
Melati 12
Nadia bergegas masuk ke dalam. Sementara yang lain diminta menunggu di luar. Nadia merasa cemas dan was-was. Nadia membuka pintu, memasukkan kepalanya dan bertatapan dengan wajah tampan itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Nadia.
"Wa'alaikum salam, masuk Ibu. Pakai aja sandalnya," ucap bunda Ay.
Nadia memakai sandalnya kembali. Doni menatap Nadia dengan tatapan sendu. Nadia meraih tangan bunda Ay.
"Cepat sehat yah bunda," ucap Nadia. Kemudian menyerahkan bingkisan di tangannya kepada Doni tanpa menatap Doni.
Doni memberikan kursi kepada Nadia. Nadia memberi jarak yang aman. Selama Nadia berbicara dengan bunda Ay. Doni berkali-kali menatap Nadia yang memakai masker kemudian beralih ke bundanya. Doni sengaja menghubungi tante Ay melalui VC. Panggilan pun terhubung.
"Nak... Ayo... Siapa ini?" tanya Doni menyerahkan ponselnya kepada Nadia. Nadia mengambil ponsel dari tangan Doni. Nampak wajah Ay di sana.
"Ibuuuu..." seru Ay semangat. Nadia melepas maskernya dan membelakangi Doni.
"Ay... Ay udah makan belum?" tanya Nadia.
"Ini mau makan Ibu," ucap Ay.
"Makan pakai apa Nak?" tanya Nadia.
"Pakai ikan lele," ucap Ay.
"Hm... enak itu. Makan yang banyak yah Nak," ucap Nadia.
"Iya, ibu. Semalam kecelakaan sama bunda," ucap Ay.
"Besok Ay sekolah nggak?" tanya Nadia.
"Nggak Ibu," ucap Ay.
"Iya tunggu sehat kali yah Nak, baru boleh sekolah," ucap nadia.
"Iya Ibu," ucap Ay.
"Oke yan Nak, Assalamu'alaikum," ucap Nadia.
"Wa'alaikum salam Ibu," ucap Ay.
"Aduuuh..." bunda Ay merasa sakit di kepalanya.
"Kenapa bunda?" tanya Nadia cemas.
"Ini gak sengaja tangan pegang kepala yang di operasi," ucap bunda Ay.
"Ya udah istirahat aja bunda, saya permisi dulu," ucap Nadia.
Doni pun ikut bersama Nadia keluar menelusuri setiap pintu kamar yang mereka lewati. Nadia memilih untuk terlebih dahulu di depan Doni. Sementara Doni mensejajarkan langkahnya di sebelah Nadia. Jujur saja saat itu Nadia merasa gugup. Jantungnya berdebar dengan keras. Bagaimana tidak, setelah berpisah ternyata dia masih mencintai pria itu. Namun dia rasa dia sudah terlambat karena sekarang pria itu kembali bersama bundanya. Biarlah! Asal Ay bahagia mereka berkumpul bersama.
__ADS_1
"Jadi tadi gak sekolah?" tanya Nadia.
"Nggak Ibu, sudah permisi sama atasan," ucap Doni. Nadia melirik sekilas ke wajah tampan Doni yang bertambah tampan.
Saat di pintu keluar Doni membukakan pintu untuk Nadia.
"Terima kasih," ucap Nadia.
Doni tersenyum menatap kibasan jilbab Nadia dengan tatapan sendu. Yah! Karena permintaan Ay, Doni saat ini harus mengurus bundanya. Karena Ay cerita bundanya luka-luka karena menyelamatkan Ay. Nadia sendiri sudah ikhlas dengan kejadian yang terjadi.
Sehari sebelum kejadian.
Nadia mendatangi sekolah yang begitu dirindukannya bersama dengan para ajudannya. Semua terpana menatap kehadiran Nadia. Termasuk orang tua yang pernah mencemoohnya. Terakhir terdengar kabar bahwa Nadia adalah putri kedua seorang Pengusaha Besar, Bram Wijaya. Nadia memang selalu menyingkat namanya, Nadia Putri W. Ternyata W adalah singkatan dari Wijaya.
"Ibu Nadia," sapa gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca menatap Nadia yang begitu dirindukannya.
Nadia segera memeluk dan mencium putri kecil itu dengan sayang tanpa berkata apa pun. Ay terdengar menangis sesenggukan di bahunya. Momen haru itu tidak disia-siakan banyak orang. Sementara pria jangkung itu menatap Nadia dengan tatapan sendu. Ternyata perkiraannya benar, gadis yang dicintainya itu bukanlah orang biasa. Dia sendiri merasa tidak pantas bersama gadis itu. Nadia menatap lurus ke arah Doni. Pria jangkung yang semakin lama semakin tampan di matanya. Nadia begitu merindukannya. Begitu juga sebaliknya. Mala juga memeluk Nadia dengan erat saat bertemu dengannya. Nadia berjanji akan sering mengabari Mala.
Acara pun dimulai. Nadia bintang utama acara itu. Nadia menyumbangkan dana dari Yayasan yang dikelolanya. Juga memberikan hadiah kepada murid yang berprestasi. Salah satunya adalah Ay. Nadia menepati janjinya memberi hadiah pada Ay. Saat selesai acara Ay berceloteh.
"Ibu, Ay gak mau pulang," ucap Ay.
"Ay harus pulang, istirahat. Biar besok sekolah lagi," ucap Nadia.
"Ay," sapa sebuah suara di belakang Nadia. Suara yang begitu dirindukannya, yang mampu menggetarkan seluruh hatinya. Nadia tidak berani menoleh. Doni mendatanginya. "Apa kabar Ibu Nadia?"
"Alhamdulillah, baik Pak," jawab Nadia sekenanya sambil mengelus pipi Ay.
"Ay ayo pulang!" ajak Doni.
"Ay... Ay harus istirahat, besok bisa sekolah lagi," ucap Nadia.
"Aysila..." sapa sebuah suara.
Deg! Itu bundanya Ay, Rasya.
"Bunda..." sapa Ay.
"Halo Ibu Nadia! Apa kabar?" ucap Rasya ramah, berbanding terbalik dengan perlakuan terakhirnya.
"Baik bunda," ucap Nadia seadanya.
"Kenapa Ibu gak cerita kalau Ibu, putri kedua dari Bram Wijaya, adik dari Sonia Putri Wijaya," ucap Rasya ramah.
"Untuk mencari sahabat tak perlu memandang status tinggi dan rendah nya orang lain, Bunda. Itu prinsip hidup saya," skak Nadia sambil tersenyum.
Doni yang mendengarkan ikut tersenyum puas. Sementara Rasya merasa tidak senang. Ternyata walaupun mereka dilahirkan dari rahim yang sama namun karakter mereka jauh berbeda bagai bumi dan langit. Sonia dan Nadia. Siapa yang tidak kenal Sonia pengusaha pakaian Modelling serta pemilik Agensi Modelling yang terkenal. Memilih hidup glamor dan menikmati hasil kekayaan ayahnya. Tidak dengan Nadia.
"Ehem... Ajak Ay pulang," ucap Doni.
"Baik Mas," ucap Rasya sebenarnya tidak suka. Ay menurut saja pada Rasya. Mereka berdua meninggalkan Nadia dan Doni.
__ADS_1
"Dadah Ibu Nadia," ucap Ay.
"Dadah Ay," ucap Nadia. Nadia ingin beranjak dari sana.
"Tunggu," ucap Doni.
"Ada apa?" tanya Nadia ketus.
Doni tersenyum mendengar Nadia yang berkata ketus.
"Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Doni dengan pede nya.
Deg! Nadia refleks mengangkat wajahnya menatap Doni yang tersenyum manis. Kemudian, Nadia membuang mukanya.
"Tidak," jawab Nadia berbohong.
"Oh... Oke..." ucap Doni tersenyum meninggalkan Nadia begitu saja.
"Only That? Hanya itu?" umpat Nadia.
Keesokan harinya Nadia mendapat kabar dari Doni bahwa Ay dan bundanya mendapatkan kecelakaan semalam. Betapa shock nya Nadia saat itu. Sehingga tanpa persiapan Nadia pergi ke RS yang dituju. Namun, ternyata Ay tidak ada di sana. Hanya Rasya dan Doni berduaan di kamar itu. Nadia sedikit cemburu. Namun, bisa menetralkan dirinya sendiri untuk belajar ikhlas.
Melati 12
Di pintu depan itu, Doni memanggil Nadia.
"Tunggu," ucap Doni.
Mau drama apa lagi dia? Batin Nadia. Nadia kembali masuk.
"Apa?" tanya Nadia ketus. Kali ini Nadia berhadapan dengan pria jangkung itu.
Doni tersenyum dan merasa gemas melihatnya.
"Ehm... Kapan Ibu balik?" tanya Doni.
"Hari ini," jawab Nadia.
"Hari ini? Secepat itu?" tanya Doni.
"Ya, kenapa?" tanya Nadia.
Doni tampak ragu ingin mengatakan sesuatu pada Nadia membuat Nadia berdebar.
"Jika Bapak mau menyatakan cinta pada saya, maaf saya menolak. Lagipula Anda kan sudah kembali bersama mantan istri Anda. Baguslah! Saya ikut senang. Pasti Ay juga bahagia. Ayah dan bundanya kembali lagi," ucap Nadia.
Bukannya kesal, Doni malah tertawa mendengar penuturan Nadia barusan. Bukan apa-apa, Doni tau persis bahwa gadis itu sedang cemburu sebenarnya namun tidak mengakuinya. Namun, Doni senang ternyata dia masih ada kesempatan.
"Ih... Malah ketawa. Ternyata benar yah di RS itu banyak hantunya sekarang pindah ke Bapak," ucap Nadia. "Da ah... Saya pergi dulu yah Pak! Permisi..."
Doni meraih tangan Nadia saat Nadia ingin meraih handle pintu. Deg!
__ADS_1
***
Kira-kira setelah itu mereka ngapain yah? Jangan terlalu tinggi khayalan yah karena KUA masih tutup. 😁😁😁