Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Menginap Lagi


__ADS_3

Mereka makan di meja makan. Sudah tersedia menu yang banyak.


"Ay mau disuap Ibu," ucap Ay.


"Aysila, makan sendiri donk. Kan sudah biasa makan sendiri," ucap Doni.


"Ay sering disuap Ibu Nadia di sekolah ayah. Ibu Nadia sering bawa bekal untuk Ay makan kalau ayah lupa antarkan bekal makannya," celoteh Ay. Doni tersenyum.


"Iya yah Ay? Jadi selama Ibu gak di sekolah ayah masih lupa antar makanannya gak?" tanya Nadia.


"Nggak Ibu, kata ayah, ayah sengaja gak bawa makanan biar Ibu telfon," ucap Ay polos.


Nadia membulatkan matanya menatap Doni yang pura-pura sibuk dengan makanannya. Sementara Santi tersenyum melihat tingkah mereka. Andai Nadia mau jadi istri Doni, batinnya.


Selesai makan, Ay mengajak Nadia ke kamarnya. Minta dibacakan dongeng. Sementara Doni menemani para pengawal Nadia untuk makan dan ngopi.


"Oh ya Tuan kenalkan nama saya Wildan," ucap pengawal yang tadi membawa mobil Doni.


"Santai ajak Pak Wildan, panggil saja saya Doni," ucap Doni ramah. Wildan hanya mengangguk.


"Saya Boy, Pak," ucap yang satunya.


"Saya Neo, Pak," ucap yang lain. Mereka memperkenalkan satu per satu.


"Nama kalian unik-unik," ucap Doni.


"Itu hanya julukan Pak," ucap Wildan.


Para pengawal Nadia tinggi besar dan tegap. Apa Nadia aman bersama mereka? Batin Doni.


"Bapak tidak perlu khawatirkan Nona, sebenarnya Nona itu keluarga kami. Kami dilatih secara khusus untuk mengawal mereka," ucap Wildan.


Doni tampak terkejut, karena Wildan menyadari apa yang ada dalam hati Doni.


"Oh... Maaf... Pak," ucap Doni.


"Ayah Nona, Tuan besar kami memiliki Ibu tiri. Ibu tirinya ini memiliki anak. Anak dari Ibu tirinya inilah yang menjadi musuh besar ayah Nona," ucap Wildan memulai cerita.


"Bukan nya mereka satu ayah?" tanya Doni menyadari sesuatu.


"Tidak Pak Doni, Ibu tiri Tuan besar berselingkuh dengan orang luar," ucap Wildan.


"Jadi yang tadi?" tanya Doni menanyakan bule yang tadi menyerang Nadia.


"Benar Pak, mereka suruhan Pak Frans," ucap Wildan. "Mereka tidak terima karena semua harta ayah Tuan Besar dialihkan pada Tuan Besar saat ayahnya meninggal."


Doni manggut-manggut. Ternyata begini kehidupan konglomerat, batin Doni.


"Apa Bapak mencintai Nona?" tanya Wildan terus terang. Doni tampak malu menggaruk tengkuknya. "Sudah Pak! Nggak usah Bapak tutupi. Anggap saja Bapak berbicara dengan Wali Nona."


"Aduh... Pak. Gak usah dibahas dulu yah Pak," ucap Doni.

__ADS_1


Mereka pun bercerita sampai tengah malam. Sementara Ay sudah terlelap saat Nadia selesai membacakan dongeng. Begitu juga dengan eyangnya di kamarnya. Nadia keluar, ingin melihat situasi. Nadia berdebar saat melihat punggung Doni yang duduk bersama para pengawalnya.


"Nona," sahut Wildan.


Doni berbalik dan menatap Nadia penuh cinta. Mengapa saat malam dia semakin cantik. Batin Doni.


"Ehem..." ucap Wildan.


"Apa aman?" tanya Nadia pada Wilda menutupi kegugupannya.


"Aman Nona, kami bergantian berjaga," ucap Wildan. "Neo di depan."


"Oke, kalau ada sesuatu kabari saya," ucap Nadia. "Bapak tidak tidur? Bukannya besok mau sekolah?" tanya Nadia pada Doni.


Doni tersenyum mendengar Nadia yang begitu memperhatikannya.


"Kamu khawatir saya terlambat?" tanya Doni.


"Bukan, Pak. Saya khawatir karena Ay nanti terlambat ke sekolah kalau bapak terlambat bangun," ucap Nadia. "Bisa-bisanya Bapak jadi kepala sekolah sering telat. Emangnya Bapak yang punya yayasan?"


Doni hanya tersenyum mendengar kata-kata Nadia yang nyelekit.


Nadia segera masuk ke dalam, disusul oleh Doni. Doni mensejajarkan langkahnya di sebelah Nadia. Doni yang jangkung menjulang di sebelahnya. Nadia merasa kan debaran begitu juga dengan Doni.


"Ay mana?" tanya Doni saat sudah di depan pintu kamar Ay.


"Sudah tidur, Pak," ucap Nadia menahan debaran di dadanya.


Apa katanya tadi? Duh... panas... Batin Nadia


"M... Iya..." ucap Nadia singkat segera masuk ke kamar Ay.


Doni di luar tersenyum kembang mengingat tingkah Nadia yang begitu menggemaskan. Dia yakin juga akan bermimpi indah.


***


Pagi hari, Nadia sudah sibuk berkutat di dapur. Saat Doni, Ay, dan Santi keluar kamar mereka menghirup masakan yang lezat.


"Nadia... Kenapa repot-repot masak?" tegur Santi.


"Nadia sudah biasa, Bu," ucap Nadia tersenyum.


"Ibu masak apa?" tanya Ay. "Wah... Ibu masak banyak. Kesukaan Ay."


Nadia merasa senang. Begitu juga dengan Doni dan Santi karena Ay biasanya paling malas kalau makan. Kalau makan makanan Nadia pasti Ay lahap. Terbukti Ay banyak makan pagi itu.


"Ay mau bawa bekal ini, Ay mau bilang sama teman-teman," ucap Ay.


"Ay gak boleh pamer," ucap Nadia.


"Ayo... Ayah antar ke sekolah," ucap Doni.

__ADS_1


"Ay mau diantar Ibu Nadia juga," ucap Ay merengek. Doni dan Santi melirik Nadia.


"Oke... Ayo kita berangkat," ucap Nadia.


"Hore..." Ay merasa senang.


"Nadia juga sekalian pamit yah Ibu," ucap Nadia menyalam Santi. Doni tersenyum melihat Nadia yang sopan kepada Mamanya. Sementara Ay sudah duluan ke mobil.


"Sering-sering ke sini yah, Nak," ucap Santi.


"Insya Allah Ibu," jawab Nadia.


Saat Nadia dan Doni menuju ke mobil, Doni nyeletuk.


"Insya Allah itu harus dipertanggungjawabkan lho," ucap Doni.


"Iya Pak Doni yang ganteng dan baik hati," ucap Nadia mengejek.


"Bagus... Bagus..." ucap Doni. Mereka saling melempar canda di pagi itu.


Selesai mengantar Ay. Nadia pun pamit pada Doni. Namun Doni merasa tidak rela.


"Oh... Ya... Nadia... sekarang kan sudah bergerak di yayasan Amal. Apa tidak berminat kerja sama di sekolah saya?" tanya Doni mencoba mengulur waktu.


"Pak Wildan apa nanti ada urusan kita yang mendesak?" tanya Nadia.


"Tidak ada Nona. Hanya saja nanti sore ada acara kumpul keluarga bersama Nona Sonia yang baru pulang," ucap Wildan.


"Oh..." hanya itu yang dikatakan Nadia. "Baiklah bisa kita bicarakan hari ini."


"Silakan masuk Bu Direktur," ucap Doni mempersilakan Nadia masuk ke mobilnya. Nadia tersenyum dan masuk ke dalam diiringi mobil para pengawalnya.


Doni tidak berhenti tersenyum. Kemudian dia ingat harus menghubungi seseorang.


"Halo... Tolong cepat rapikan kantor saya. Pagi ini kita ada tamu penting," ucap Doni datar.


Tak lama mereka sampai di sekolah yang terbilang cukup elit. Lapangannya sangat luas dan memiliki beberapa kelas. Doni membukakan pintu Nadia. Semua yang di sana terpana melihat Doni yang begitu perhatian pada seorang wanita selain putri dan mamanya. Bahkan pada mantan istrinya sendiri dia tidak seperhatian itu. Bahkan Doni yang terkenal pembersih tidak ingin mobilnya dinaiki oleh orang lain selain keluarganya namun mau memberikan tumpangan pada Nadia. Bahkan senyum di wajahnya tidak pernah hilang sekalipun karena biasanya Doni sering memasang wajah cool dan cuek nya pada semua orang.


"Sudah selesai Pak," ucap seorang asisten yang mengenakan blous dan rok pendek dan agak ketat di depan Doni. Asisten itu menatap tidak suka ke arah Nadia. Karena sudah lama dia mengincar Doni dan ingin menggantikan posisi bunda Ay.


"Perkenalkan ini Direktur Yayasan xxx," ucap Doni dingin. "Bu Direktur, ini Windi, asisten saya."


Kedua perempuan itu saling berjabat tangan dan saling berkenalan. Nadia tersenyum ramah pada Windi. Sementara Windi senyum terpaksa.


"Ayo..." ajak Doni.


Mereka menuju ke lift khusus kepala. Santi dan Nadia mengikuti Doni diikuti dua orang pengawal Nadia. Mereka sampai di depan pintu kantor yang bertuliskan kepala Yayasan. Nadia bertanya-tanya dalam hati apa mereka langsung bertemu dengan kepala yayasannya?


***


Hayo... Tebak... Siapa kepala Yayasannya???

__ADS_1


__ADS_2