Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Demam


__ADS_3

Nadia turun dengan mengenakan gamis dan jilbab. Rambutnya sudah dikeringkan pakai Hair Dryer. Doni menatap lembut ke arah istrinya yang begitu cantik di matanya. Doni merasa beruntung menikah dengan Nadia. Ay sedang berceloteh bersama ayah dan eyangnya.


"Ay sayang..." sapa Nadia. Ay menoleh.


"Ibu kemana aja? Kata ayah ibu tiduran bentar tadi. Apa ibu sakit?" tanya Ay khawatir. Nadia tersenyum menanggapi. Sementara Santi tersenyum penuh arti menatap Doni yang begitu lekat menatap istrinya.


"Ibu sehat kok sayang," ucap Nadia. "Tadi Ay beli jajan apa?" Nadia mengalihkan topik. Nadia duduk di sebelah Doni karena Doni menarik tangannya. Doni tak ingin berjauhan dari istrinya.


"Ay beli ini. Jajannya banyak," ucap Ay. "Kata ibu Ay gak boleh makan ciki. Jadi eyang beliin roti, wafer, sama susu."


"Ehm... Ibu boleh minta gak?" tanya Nadia.


"Ehm... Minta aja sama ayah. Ini semua punya Ay," ucap Ay santai sambil mengunyah makanannya.


"Ay... Gak boleh gitu. Kasih donk sama ibu nya," ucap eyang.


"Ay bercanda eyang, ini untuk ibu. Tapi jangan nempel terus sama ayah. Ibu dekat Ay, peluk Ay," celoteh Ay.


"Ibu punya Ayah, Ay," ucap Doni mengejek Ay.


"Ayah..." Nadia mulai ngambek. Nadia segera pindah tempat memeluk


"Baik tuan putri. Nih ibu udah pindah," ucap Nadia memeluk dan mencium Ay. Sementara Doni melakukan hal yang sama pada Nadia.


Santi bahagia, di usia senjanya dia mendapatkan kebahagian melihat anak dan cucunya serta menantunya hidup bahagia. Walaupun Nadia ibu sambung Ay tapi Nadia sangat menyayangi Ay.


***


Hari ini Nadia merasa kelelahan. Seperti biasa setiap ada kesempatan suaminya pasti menggempurnya terus. Jujur saja Nadia juga suka, namun rasanya badannya letih sekali hari ini seperti mau demam. Nadia berusaha membuka matanya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara suaminya sudah tidak ada di kamar itu. Sepertinya suaminya pergi ke mesjid untuk sholat. Nadia menyelesaikan hajatnya walau rasanya kepalanya sangat pusing. Setelah sholat, Nadia memilih untuk tiduran kembali di tempat tidur. Doni baru saja pulang sholat subuh. Doni memperhatikan Nadia yang sedang berbaring. Doni menatap Nadia yang sudah berganti pakaian. Sepertinya sudah selesai mandi. Doni mendekati Nadia dan mencium keningnya. Doni merasa hangat di kening Nadia. Doni panik memegang kening Nadia ternyata panas.


"Sayang... Kamu demam," ucap Doni.


"Mas..." ucap Nadia lemah sedikit membuka matanya kemudian menutupnya lagi.


"Ayo minum dulu," ucap Doni memberikan air mineral ke mulut Nadia. Nadia meminumnya patuh, kemudian menutup matanya kembali. Doni mengambil term meletakkannya di bawah ketiak Nadia. Doni menuju ke bawah mencari mamanya. "Ma..."


"Kenapa Doni? Nadia mana?" tanya Santi.


"Nadia demam," ucap Doni panik.


"Sudah kamu kasih minum?" tanya Santi.


"Sudah Ma," ucap Doni.


"Ini kebetulan bibi buat sup, coba kamu suapi. Nanti mama menyusul ke sana," ucap Santi.


"Baik Ma," ucap Doni mengambil semangkuk sup untuk Nadia. Doni membawa perlahan makanannya ke atas.


Nadia tampak tertidur lemah. Doni mendekatinya dan mengambil term di bawah ketiaknya. 39 derajat pantes panas. Batin Doni. Santi datang dan menatap Doni kebingungan.


"Belum dikasih makan Don?" tanya Santi.

__ADS_1


"Belum Ma, Nadia masih tidur. Doni gak tega bangunin," ucap Doni.


"Ya udah biar Nadia mama yang jagain. Kamu harus berangkat kerja," ucap Santi.


"Doni gak usah masuk kerja hari ini yah Ma, Doni gak fokus nanti," ucap Doni.


"Ya sudah terserah kamu," ucap Santi meninggalkan mereka.


Doni mendekati Nadia dan ikut berbaring di sebelahnya. Doni memeluk Nadia begitu erat sehingga panasnya berpindah ke Doni. Doni pun merasa gerah dan membuka bajunya.


"Mas peluk," ucap Nadia lemah masih memejamkan mata. Doni tersenyum menatap istrinya yang begitu manja saat ini.


"Makan dulu yah sayang, sedikit aja. Nanti kita tidur lagi," ucap Doni. Nadia mengangguk lemah. Doni menyuapi Nadia sedikit demi sedikit. Nadia memaksa dirinya untuk makan. Nadia lebih banyak minum. Sepertinya dia dehidrasi.


"Udah mas," ucap Nadia. "Mau peluk lagi."


Doni tersenyum menatap Nadia yang begitu manja. Doni belum memakai bajunya. Doni terkejut karena Nadia juga membuka bajunya. Doni langsung on.


"Ayo mas... peluk," ucap Nadia.


"Baiklah..." ucap Doni berusaha menahan diri karena saat ini Doni on tinggi.


"Kalau demam harus dipeluk mas biar turun panasnya," ucap Nadia. Doni tersenyum menanggapi dan dengan senang hati memeluk istri tercintanya.


Sebelumnya Doni mengunci pintunya agar aman. Nadia merasa nyaman dipeluk Doni kemudian perlahan tertidur dalam dekapan suaminya. Sementara Doni yang on tinggi menahan dirinya dan tetap memeluk istrinya.


***


"Ayah dan Ibu masih di kamar Nak. Ibu sakit," ucap Santi.


"Ibu sakit? Ay mau ke atas eyang liat ibu Nadia," ucap Ay yang bersiap untuk naik.


"Jangan Ay, Ibu lagi tidur. Nanti gak sehat kalau Ay berisik," ucap Santi.


"Ay gak akan berisik eyang. Ay pelan-pelan nanti datangnya," ucap Ay keras kepala tetap naik ke atas. Santi hanya membiarkan saja Ay ke sana.


Ceklek... Ceklek... Terdengar gagang pintu berbunyi. Doni yakin itu pasti Ay. Doni hanya tersenyum saja.


"Ibu... Ay mau masuk... Ibu sakit yah?" tanya Ay pelan di balik pintu. Nadia tidak bergeming sama sekali. Setelahnya tidak terdengar lagi suara sepertinya Ay menyerah.


Ay turun dengan wajah yang cemberut dan masam. Santi yang memperhatikan itu menyadari bahwa cucunya tidak berhasil masuk.


"Eyang... Ay gak mau makan. Ay mau liat ibu Nadia," ucap Ay merengek.


"Gak boleh gitu lah sayang, Ay harus makan biar gak sakit. Nanti kita liat ibu Nadia sama-sama.


Doni turun dan menatap putrinya yang belum menyentuh makanannya. Doni tersenyum menatapnya.


"Ay... Kenapa makanannya gak dimakan?" tanya Doni.


Ay menatap Doni dan memeluk ayahnya.

__ADS_1


"Ayah... Ay mau liat Ibu... Ibu sakit yah?" tanya Ay.


"Iya ibu sakit, tapi Ay makan dulu yah," ucap Doni. "Nanti selesai makan kita liatin ibu. Ayah juga udah laper ini." Ay menurut saja.


"Ay gak selera makan ayah, Ay mau makan sama ibu Nadia," ucap Ay.


"Harus makanlah Nak, kan mau sekolah," ucap Doni.


"Ay gak mau sekolah ayah," ucap Ay.


"Harus sekolah Nak, udah banyak bolosnya," ucap Doni. Mau tak mau Ay mengikuti.


Selesai makan dengan cepat Ay berlari ke tangga.


"Pelan-pelan Nak," ucap Doni mengikuti Ay diikuti Santi juga.


Ay pelan-pelan membuka pintunya kemudian meletakkan satu jarinya ke bibirnya membuat Ay terlihat menggemaskan.


"Sudah agak turun panasnya Ma," ucap Doni mengecek term nya kembali. Doni sudah memakaikan pakaian Nadia kembali.


"Syukurlah Nak, kamu ini perhatikan kondisi tubuh istrimu," ucap Santi. Doni hanya tersenyum menanggapi perkataan mamanya.


"Ibu gak bangun? Ibu gak meninggal kan Eyang?" tanya Ay mulai menangis.


"Hush... Ay gak boleh ngomong sembarangan," ucap eyang. "Udah ayo kita turun. Biar ayah temani ibu di sini."


"Baik eyang," ucap Ay patuh.


***


Nadia terbangun dengan kepala yang agak ringan. Ini sudah hampir siang. Nadia menuju ke kamar mandi karena kebelet. Nadia menuntaskan hajatnya dan kembali ke tempat tidur. Doni tertidur di sebelahnya tanpa memakai baju. Nadia menatap tubuh Doni yang atletis. Wajah tampan Doni terlihat semakin tampan saat tertidur.


"Makasih sayang, udah jagain dan rawat aku," ucap Nadia mencium hidung Doni kemudian mengecup bibirnya. Nadia merasakan Doni membalas kecupannya. "Mas... Kamu sudah bangun?"


Doni tersenyum menatap Nadia.


"Sayang... mas... ingin..." ucap Doni serak.


"Mas... aku baru sehat ini," ucap Nadia manja. Doni tertawa.


"Maafin mas yah sayang karena sudah sering maksa, habisnya mas gak tahan sayang. Liat ni sudah on kembali," ucap Doni.


"Mas... Nadia juga minta maaf yah karena mas jadi merasa kurang karena Nadia begitu lemah," ucap Nadia sedih. Doni yang menatap itu merasa kasihan.


"Nggak sayang... Memang dasar mas nya saja yang selalu ingin peluk kamu, sayang. Mas ketagihan sayang. Ngeliat kamu saja mas on, apalagi kalau kamu agresif sayang," ucap Doni. Nadia tersipu malu atas kejujuran suaminya.


Nadia memeluk dan mencium Doni membuat Doni tak ingin melepaskannya begitu saja. Jujur saja Nadia juga sebenarnya ketagihan namun Nadia malu mengakuinya.


"Sudah sayang, nanti mas gak ingin sekali tapi berkali-kali. Kamu barus sehat sehat sayang," ucap Doni berusaha menahan diri.


"Na mau dipeluk," ucap Nadia manja. Jadilah sepasang suami istri itu masih tetap peluk-pelukan sepanjang hari. Doni merasa bahagia karena Nadia selalu membutuhkannya. Begitu juga dengan Nadia yang merasa bahagia karena Doni selalu ada untuknya. Nadia teringat kenangan saat pertemuan-pertemuan mereka semasa di TK hingga membuatnya terus mencintai pria ini.

__ADS_1


__ADS_2