Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Ronal dan Oppa


__ADS_3

Doni tidak bergeming ditatap penuh murka oleh Bram. Pasrah jika harus dimarahi. Sementara Santi dan Mami Nadia mengelus dada. Nadia sendiri merasa malu.


"Papi, ini gak seperti yang papi bayangkan. Jelaskan dulu Ay," ucap Nadia.


"Gini opa. Ay kan tadi lasak waktu Ibu Nadia obati kepala Ayah karena luka dan bengkak." Semua melihat ke arah kepala Doni. Benar memang ada perban di sana. "Trus Ay lasak mau jatuh. Jadi Ibu Nadia tangkep Ay. Karena ibu Nadia tangkep Ay, jadi ibu Nadia mau jatuh. Jadilah ayah peluk ibu Nadia biar gak jatuh."


"Ehem..." Bram berdeham pelan mengetahui kejadiannya seperti itu. Tapi tetap saja dia tak suka Nadia dipeluk orang lain. "Kamu jaga jarak dari anak saya." Bram menunjuk Doni. Doni menundukkan wajahnya.


"Iya Ay bilang sama ayah kalo ayah gak boleh peluk ibu Nadia sebelum menikah," celoteh Ay lagi. "Ay mau Ayah dan Ibu Nadia nikah biar Ay ada adek baru. Ayah Ay ganteng lho opa, baik lagi."


"Usia Ay berapa Nak? Kok bijak kali sih?" tanya mami Nadia. Ay menoleh ke arah mami Nadia. "Panggil saya oma, saya mamanya Ibu Nadia."


"Oma itu apa?" tanya Ay.


"Oma itu eyang, Ay," ucap Santi.


"Oh... Umur Ay 4 tahun oma," ucap Ay.


"Mama Ay kemana?" tanya Mami Nadia.


"Ay gak kenal bunda Ay, Ay udah putus asa sama bunda Ay," ucap Ay. "Bunda Ay, Ibu Nadia."


Semua yang ada di situ tersenyum namun tidak dengan Bram. Wajahnya murka menatap Doni. Selesai makan Bram mengajak Doni.


"Saya ingin bicara dengan Kamu," ucap Bram tegas. Doni mengikuti Bram dengan Bram dengan berani.


Sementara itu Nadia merasa cemas apa yang akan Papi nya lakukan padanya. Ay duduk di pangkuan Nadia.


"Ibu... Ayo kita keliling rumah ibu, Ay mau liat apa aja di rumah ibu," celoteh Ay.


"Ayo..." ajak Nadia semangat melupakan kecamasannya terhadap Doni.


"Ayo kita ke belakang, besan," ucap Mami Nadia, Tasya. Santi tampak terkejut kemudian tersenyum.


"Ayo, Besan," ucap Santi.


Nadia mengajak Ay ke tempat acara di kolam belakang. Di sana semakin padat. Bagaimana tidak, di sana ada kakaknya yang penuh glamor dan ketenaran. Mereka sedang bernyanyi dan menari di sana. Nadia memilih duduk di sebuah meja mengajak Ay sambil minum jus dan es krim. Ay senang karena makanan kesukaannya tersedia di sana.


"Ay mau berenang Ibu," ucap Ay melihat kolam renang di sana.


"Emang Ay tau berenang?" tanya Nadia.


"Tau lah Ibu, ayah kan sering ajak Ay berenang," celoteh Ay.


"Nanti ajari Ibu yah," ucap Nadia tersenyum.


"Ibu Nadia gak tau berenang?" tanya Ay.


"Tau... Tapi gak gitu ahli kali," ucap Nadia.


"Nanti minta ajari ayah yah Ibu," ucap Ay.

__ADS_1


"Ibu malu Ay," ucap Nadia.


"Cie... Ibu Nadia..." goda Ay. Nadia pun tertawa.


"Permisi... Boleh duduk di sini?" tanya seorang pria tinggi dan berkacamata. Sepertinya dia seorang model.


"Silakan," ucap Nadia singkat.


Pria itu menatap tajam ke arah Nadia. Namun Nadia cuek saja.


"Kenalin nama saya, Ronal," ucapnya mengulurkan tangan.


"Nadia..." ucap Nadia tanpa membalas uluran tangan itu.


Ronal menarik tangannya namun tersenyum menatap Nadia. Nadia memilih mengabaikannya.


"Kamu adiknya Sonia?" tanya Ronal.


"Iya..." ucap Nadia singkat menyeruput jusnya.


"Cantik... Imut..." ucapnya tersenyum masih menatap Nadia. Nadia menoleh sekilas.


"Makasih..." ucap Nadia.


"Ibu... Es krim Ay sudah habis," ucap Ay.


"Oiya Nak, sekarang mau apa?" tanya Nadia semangat. Sementara pria itu beralih menatap Ay.


"Maaf saya fikir kita tidak cukup dekat untuk saling berbagi informasi," ucap Nadia. "Permisi."


"Kenapa pergi?" tanya Ronal memegang tangan Nadia. Nadia menepis tangannya. "Oh maaf... Saya hanya ingin berteman."


"Maaf..." ucap Nadia.


"Kamu tidak ingat saya?" tanya Ronal. Nadia mengerutkan keningnya. "Saya Ronal. Tak ingatkah? Ron... Kamu ingat nama itu, Dia?"


"Ron? Ron teman masa kecil aku?" tanya Nadia memastikan.


Ron melepas kacamatanya kemudian Nadia melihat bekas luka di pelipis Ron. Itu bekas luka saat mereka belajar naik sepeda dulu. Ron mengembangkan senyumnya. Nadia ingat senyum itu. Hanya Ron yang memanggil namanya Dia. Sementara keluarga dan yang lainnya memanggil Na.


"Ya Allah... Ron. Apa kabar?" tanya Nadia Happy kembali duduk.


"Alhamdulillah aku sehat Dia," ucap Ron.


"Sudah sukses kamu sekarang yah?" ucap Nadia.


"Yah... Tidak sesukses kamu, Dia," ucap Ron.


"Ron... kamu baru gabung di agensi kakak?" tanya Nadia.


"Sudah lama Dia, hanya kamu saja yang gak pernah perhatikan aku. Sementara aku meraba-raba mencari keberadaan kamu, Dia. Saat Sonia mengadakan perjamuan di sini, aku yakin bisa ketemu ternyata benar, keberuntungan aku," ucap Ron.

__ADS_1


"Ibu Nadia, Ay mau kentang goreng," ucap Ay.


"Bentar yah Nak," ucap Nadia.


"Ayo om ajak ambil kentang goreng nya!" ajak Ron.


"Om ganteng ini siapa?" tanya Ay.


"Makasih sudah bilang om ganteng. Nama om, Ronal. Om sahabatnya ibu Nadia," ucap Ronal.


"Tapi lebih ganteng ayah Ay donk," ucap Ay mulai pamer. Nadia hanya tertawa.


"Ayo kita ambil kentang gorengnya," ajak Ronal menggendong Ay. Ay merasa senang digendong Ronal.


Mereka kembali kemeja dengan dua piring besar kentang goreng.


"Banyak amat Ron," ucap Nadia.


"Aku masih ingatlah, kalau Tuan Putri Dia suka kentang goreng juga," ucap Ronal. Nadia tersenyum mengunyah kentang goreng nya begitu juga dengan Ay.


"Ay yang tuan putri," celoteh Ay gak mau kalah. Nadia dan Ronal tertawa senang. Agak lama mereka berbincang.


***


Doni baru saja keluar dari ruangan kerja Bram. Doni diintrogasi oleh Bram. Akhirnya Bram menyetujui hubungan Nadia dan Doni. Namun, Bram mengatakan agar Doni berjuang sendiri agar Nadia bersedia menikah dengannya. Doni mencari keberadaan Nadia dan Ay. Doni melihat ke arah kolam renang belakang dan menatap ke arah Nadia, Ay, dan seorang pria yang begitu bahagia tertawa bersama. Doni mendekat ke arah mereka.


"Nadia..." ucap Doni menatap tajam ke arah Nadia.


Deg! Di mana ada Doni, pasti Nadia langsung berdebar. Ronal menoleh ke arah Doni.


"Ahn Hyo Seop," ucap Ronal berdiri menatap Doni.


Oke... Saat ini keduanya berdiri berhadapan. Sama tinggi dan sama ganteng. Pahatan karya Tuhan yang sempurna. Hanya saja yang satu ramah, yang satunya kulkas 12 pintu. 🤣 Doni yang ditatap Ronal menatap Ronal datar.


"Ayo Ay..." ajak Doni.


"Ay masih mau makan kentang goreng ayah..." ucap Ay.


Ronal menatap Ay dan Doni bergantian.


"Oppa Ahn Hyo Seop ini ayahnya Ay?" tanya Ronal.


"Om Ronal, itu ayah Ay bukan Opa," ucap Ay polos. Maksud Ay opa kakek. sementara maksud Ronal oppa korea. jadilah mereka tidak nyambung. Nadia tertawa mendengar penuturan Ay. Doni menatap tajam ke arah Nadia.


"Kenalin oppa... Saya Ronal," ucap Ronal mengulurkan tangannya.


"Doni," ucap Doni singkat tegas sambil menjabat tangan Ronal.


"Cooooollllll..." ucap Ronal. Nadia tertawa mendengar penuturan Ronal dan menyetujui pendapat Ronal. "Saya fikir Oppa Ahn Hye Seop. Tapi mirip lho."


"Saya Doni, bukan opa," ucap Doni datar. Nadia tersenyum. Jadilah kesalahfahaman itu semakin besar. 🤣

__ADS_1


__ADS_2