Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Doni dan Rudi


__ADS_3

"Mas..." panggil Nadia. Saat ini mereka sedang berada di halaman belakang. Roby dan Ay berenang dengan bebek karetnya.


"Kenapa sayang?" tanya Doni.


"Em... Roby... Boleh nginep di sini?" tanya Nadia takut. Doni menatap Nadia dingin.


"Ayahnya kemana?" tanya Doni.


"Mas Rudi berangkat keluar kota. Tadi mas Rudi minta tolong Nadia. Dia gak tau lagi mau minta tolong sama siapa," ucap Nadia.


"Keluarganya di mana?" tanya Doni.


"Dekat rumah papi, mas," ucap Nadia.


"Jadi kalian tetanggaan?" tanya Doni menyelidik.


"Mas Rudi itu suami dari sepupu Nadia, mas," ucap Nadia mulai cerita. "Sepupu Nadia itu begitu dekat dengan Nadia, namanya Hana. Nadia lebih dekat dengan Hana dari pada kak Sonia." Bulir air mata menetes di pipi Nadia. "Hana meninggal di meja operasi saat melahirkan Roby. Mas Rudi begitu terpukul atas kepergiannya. Apalagi Nadia, mas. Jadi, walau bagaimanapun, Roby juga anak Nadia."


Doni menggenggam erat tangan Nadia untuk menenangkan. Doni membiarkan Nadia untuk menangis sejenak. Doni begitu bahagia karena Nadia adalah wanita yang begitu mencintai anak-anak.


"Iya sayang, mas izinkan Roby untuk menginap, tapi tidak dengan ayahnya. Mas juga sayang sama Roby. Dia imut persis Ay," ucap Doni.


"Makasih mas," ucap Nadia bahagia menghapus sisa air matanya.


"Ayah... Ayah... tolongin Roby..." teriak Ay.


Tanpa ba bi bu, Doni langsung melompat ke arah air berhasil menyelamatkan Roby yang tenggelam. Bebek karet Roby nyasar ke kolam yang dalam dan akhirnya terjatuh.


"Roby... Nak..." Nadia menangis.


"Mas, bawa ke rumah sakit yah!" ucap Doni panik. Dalam keadaan pakaian Doni yang masih basah kuyup. Doni segera menuju ke mobil. Neo sudah siap di kemudi segera melajukan mobilnya. Ay dan Nadia juga ikut di dalam mobil.


"Tante... uhuk... uhuk..." Roby merasa sesak di dadanya.


"Iya sayang... bentar lagi kita ke rumah sakit yah," ucap Nadia. "Mas... Roby menderita asma sejak lahir. Karena lahir prematur paru-parunya menyempit."


"Sabar yah sayang, berdo'a. Insya Allah Roby selamat," ucap Doni.


Ponsel Nadia berdering. Nadia mengangkat dari Santi.


"Assalamu'alaikum," ucap Santi. "Kalian di mana Nak?"


"Wa'alaikum salam, Ma. Kami menuju rumah sakit Ma. Roby tenggelam tadi," ucap Nadia.


"Ya Allah... Nanti mama menyusul ke sana yah," ucap Santi. "Apa yang dibutuhkan?"


"Nanti Nadia kirimkan pesanannya yah, Ma," ucap Nadia.


Nadia mengetik cepat agar Santi membawa pakaian ganti Doni, Roby, dan membawa tanaman herbal yang dulu pernah dikasih Nadia untuk obat mertuanya itu. Tanaman itu tumbuh subur di sana.


"Mas kedinginan?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Roby yang lebih kedinginan sayang," ucap Doni yang masih memeluk Roby.


"Bentar yah Nak. Bentar lagi kita sampai. Roby kuat kan Nak?" ucap Nadia.


Nafas Roby masih naik turun. Sesekali terbatuk.


"Ibu... Roby gak akan meninggalkan?" tanya Ay merengek.


"Nggak Nak, kita do'ain sama-sama yah Sayang agar Roby sehat," ucap Nadia memeluk Ay.


"Ayah..." ucap Roby lemah.


"Ini ayah sayang..." ucap Doni. "Ayah ada sama Roby."


Nadia terharu sampai menitikkan air mata melihat Doni yang begitu menyayangi Roby. Doni mengecup puncak kepala Roby membuat Roby tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya yang dalam.


Akhirnya mereka sampai di ruang ICU. Doni langsung melengkapi segala administrasinya dan Roby langsung mendapat penanganan maksimal dan ruangan yang bagus. Doni tidak peduli harus kehilangan banyak uang. Bersyukur Roby berangsur normal kembali pernafasannya walau pun masih harus diinfus. Ayah Roby menelpon Nadia. Nadia panik.


"Angkat aja sayang. Katakan sejujurnya," ucap Doni.


"Assalamu'alaikum, mas Rudi," ucap Nadia.


"Mana Roby, Na. Mas kangen," ucap Rudi mengalihkan ke panggilan video.


"Ayah..." ucap Roby yang sudah kembali ceria.


"Roby di mana Nak? Kenapa diinfus? Nadia Roby kenapa?" tanya Rudi panik.


"Gimana Mas?" tanya Nadia.


"Rudi segera berangkat pulang ke sini," ucap Doni.


"Roby mau makan lagi Nak?" tanya Doni perhatian.


"Roby mau makan lagi, Ayah disuapin tante Nadia," ucap Roby.


"Anak pinter," ucap Doni mengelus kepala Roby karena senang dipanggil ayah.


***


Rudi sampai di rumah sakit malam hari. Santi, Nadia dan Ay sudah pulang ke rumah. Sementara Doni setia menemani Roby yang bermain dan akhirnya tertidur. Rudi menatap tajam ke arah Doni yang setia menemani Roby sambil mengaji.


"Eh... Pak Rudi," ucap Doni segera beranjak.


"Sudah tidur dia?" tanya Rudi berbisik.


"Sudah Pak, barusan saja," ucap Doni.


"Terima kasih yah," ucap Rudi. Saya keluar sebentar. Ternyata Rudi ingin mengurus administrasi dan ternyata sudah ditanggulangi Doni.


Rudi kembali masuk ke kamar.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya pada anak saya," ucap Rudi. "Kirimkan nomor rekeningnya biar saya ganti!"


"Tidak usah Pak," ucap Doni.


"Istri saya begitu menyayangi Roby. Begitu pun saya," ucap Doni.


Rudi pun menangis. Doni merasa iba melihat pria di depannya itu menangis. Jika dia di posisi Rudi, mungkin dia akan merasakan hal yang sama.


"Kamu pulang saja, saya sudah di sini," ucap Rudi.


"Sekarang kita saudara Bang, tolong untuk tidak sungkan, lebih baik kita berdua menginap di sini, mereka di rumah sudah ada yang menjaga," ucap Doni.


"Terima kasih atas perhatian kamu. Panggil saja saya Rudi," ucap Rudi.


"Saya Doni," ucap Doni.


Pada akhirnya kedua pria itu menginap di rumah sakit itu dan saling mengobrol sampai pagi berbagi kisah kehidupan. Ternyata mereka memiliki karakter, kesukaan, dan hobi yang sama, sehingga mereka lebih mudah akrab satu sama lain.


Keesokan paginya Roby terbangun. Roby menatap kedua ayahnya yang masih tidur terbaring di sana.


"Ayah..." panggil Roby. Rudi segera bangun terlebih dahulu dan mendapati Doni yang masih terlelap. Sepertinya dia kecapekan menjaga Roby.


"Iya sayang... Abang mau apa?" tanya Rudi mendekati putra semata wayangnya.


"Roby haus ayah," ucap Roby. Rudi pun memberikan minuman kepada Roby.


"Mau makan Nak?" tanya Rudi.


"Ayah bawa roti?" tanya Roby.


"Nggak sayang, ayah lupa," ucap Rudi.


"Ayah Doni masih tidur?" tanya Roby.


"Ayah?" tanya Rudi heran.


"Iya ayah... Roby senang punya dua ayah. Roby juga senang ada tante Nadia dan Ay, juga eyang," ucap Roby semangat.


Tak lama Doni pun terbangun.


"Udah bangun anak Ayah?" tanya Doni mendekat. Rudi tersenyum bahagia.


"Udah ayah, Roby mai roti," ucap Roby.


"Roti yah... Bentar yah... Nah... ini sayang... Rotinya..." ucap Doni menyerahkan Roti ke tangan Roby.


"Biar ayah buka yah Nak!" ucap Rudi.


Tak lama terdengar suara adzan.


"Kamu sholat aja duluan, Doni. Nanti kita gantian," ucap Rudi.

__ADS_1


"Oke Rud," ucap Doni berlalu.


__ADS_2