni.


"Ayah Ay yang paling ganteng sedunia," ucap Ay.


"Udah Ay makan yang banyak," ucap Nadia.


"Opa... Tadi ayah peluk Ibu Nadia..." Celoteh Ay polos.


Uhuk...


Hah...


Apa?


Bram melotot.


***


Apakah yang akan terjadi pada Doni dan Nadia?


a. Dinikahkan


b. Dijauhkan

__ADS_1


c. Diabaikan


__ADS_2