Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
The First Night


__ADS_3

Huh! Menyebalkan sekali aku harus pura-pura baik dan ngalah sama Nadia. Batin Sonia. Anak ini cerewet banget lagi. Sonia menatap Ay yang dari tadi tidak mau berhenti mengoceh. Kalau bukan karena ancaman papi yang mau menarik semua fasilitasnya aku sih ogah baik-baikin mereka.


"Ay... Tante tinggal dulu yah. Tante ada telfon mendadak ini," ucap Sonia yang sengaja mengelak. Males banget harus ngurusin anak orang. Ih...


"Yah... Ay ditinggal sendiri," ucap Ay murung melihat punggung Sonia yang menjauh.


Sementara di tempat lain yang sedsng bergumul. Nadia merasakan sensani berbeda yang belum pernah dirasakannya selama ini.


"Stop... Stop..." Ucap Nadia menghentikan aktivitas suaminya. Doni merasa frustasi karena sedang on.


"Kenapa?" Tanyanya dengan suara dingin.


"Ke...kebelet pipis," ucap Nadia merasa malu.


Doni melepaskan Nadia. Nadia mencari bajunya ingin dipakai kembali.


"Gak usah dipakai, nanti dibuka lagi," ucap Doni.


"Na malu mas," ucap Nadia.


Doni pun membiarkan Nadia mengenakan kembali pakaiannya. Ribet banget sih. Fikirnya.


Setelah sepuluh menit Nadia belum juga keluar dari kamar mandi. Doni menjadi tidak sabar. Dia yang awalnya on jadi off kembali.


"Sayang... Kenapa lama sekali?" Tanya Doni mengetuk pintunya.


"Mendadak mules," ucap Nadia.


Doni menghembuskan nafas kasar. Sepertinya dia harus banyak bersabar menghadapi istrinya. Doni cemberut meraih ponselnya. Doni mensearching hal-hal yang harus dilakukan untuk MP. Doni mempelajarinya dengan cepat. Nadia keluar dari kamar mandi. Doni menatap Nadia dengan tatapan dingin.


"Sudah selesai?" Tanya Doni. Nadia mengangguk gugup tidak mau beranjak dari sana. Doni menjadi tidak sabar.


"Kenapa?" Tanya Doni mendekati Nadia. Doni mengelus kepala Nadia dan mentapnya lembut.

__ADS_1


"Ehm..." Nadia tampak gugup dan gemetar. Doni menjadi semakin gemas dan ingin memakannya.


"Ayo..." Doni menarik tangan Nadia menuju sofa yang ada di ruangan itu dan duduk di sana. "Kalau adek belum siap, mas gak akan paksa." Nadia merasa lega dengan ucapan Doni barusan. Nadia memeluk Doni dengan erat.


"Maafin Nadia," ucap Nadia. Doni kembali on lagi namun menahannya demi istrinya.


"Baiklah... Gak papa. Nanti kalau sudah siap bilang sama Mas yah," ucap Doni. Nadia mengangguk dalam pelukan Doni sehingga kepala Nadia mengelus-elus dada Doni membuat Doni semakin menegang. Doni beberapa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sekarang kita tidur yah!" Ajak Doni. Nadia mengangguk.


Walaupun mereka ke tempat tidur tapi Nadia tidak mau melepas pelukannya pada Doni membuat Doni semakin tidak tahan. Namun Doni suka Nadia yang bermanja seperti itu padanya.


"Ayo tidur!" Ajak Doni. Nadia masih menatap Doni malu-malu.


"Kenapa lagi?" Tanya Doni heran.


"M... Boleh pegang wajah mas?" Tanya Nadia. Doni menaikkan alisnya.


"Dari awal jumpa Nadia mau pegang wajah mas karena gemes," ucap Nadia menyentuh pipi, kening, rambut, dan hidung Doni. Doni terkekeh geli.


"Kenapa? Karena saya ganteng?" Goda Doni. Nadia mengangguk malu.


"Duh... Bisa-bisa mas gak tahan mau makan adek kalau terus-terusan adek puji gitu," ucap Doni.


"Ehm..." Nadia kembali gugup. Doni melirik Nadia.


"Udah... Akan mas tahan kok sampai adek siap," ucap Doni. "Walau sebenarnya sakit nih kejepit."


"Apanya yang kejepit mas?" Tanya Nadia. Memang istrinya benar-benar polos.


"Ini," ucap Doni menunjuk ke arah bawah. Nadia melihat ke arah bawah dan wajahnya memerah dan menggigit bibirnya.


"Jangan digigit gitu bibirnya, jadi mau mas cium," ucap Doni langsung menyosor. Nadia menikmati setiap yang dilakukan suaminya. Pria yang sudah dia goda gara-gara ucapan ayah gantengnya. "Duh... Makin kejepit." Nadia mentap ke bawah dan menyentuhnya membuatnya semakin on.


"Masih sakit?" Tanya Nadia polos mengelus-elus di bawah sana. Doni berusaha menahan dirinya.

__ADS_1


"Sayang..." Panggil Doni dengan suara serak sudah mode on tinggi. Matanya sayu siap menerkam Nadia kapan saja. "Kalau adek terus menyentuh seperti itu mas semakin tidak tahan." Nadia melepaskan tangannya melihat wajah suaminya semakin memerah. Nadia menjauhi suaminya.


"Maafin Nadia mas," ucap Nadia. Doni segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Nadia membisu dan berfikir. Nadia merasa berdosa dan bersalah. Nadia mengingat betapa berdosanya dia saat ini membuat suaminya menderita. Nadia harus siap. Nadia membuka seluruh pakaian tidurnya dan memakai lingeri yang sudah disiapkan maminya. Kemudian Nadia memakai baju tidurnya kembali. Jujur saja Nadia merasa malu memakai lingeri itu. Nadia mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas..." Panggil Nadia. "Buka pintunya."


Ceklek! Pintu terbuka menampakkan Doni yang mengenakan handuk di pinggangnya. Rambutnya kelihatan basah. Badannya seperti roti sobek menambah kharisma kejantanannya. Nadia terpesona menyentuh roti sobek Doni dengan wajah memerah.


"Sayang... Plis..." Ucap Doni dingin.


"Nadia siap mas," ucap Nadia. Maafin Nadia karena sudah egois." Nadia gemetar namun memberanikan diri. Nadia membuka seluruh pakaian tidurnya. Mata Doni terbelalak melihat pemandangan yang indah di depannya. Doni pun kembali on tinggi.


"Benar, adek siap sayang?" Tanya Doni mendekati Nadia. Nadia mengangguk.


Doni pun menggendong Nadia kemudian kembali mencium Nadia. Nadia merasakan sesuatu yang mengganjal di depannya. Nadia menerima dan membalas setiap serangan yang diberikan suaminya.


Nadia merasakan sensasi berbeda saat Doni mengeksplor setiap incinya. Doni merasa tidak sabaran dan merobek lingeri Nadia dengan sekali tarikan.


Doni menatap sesuatu yang belum pernah terjamah sekalipun. Doni menyentuh dengan lembut dan perlahan. Nadia begitu bahagia karena diperlakukan dengan lembut oleh suaminya.


"Mas... Sunah memakai selimut," ucap Nadia. Doni menyampirkan selimutnya asal sehingga mereka berdua tertutupi sedikit. Doni membacakan do'a diubun-ubun Nadia.


"Sayang... Kalau sakit bilang yah! Mas gak akan lanjutin," ucap Doni.


"Mas... Boleh Nadia pegang?" Tanya Nadia penasaran di balik selimut. Doni terkekeh geli.


"Boleh sayang," ucap Doni. "Tapi jangan lama-lama yah mas udah gak tahan."


"Mas apa bisa?" Tanya Nadia takut.


"Coba saja sayang," ucap Doni mencium Nadia.


"Nadia siap mas," ucap Nadia tanpa ragu.

__ADS_1


Mereka pun kembali di balik selimut asal saja.


Doni merasakan sensasi tiada tara. Nadia sendiri sudah membiasakan diri walau awal agak perih. Saat ******* pertama Nadia mengatakan ingin pipis membuat Doni menahan senyum namun tetap melanjutkan aktivitasnya. Doni tidak ingin menyakiti istrinya karena baru pertama kali khawatir akan cedera. Maka Doni melakukannya dengan lembut dan perlahan membuat Nadia merasa menjadi satu-satunya perempuan yang dicintai Doni. Nadia merasa bahagia karena sudah menikah dengan pria yang dicintainya. Begitu juga dengan Doni yang merasa bahagia karena menikahi wanita yang dicintainya. Dia yakin Nadia adalah wanita terakhir yang akan selalu bersamanya dalam suka dan duka. Doni berjanji tidak akan gagal lagi dalam membina bahtera rumah tangganya.


__ADS_2