Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Konflik Menjelang Nikah


__ADS_3

"Aduh...malunya..." Ucap Nadia berkata sendiri cepat-cepat menuju kamarnya.


"Ibu bilang apa?" Tanya Ay.


"Nggak ada Nak," ucap Nadia.


"Ibu gak tau berenang yah?" Tanya Ay.


"Nggak Nak, ibu pernah hampir tenggelam waktu kecil makanya ibu trauma," ucap Nadia.


"Ayah jago renang lho ibu. Banyak lagi medalinya," ucap Ay.


"Oh ya?" Tanya Nadia penasaran.


"Iya bu, Ay juga diajari ayah berenang. Nanti ibu minta ajari ayah aja berrnang biar gak tenggelam lagi," ucap Ay.


"Iya Ay anak pinter. Ibu ganti baju dulu yah. Dingin," ucap Nadia.


Nadia dan Ay memasuki kamar dan segera mengganti pakaiannya di kamar mandi. Saat mengganti pakaian Nadia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Mendadak wajahnya memerah saat memegang bibirnya. Ciuman pertamaku. Batinnya.


Ceklek. Nadia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Ay yang asyik menggambar dengan buku dan pulpen entah dari mana. Nadia membiarkannya saja. Nadia menyisir rambutnya yang panjang dan masih basah.


"Ay gambar apa?" Tanya Nadia.


"Ay gambar ayah, eyang, Ay dan Ibu Nadia, opa dan oma juga mau Ay gambar," ucap Ay tersenyu masih asyik mencoret-coret.


"Pinter yah Ay," ucap Nadia.


"Iya donk ibu. Ay kan anak ayah," ucap Ay bangga.


"Iya deh yang kesayangan ayahnya," ucap Nadia.


Ay terkikik geli.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu di luar. Ay yang masih asyik menggambar mengabaikan ketukan pintunya. Nadia membuka pintunya. Sosok jangkung ganteng itu tengah tersenyum melihatnya. Pakaiannya sudah berganti dan rambutnya juga sudah tersisir rapi.


"Ay mana?" Tanya Doni.


"Lagi menggambar," ucap Nadia malu-malu.


"Nadia baik-baik saja kan?" Tanya Doni.


"Baik," ucap Nadia. "Makasih yah udah nolong aku."


"Sama-sama sayang. Nanti saya ajari berenang," ucap Doni tersenyum.


"Bisa gak jangan panggil itu? Risih dengernya," ucap Nadia.


"Itu apa?" Tanya Doni menggodanya.


"Tau ah..." Ucap Nadia.

__ADS_1


"Idih ngambek... Tapi makin cantik," ucap Doni. "Nadia kata papi tadi malam ini juga kita akan dinikahkan."


"APA?" Nadia melototkan matanya tak percaya.


***


"Papi... Nadia protes. Kenapa papi mau nikahi Nadia malam ini juga?" Tanya Nadia merengek. Saat Doni mengatakan itu Nadia sendiri langsung menemui papinya. Nadia meminta Doni untuk menemani Ay.


"Nadia... Kamu sudah dewasa. Apa kamu mencintai Doni?" Tanya papinya. Pertanyaan papinya yang tiba-tiba tidak bisa Nadia jawab. "Papi tau kamu mencintainya. Begitu juga dengan dia. Papi gak mau kalian lama-lama seperti ini nanti jadi tambah dosa dan fitnah."


"Papi... Tapi Nadia belum ada persiapan," ucap Nadia merengek.


"Belum ada bagaimana, semua sudah mami siapkan Nak. Malam ini kalian akad nikah. Sebulan lagi kita resepsi," ucap maminya menyela.


Nadia hanya merengut tidak terima atas keputusan ini. Lebih tepatnya ini terlalu cepat baginya.


"Mami liat dia cinta banget sama kamu Na. Saat kamu tenggelam tadi Doni sangat panik sampai menangis," ucap maminya.


"Hah!" Nadia tidak percaya. Hatinya menghangat


"Cowok kayak gitu jangan sia-siain Na. Nanti direbut orang lho," ucap mami nakut-nakuti.


"Bagaimana?" Tanya papi. "Kamu mau mundur?"


Nadia hanya tersenyum malu-malu.


"Oke selesai Isya nanti kamu dan Doni akan papi nikahkan," ucap Bram.


***


"Bagaimana? Apa kata papi?" Tanya Doni. Saat ini mereka tengah di ruang keluarga. Ay sedang asyik bermain boneka.


"Papi tetap kekeh mau nikahin kita," ucap Nadia cemberut membuat Doni gemas.


"Alhamdulillah..." Ucap Doni. Nadia melirik sinis ke Doni.


"Seneng banget," ucap Nadia.


"Seneng donk sudah halal ngapa-ngapain," ucap Doni. Nadia melototkan matanya.


"Dasar mesum," ucap Nadia spontan. Doni menjawil pipi Nadia dengan gemas.


"Mesum sama istri yah gak papa malah berpahala," ucap Doni.


"Ehem... Kalian ini mau saat ini juga papi nikahkan? Belum apa-apa udah main colek-colek aja," ucap Bram yang saat itu datang bersama Santi dan maminya.


Santi dan mami hanya senyum-senyum saja. Sementara keduanya merasa malu dan berdiri.


"Cie... Doni yang udah gak sabaran," ejek mamanya.


Nadia merasa malu dan ingin kabur.


"Mau kemana? Ini pakaian kalian. Coba pas kan!" Ucap Maminya.

__ADS_1


Nadia dan Doni melihat begitu banyak pakaian yang di bawa pelayan-pelayan mereka dengan warna dan model yanh berbeda. Doni bukannya melihat pakaiannya sendiri namun Doni lebih memilih melihat pakaian yang akan dikenakan Nadia nantinya.


"Doni gak suka yang ini." Doni menyingkirkan satu pakaian. "Ini warnanya terlalu norak, yang ini... Terlalu terbuka. Ini terlalu ketat. Ini kependekan. Ini kepanjangan."


"Doni kenapa jadi kamu yang nentuin?" Tanya Bram memulai drama percekcokan.


"Doni gak mau pi pakaian Nadia tidak sesuai dengan seleranya. Nadia juga tidak cocok pakai itu semua," ucap Doni. Santi dan maminya manggut-manggut setuju. Bram memilih diam. Nadia merasakan kehangatan di hatinya.


Nadia menyentuh satu pakaian yang menurutnya pas untuk dia. Pakaiannya syar'i namun kelihatan mewah dan seperti ngepas di badannya. Doni melirik dan segera mengambil pakaian itu.


"Ini sesuai dengan Nadia," ucap Doni.


Nadia menyetujuinya. Begitu juga dengan yang lain. Ternyata walaupun dingin kayak kulkas diam-diam Doni perhatian juga.


"Pakaian Doni bisa disesuaikan dengan pakaian Nadia," ucap Doni.


"Halo... Ada apa ini pi? Kenapa tiba-tiba papi minta dikirimin banyak pakaian pengantin? Siapa yang mau nikah pi?" Tanya Sonia yang saat ini baru datang dengan pakaian yang glamor dengan jilbab yang dililitkan ke lehernya.


"Nadia dan Doni akan menikah malam ini," ucap Maminya.


"WHAT? NO... NO... NO... Pi, Sonia gak setuju," ucap Sonia.


"Siapa yang minga persetujuanmu?" Ucap Papi.


"Papi... Sonia ini kakak Nadia, Pi. Seharusnya Sonia yang harus lebih dulu apa-apa ketimbang Nadia. Sonia gak mau," Sonia mulai merengek. Nadia langsung males nanggepi. Begitulah egoisnya Sonia. Oleh karenanya Nadia tidak begitu akrab dengan Sonia karena Sonia selalu ingin lebih unggul dari Nadia dalam segala hal. Membuat Nadia muak. Apalagi papinya selalu menuruti kemauannya.


"Sonia... Ini sudah keputusan papi," ucap Bram melihat Nadia dan Doni.


"Sonia gak mau Pi," ucap Sonia merengek.


"Sonia sudah cukup Nadia selalu mengalah sama kamu," ucap maminya.


"Kenapa sih mami selalu belain Nadia? Papi... Sonia mau nikah duluan pi," ucap Sonia.


Bram menjadi bimbang. Begitulah Bram yang selalu luluh jika Sonia sudah bertindak membuat Nadia muak. Doni yang menyadari itu tidak terima calon istrinya selalu ditekan seperti itu dalam keluarganya.


"Mi... Bagaimana ini?" Tanya Bram pada maminya.


"Papi harus laksanakan ucapan papi," ucap maminya tegas.


"Tapi Sonia bagaimana?" Tanya papinya.


"Jika Papi tidak menikahkan kami malam ini juga. Saya akan membawa Nadia. Mohon maaf seharusnya papi tidak berat sebelah. Papi harus laksanakan ucapan papi," ucap Doni mengancam. Wajah Bram tampak merah padam. "Pernahkan papi tanya bagaimana perasaan Nadia selama ini selalu ditekan seperti ini dalam keluarga? Apa papi tau bagaimana menderitanya Nadia saat hidup mandiri. Hampir diculik, hampir dilecehkan. Saya merasa tidak senang papi mengabaikan perasaan Nadia."


Bram terasa ditampar oleh kata-kata Doni yang menohok.


"Eh... Nadia... Papi... Papi... Minta maaf..." Ucap papi terbata.


"Papi gak adil," ucap Sonia menangis dan pergi berharap seperti biasa dikejar papinya. Doni melihat Sonia murka. Ternyata ini yang selama ini dihadapi Nadia. Batinnya.


"Seperti yang saya katakan di awal jika papi tidak menikahkan kami malam ini saya akan membawa Nadia," ancam Doni.


"Oke... Oke... Akan saya laksanakan," ucap Bram merasa malu dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2