
Nadia selesai berdandan. Kemudian Nadia mengenakan Gaun elegan berwarna Navy pilihan Maminya. Maminya memilihkan gaun yang cantik tapi tetap menutup auratnya. Nadia juga mengenakan jilbab senada berwarna Navy. Nadia tampak begitu anggun. Nadia segera turun. Ternyata sudah banyak yang hadir di sana. Semua mata menatap kagum ke arah Nadia yang terlihat begitu anggun.
"Adik kecilku..." sapa seseorang menubrukkan dirinya pada Nadia memeluk dan menciumnya, siapa lagi kalau bukan Sonia, kakaknya. "Kakak rindu, kangen."
Segera saja semua menatap ke arah kedua kakak beradik itu. Nadia memeluk Sonia sekenanya saja. Banyak yang meliput mereka.
"Rindu kakak ku yang cantik," ucap Nadia tersenyum.
Mami yang melihat mereka ikut merasa bahagia begitu juga dengan papi mereka. Segera saja banyak kamera meliput mereka. Jujur saja Nadia tidak suka diliput seperti ini. Berbeda dengan kakaknya yang menyukai ketenaran. Nadia berusaha melepaskan diri dari Sonia dan awak media yang mewawancarainya.
Nadia memilih untuk berada di lapangan depan. Di sana tidak begitu banyak orang hanya ada beberapa orang saja yang baru hadir. Karena tempat parkir terletak di depan.
"Ibu Nadia," sapa seseorang. Nadia menoleh. Ternyata dia adalah Bunda Ay bersama seorang Pria di sebelahnya. Mereka tampak serasi dengan pakaian senada.
"Eh... Bunda... Apa kabar?" tanya Nadia ramah sambil menjabat tangannya.
"Baik," ucap bunda. "Perkenalkan ini Tom."
Pria di sebelahnya ingin menjabat tangan Nadia juga namun Nadia hanya mengatupkan kedua tangannya. Maka pria itu pun menarik kembali tangannya.
"Silakan masuk bunda," ucap Nadia.
Rasya menggandeng Tom masuk ke dalam. Sementara Nadia masih tetap berada di luar. Nadia memainkan ponselnya ternyata masih ada pesan Doni yang belum dibacanya. Nadia tersenyum menatap layar ponselnya.
"Emangnya mau dipanggil apa Doni?" ucap Nadia berbicara sendiri menatap ponselnya. "Panggil Mas, Abang, atau Ayah?" Nadia tersenyum sendiri.
'Baik Ayah.'
Nadia mengirimkan pesan diikuti emoticon ngakak. Tak lama dapat balasan emoticon ngakak juga. Nadia merasa bosan maka Nadia ingin kembali ke kamarnya. Tapi bagaimana caranya dia juga pusing karena banyaknya pers di dalam.
"Ibu Nadia..." teriak suara kecil. Nadia berbalik melihat gadis kecil memakai gaun setengah berlari ke arah Nadia. Di belakangnya Santi. Namun Doni tidak kelihatan di sana.
"Jangan lari-lari Nak, nanti jatuh," ucap Nadia.
Ay segera memeluk Nadia dan Nadia menggendong dan menciumnya.
"Kita bertemu kembali sayang," ucap Santi.
"Ibu..." Nadia mencium tangan Santi dan menurunkan Ay.
Sosok jangkung itu datang mendekati mereka dengan melemparkan senyum.
"Udah dateng ayah ganteng Ay," ucap Nadia tersenyum.
Doni tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
"Ayah imut," ucap Ay membuat kami tertawa.
"Yang imut itu Ay, bukan ayah," ucap Nadia gemas memegang kedua pipi Ay.
__ADS_1
"Di mana mertua saya?" tanya Doni menggoda Nadia. Nadia tertawa renyah.
"Siapa calon Anda? Kak Sonia?" tanya Nadia.
"M... Kalo dia mau sama saya kenapa tidak?" ucap Doni seloroh.
Mereka pun memasuki ruangan. Semua mata langsung tertuju kepada mereka.
"Oh my god, artis dari mana?"
"Sepertinya artis baru."
"Ganteng banget."
"Kayak model."
"Seperti artis korea."
Semua ribut mengomentari Doni yang memang terlihat mempesona saat ini.
"Gadis di sebelahnya bukannya adik Sonia yah."
"Jangan-jangan kekasihnya."
"Atau suaminya."
"Wih... Berita heboh ini." Mereka ingin mendekat namun...
"Siapa dia?" tanya Tom.
Rasya tersenyum kaku. Kenapa mereka di sini? Batinnya. Doni cuek saja melihat Rasya dan seorang pria di sana. Dia sudah terbiasa dengan itu.
"Eh... Ay kenapa ke sini?" tanya Rasya berbisik.
"Bunda... Ay rindu..." ucap Ay ingin memeluk Rasya namun Rasya menghindar.
Rasya memilih pergi menggandeng tangan Tom. Segera saja para awak mengejar mereka berdua melihat apa yang baru saja terjadi. Ay berusaha mengejar Rasya namun berhimpitan dengan para awak. Nadia dan Doni yang melihat itu terlihat panik. Doni menjangkau Ay yang terhimpit. Nadia merasa cemas.
"Ay..." Nadia meraih Ay digendongan Doni. Doni tampak meringis karena tadi terkena benturan dari alat kamera.
"Ibu... Bunda gak sayang Ay, bunda gak sayang Ay..." ucap Ay menangis sesenggukan.
"Duh... Kasiannya cucu eyang," ucap Santi.
"Sebelum mereka datang ayo ke atas!" ajak Nadia.
Saat mereka sampai di bawah tangga. Pria gagah paruh baya itu yang tidak lain papinya Nadia mendekati mereka.
"Siapa mereka?" tanyanya menyelidik Nadia.
__ADS_1
"Pi... Mereka..."
"Perkenalkan Pak, saya Doni," ucap Doni mengulurkan tangannya. Papi Nadia tidak bergeming.
"Papi, mereka tamu Nadia," ucap Nadia menggandeng tangan Papinya, Bram Wijaya. Ay masih berada di gendongannya.
"Bapak ini Ayah Ibu Nadia kan? Lebih ganteng yah Ibu dari pada foto di HP Ibu Nadia," celoteh Ay yang berhenti menangis.
"Siapa anak kecil ini Na? Bijak sekali dia," ucap Bram tersenyum.
"Kenalin Pak! Nama saya Aysila, panggilannya Ay, umur saya 4 Tahun," ucap Ay mengulurkan tangannya. Bram tertawa renyah. Akhirnya suasana mencair berkat Ay.
Sonia yang melihat kehebohan itu mendekati keluarganya meninggalkan tamu-tamunya. Sonia juga terpesona dengan ketampanan Doni yang ternyata kenalan adik kecilnya.
"Ada apa ini Pa?" tanya Sonia yang melirik ke arah Doni. Sementara yang dilirik cuek bebek memasang wajah cool nya.
"Nggak, mereka tamu Nadia," ucap Bram.
"Oh kenalin saya Sonia Putri Wijaya, Kakak Nadia. Pemilik Agensi dan Pakaian Modelling. Anda tidak berminat jadi model saya?" tanya Sonia mendekati Doni.
Nadia penasaran apa yang akan dikatakan Doni pada Sonia. Doni yang melihat rasa penasaran Nadia malah merasa senang. Wajah cool nya mendadak ramah.
"Oh... Saya Doni Kak. Nanti bisa kita bicarakan soal tawaran kakak," ucap Doni tersenyum ramah.
Wajah Nadia mendadak tidak enak. Apakah benar ini cemburu? Kok rasanya nyesek yah? Batin Nadia yang berusaha menutupi rasa cemburunya. Doni semakin semangat bicara dengan Sonia maksudnya ingin memanas-manasi Nadia. Nadia mengajak Santi dan Ay menuju lantai atas. Maminya juga mengikuti mereka. Maminya asyik ngobrol dengan eyang Ay. Maka Nadia mengajak Ay ke kamarnya.
"Wow... Kamar Ibu Nadia besar yah? Kayak kamar Princess. Ay mau kamar kayak Ibu Nadia," ucap Ay memelas.
"M... Ay boleh miliki kamar ini," ucap Nadia.
"Asyik... Ay senang sama Ibu," ucap Ay meloncat di tempat tidur.
Tok... tok... tok...
Terdengar ketukan pintu. Nadia membuka pintunya. Sementara Ay masih asyik lompat-lompat di tempat tidur. Ternyata Papinya yang mengetuk pintu.
"Papi kenapa ke sini? Bukan nya di bawah ada tamu papi," ucap Nadia.
"Ay mana?" tanya Bram. Nadia mengerutkan keningnya.
"Tumben banget Papi suka anak kecil?" tanya Nadia.
"Dia persis kamu waktu kecil, Na. Papi suka," ucap.
"Papi tapi papi masih ada tamu kan? Kasian tamunya, Pi," ucap Nadia mengusir papinya.
"Tapi Na..."
"Na mau ganti baju, Pi," ucap Nadia.
__ADS_1
Akhirnya papinya menyerah dan turun. Pesona apa yang kamu miliki Ay sampai semua menyukai Ay. Batin Nadia. Tapi asyik sekali ayahnya tebar pesona di bawah sana.
"Ayah dan anak 11 12," ucap Nadia.