
Nadia sampai ke kosannya dengan selamat. Nadia merasa heran dengan perkataan dan sikap Doni. Ada apa dengan dia? Batin Nadia.
Keesokan harinya kejadian aneh lainnya terjadi. Ay dipindahkan ke kelas yang lain atas permintaan orang tuanya. Nadia merasa ada yang tidak beres.
"Na, sudah tau Ay pindah kelas?" tanya Mala.
"Sudah Kak," jawab Nadia.
"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh?" tanya Mala.
"Merasa sih Kak, tapi Na lebih milih abai. Karena Na mau fokus kerja aja," ucap Nadia.
Sementara di tempat lain, Rasya merasa senang karena Nadia dan Doni sudah tidak akur begitu juga dengan Ay. Langkahnya selanjutnya untuk menjauhkan mereka semakin terbuka lebar. Rasya merasa menang dan sudah di atas angin.
Saat pulang sekolah anak-anak sudah berkumpul di luar menunggu jemputan orang tua. Nadia memilih berada di kelas membersihkan kelasnya. Tak lama sosok mungil itu muncul mendatangi Nadia.
"Ibuuuuuu..." Ay memeluk Nadia. Nadia tampak kaget.
"Ay... Belum dijemput?" tanya Nadia.
"Belum Ibu," jawab Ay. "Telfon ayah."
Nadia menunjukkan ponselnya pada Ay.
"Ini foto siapa Bu?" tanya Ay melihat profil Nadia bersama Papi dan Maminya.
"Ini ayah Ibu, yang ini bunda Ibu," ucap Nadia.
"Ayah ibu ganteng yah. Bunda Ibu juga cantik," celoteh Ay. Nadia tertawa renyah.
"Ayah Ay juga ganteng, bunda Ay juga cantik. Makanya Ay imut," ucap Nadia gemas.
"Ay gak mau pindah kelas, Ay mau di kelas Ibu," ucap Ay. Nadia hanya tersenyum.
Tak lama Ay dijemput oleh tantenya.
***
"Ayaaaahhhh..." panggil Ay saat sudah di rumah.
__ADS_1
"Ay," panggil Doni masih dengan laptopnya.
"Ayah... Kenapa Ay pindah kelas? Ay gak mau pindah kelas. Ay mau ke kelas Ibu Nadia," ucap Ay.
"Ay... Ayah lagi sibuk. Nanti kita bahas yah," ucap Doni.
Ay merajuk dan berlari ke kamar ayahnya. Doni hanya menghela nafas.
"Ay kenapa Nak?" tanya Santi.
"Gak ad Ma," ucap Doni.
"Mama dengar Ay pindah kelas dari kelas Nadia. Kenapa?" tanya Santi.
"Gak papa Ma," ucap Doni.
Santi menghela nafas dan pergi mendatangi Ay yang merajuk. Ay menangis di tempat tidur ayahnya.
"Aysila," panggil eyangnya. "Ayo makan."
Ay menangis kemudian berhambur memeluk eyangnya.
"Ay gak mau pindah kelas eyang. Ay mai di kelas Ibu Nadia. Ay sayang Ibu Nadia," ucap Ay sesenggukan.
Santi membawa Ay turun untuk makan. Sementara Doni sudah berada di sana fokus dengan ponselnya. Doni tidak menyadari Ay dan Santi yang datang dan mendekat.
"Itu kan foto Ibu Nadia dan ayah Ibu Nadia," ucap Ay melihat foto di layar Doni. Doni tampak terkejut menatap Ay.
"Maksud Ay yang ini?" tanya Doni menunjukkan foto Nadia bersama sangkaan Sugar Daddy nya.
"Iya... Itu Ibu Nadia sama ayah Ibu Nadia," ucap Ay polos. "Tadi kan Ay di sekolah sama Ibu Nadia. Trus Ay liat di ponsel Ibu Nadia ada foto Ibu Nadia sama Ayah dan Bunda Ibu Nadia. Ayah dan Bunda Ibu Nadia ganteng dan cantik lho yah. Pantesan Ibu Nadia cantik. Terus... Ibu Nadia bilang Ayah dan Bunda Ay juga ganteng dan cantik makanya Ay cantik." Celoteh Ay tersenyum mengingat momennya bersama Nadia tadi.
"Ya sudah, sekarang cucu eyang makan dulu yah. Udah habis energi celoteh aja," ucap eyangnya.
Ay dan Santi pun makan dengan lahap. Sementara Doni tidak demikian. Ada perasaan bersalah dalam dirinya. Kenapa dia begitu saja percaya dengan apa yang dilihatnya tanpa menyelidikinya? Doni merasa goblok sendiri. Selesai makan Doni tidak fokus dengan apa yang dikerjakannya.
***
Beredar rumor yang tidak menyenangkan di sekolah. Nadia dikatakan sebagai simpanan Sugar Daddy. Entah rumor dari mana sampai semua Orang Tua Murid melakukan protes massal agar mengeluarkan Nadia dari sekolah. Nadia berkali-kali menerangkan dan menyangkal bahwa kabar itu tidak benar. Namun tidak ada yang percaya. Karena beredar foto Nadia bersama seorang pria yang wajahnya di-blur menaiki mobil mewah. Nadia melihatnya bahwa itu mobil Papinya dan dia yakin bahwa foto yang di-blur itu Papinya. Tapi bagaimana foto itu bisa beredar. Maka dengan berat hati Nadia mengundurkan diri dari sekolah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, warahmatullahi wa barakaatuh... Berdasarkan permasalah dan isu yang terjadi di sekolah maka saya mengajukan pengunduran diri saya dari sekolah ini. Saya memohon maaf jika saya telah menyinggung banyak orang. Namun yang ingin saya tekankan bahwa isu yang beredar itu tidak benar. Untuk saat ini saya tidak ingin mengajukan klarifikasi namun seiring berjalannya waktu semua akan terjawab. Terima kasih atas kerja sama yang diberikan kepada saya selama ini. Saya undur diri. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh."
Semua yang mendengarkan ada yang merasa senang, ada yang merasa sedih, dan ada yang merasa acuh tak acuh. Nadia merasa sedih dengan keadaan yang terjadi. Namun Nadia tidak ingin secepat ini menyatakan identitasnya di depan semua orang. Nadia berjalan keluar gerbang dengan hati yang sedih. Tak terasa air matanya menetes. Sekolah yang selama ini dicintainya. Orang-orang yang dirindukannya. Nadia sedih mengingat semuanya.
Mobil putih itu terparkir di sana. Doni baru saja sampai mengantar Ay ke sekolah. Doni terkejut melihat orang yang ramai di dalam. Sepertu habis demo. Di sisi lain Doni menatap kibasan jilbab yang menjauhi sekolah itu. Doni merasa ada yang tidaj beres.
"Ayo Ay!" Ajak Doni menggendong Ay dan mengejar Nadia.
"Ibu Nadia," sapa Ay.
Nadia tampak terkejut, berbalik dan memeluk Ay. Nadia mengambil Ay dari tangan Doni kemudian Nadia melampiaskan tangisannya sambil memeluk Ay. Doni yang melihat itu merasa iba. Bagaimana pun Doni juga merasa bersalah atas perkataan dan perlakuannya pada Nadia. Serta tuduhan yang diberikan kepada Nadia. Doni tidak tau harus bagaimana. Kemudian Doni memiliki ide. Doni menuju ke mobilnya kemudian melajukan nya lalu membukakan pintu depan agar Nadia dan Ay masuk ke dalam. Nadia masih menangis sesenggukan sambil memeluk Ay.
"Ibu Nadia kenapa?" tanya Ay memecah keheningan. Nadia masih menangis.
Mengapa wanita ini begitu banyak air mata. Dari tadi tidak mau berhenti menangis. Batin Doni. (Ya iyalah Pak! Namanya perempuan. Tolong bersikap untuk peka.) 😏
Doni membawa Nadia dan Ay ke sebuah taman yang tenang. Nadia sebenarnya merasa malu. Pasti saat ini wajahnya kelihatan jelek. Nadia buru-buru mengenakan maskernya agar tidak kelihatan. Nadia mulai merasa tenang.
"Halo... Saya izin sebentar yah, tolong hendle sekolah. Terima kasih," ucap Doni menelfon seseorang di seberang.
"Maafkan saya... Biarkan saya di sini saja Pak! Bapak dan Ay boleh pergi," ucap Nadia.
"Ay gak mau, Ay mau sama Ibu Nadia," ucap Ay.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Doni menatap Nadia yang bermata sembab.
Kemudian Nadia menceritakan kejadian yang terjadi di sekolah, Nadia kembali menangis menceritakan semuanya. Namun Nadia masih menutupi siapa dia sebenarnya. Walaupun Doni sudah tau bahwa yang bersama Nadia itu ayahnya, bukan Sugar Daddy nya.
"Terus... Selanjutnya Ibu mau kemana?" tanya Doni.
"Sudah tidak ada tempat bagi saya di sini Pak! Maka saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya," ucap Nadia.
Doni tampak terkejut sekaligus merasa sedih. Dia merasa bodoh karena melakukan hal konyol beberapa hari ini.
"Ibu mau kemana?" tanya Ay yang mulai ingin menangis. "Jangan tinggalin Ay. Ay mau ikut." Kali ini Ay gantian menangis. Nadia memeluk Ay dengan hangat dan mengelus-elus punggungnya. Nadia juga mencium Ay beberapa kali.
"Apa Ibu sangat menyayangi Ay?" tanya Doni.
"Tentu saja, Ay pinter, lucu, dan menggemaskan," ucap Nadia tersenyum dibalik maskernya.
__ADS_1
"Kalau begitu apakah Ibu bersedia menikah dengan saya?" tanya Doni dengan berani pada akhirnya.
Nadia terdiam menatap Doni begitu juga sebaliknya. Kemudian Nadia membuang mukanya merasa gugup dan malu. Bagaimana tidak, pendengarannya tidaklah salah. Dia sedang di lamar ayah dari anak didiknya. Untungnya saat ini dia memakai masker, jika tidak pasti wajahnya akan kelihatan merah padam saat ini. Sementara Doni sudah merasa yakin akan pilihannya. Entah kenapa dia tidak ingin jauh dari wanita ini. Dia ingin melindunginya. Dia ingin memilikinya dan menjadi bagian dalam hidupnya.