
"Hai... Ternyata kalian berkumpul di sini," ucap Sonia mendekati mereka.
"Kak Sonia... Aku senang banget akhirnya bisa bertemu dengan Dia," ucap Ronal. "Ini juga ada Oppa Doni Kak."
Sonia tersenyum menanggapi. Sonia menatap suka ke arah Doni. Yang ditatap biasanya saja bahkan wajahnya kelihatan cool banget. Nadia sibuk dengan Ay yang minta ini itu.
"Aku pamit yah!" ucap Nadia pada Ronal dengan senyum mengembang. Doni menatap lurus ke arah mereka.
"Jangan donk! Kita kan baru jumpa," ucap Ronal.
"Kapan-kapanlah aku mau ajak Ay," ucap Nadia.
"Ibu... Ayo kita nonton kartun!" ajak Ay merengek.
Doni tersenyum mengikuti Ay dan Nadia.
"Oppa jangan pergi, kita mau ngobrol dulu," ucap Ronal.
"Saya ada urusan," ucap Doni datar meninggalkan Sonia dan Ronal.
"Cooolll banget Kak Sonia, eh... kakak mau kemana?" tanya Ronal.
Sonia memilih diam dan mengikuti Doni dari belakang. Ay menarik tangan Nadia menuju kamar Nadia.
"Mau kemana?" tanya Nadia lembut.
"Ke kamar Ibu, tadi Ay liat di kamar Ibu ada Tivi. Ay mau nonton," ucap Ay.
"Di ruang keluarga juga ada Tivi lho. Besar lagi," ucap Nadia.
"Ay gak mau Ibu, Ay mau di kamar," ucap Ay.
"Ay, kita pulang yuk!" ajak Doni di belakang Nadia dan Ay.
"Gak mau, Ay mau tidur sama Ibu Nadia," rengek Ay.
"Ya udah Ayah pulang sama Eyang yah. Tuh eyang udah datang. Dadah..." ucap Doni pura-pura ingin pergi meninggalkan Ay.
"Ayah..." Ay merengek.
"Doni nginap aja di sini. Di sini banyak kamar tamu," ucap Sonia menarik lengan Doni.
Nadia dan Ay menatap tak suka karena tangan Doni ditarik. Doni segera menepis tangan Sonia dengan kasar membuat Sonia tak suka.
"Ayah..." Ay berlari menuju Doni dengan masih menggenggam tangan Nadia. Doni pun mengambil Ay dan menggendongnya.
"Doni, ayo kita pulang," ajak Santi.
__ADS_1
"Nggak nginap di sini aja Besan?" tanya Tasya.
"Nggak usah besan, besok Doni ada tugas," ucap Santi.
Sonia dan Nadia tampak terkejut karena mereka saling memanggil besan. Doni hanya tersenyum menanggapi.
"Mami dan Papi mau jodohin Sonia dengan Doni?" tanya Sonia malu-malu namun senang dengan wajah berbinar.
"Ayah Ay mau nikah sama Ibu Nadia," celoteh Ay. Doni, Santi, dan Tasya tersenyum senang. Sonia menatap tak suka ke arah Nadia. Nadia sendiri memilih tenang.
"Ay gak boleh gitu," ucap Nadia.
"Kalo adik gak mau buat kakak aja yah?" ucap Sonia merangkul adiknya. "Sebagai adik harus mengalah pada kakak."
"Saya sih tidak masalah," ucap Doni santai ingin buat Nadia cemburu. Nadia memilih tersenyum menyembunyikan kecemburuannya.
Semua menatap Nadia menunggu Nadia untuk bicara. Nadia mendekati Doni membuat Doni berdebar.
"Ayo Ay kita nonton kartun," ucap Nadia mengambil Ay dari gendongan Doni. Ay menurut saja. Doni mengulum senyum karena Nadia sedang cemburu saat ini.
Doni ingin mengikuti Nadia dan Ay namun ditarik Santi. Tasya tersenyum sementara Sonia merasa senang.
"Mau kemana?" tanya Santi.
"Ambil Ay Ma," ucap Doni. "Kita mau pulang."
"Udah biarin aja dulu dia main sampai puas," ucap Santi. Doni hanya menatap Nadia dan Ay yang menghilang.
***
'Saya di depan pintu kamar.' Sebuah pesan masuk ke ponsel Nadia.
Setelah mengobrol sebentar dengan Sonia, Santi, Tasya dan Bram. Doni pamit pada mereka. Doni menegaskan akan segera melamar Nadia. Doni sama sekali tidak memberi celah pada Sonia. Padahal baru kali ini Sonia tertarik pada pria. Nadia menatap ponselnya dan tersenyum. Nadia merapikan pakaiannya dan mengenakan jilbabnya. Kemudian membuka pintu. Doni menatap dingin ke arah Nadia.
"Mana Ay?" tanya nya.
"Lagi nonton kartun di dalam," ucap Nadia memiringkan badannya menunjukkan Ay yang lagi tertawa menonton kartun.
"Ay ayo pulang!" ajak Doni.
"Gak mau ayah, Ay mau nonton," ucap Ay kembali fokus ke kartunnya.
"Kalau gitu Ayah pulang yah sama Eyang," ucap Doni.
"Ayah... Gak mau..." Ay merengek. Nadia yang melihat itu gak tega.
"Nginap saja di sini," ucap Nadia menundukkan wajahnya. "Kasian Ay lagi asyik dia. Di sebelah juga ada kamar tamu." Nadia menunjuk ke arah kamar sebelah. Doni mengikuti arah tunjuk Nadia kemudian tersenyum menatap Nadia kembali.
__ADS_1
"Apa saya tidak boleh tidur di kamar Nadia? Sepertinya muat, kamar kamu luas," ucap Doni. Nadia menatap sinis ke arah Doni.
"Silakan, biar saya tidur di kamar tamu," ucap Nadia.
"Tapi saya maunya dengan kamu di kamar kamu," ucap Doni menggoda Nadia. Wajah Nadia memerah kemudian tertawa.
"Nanti kalau sudah halal," ucap Nadia keceplosan dan menutup mulutnya. Doni tersenyum senang.
"Saya sudah bicara dengan keluarga kamu. Papi dan Mami kamu mengizinkan. Saya akan melamar kamu dalam waktu dekat," Doni. Nadia merasa berdebar mendengar yang barusan dikatakan Doni. "Nadia... Sering-sering dekat kamu bisa-bisa saya khilaf." Nadia membulatkan matanya menatap Doni tak percaya. "Ditatap kamu begitu saja, saya ingin memeluk dan mencium kamu."
Nadia ingin menutup pintunya karena jantungnya berdebar begitu kencang saat ini. Namun Doni menghalanginya. Dengan cepat Doni masuk ke kamar Nadia dan menguncinya. Nadia tampak panik.
"Ayah sama Ibu Nadia ngapain?" tanya Ay.
Nadia memilih untuk memeluk Ay agar aman. Ay kembali fokus ke Tivi nya. Doni mendekati mereka.
"Pak tolong buka pintunya," ucap Nadia.
"Siapa Ronal?" tanya Doni.
"Teman masa kecil saya, Pak," ucap Nadia.
"Kamu suka dia?" tanya Doni.
"Suka..." jawab Nadia. Doni merasa cemburu.
"Gak boleh," ucap Doni.
"Suka-suka saya," ucap Nadia.
"Kamu calon istri saya," ucap Ay.
"Kan masih calon belum jadi," ucap Nadia.
"Ayah dan Ibu kenapa sih ribut kali? Ay mau nonton. Ayah dan Ibu kayak main drama," celoteh Ay. Nadia dan Doni tersenyum.
"Ay, ayah mau nikah sama Ibu Nadia," ucap Doni.
"Hore... Ay seneng banget. Kapan Yah? Kapan Bu?" tanya Ay.
"Sebentar lagi," ucap Doni.
"Ay senang... Mama Nadia," ucap Ay.
Nadia memeluk dan mencium Ay semakin sayang. Sementara Doni dengan cepat berdiri di belakang Nadia dan Ay yang sedang duduk memeluk dan mencium puncak kepala Nadia dengan sayang. Nadia tampak terkejut karena saat ini dia merasa sangat berdebar.
"Sebentar saja," ucap Doni menenangkan Nadia yang berusaha memberontak. Awalnya Nadia merasa terhipnotis namun selanjutnya beristighfar dan melepaskan diri dari Doni. Doni terkekeh geli, sebagai pria normal ingin rasanya dia memakan Nadia saat ini juga.
__ADS_1
***
Sabar mas Doni. Tunggu halalan Toyyiban. Gas Keun...