Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Hamil


__ADS_3

"Asyik... Ay bakal punya dede' bayi. Hore..." ucap Ay semangat sambil jingkrak-jingkrak.


"Ay... makan gak boleh lompat-lompat. Nanti perutnya sakit lho," ucap Nadia mengingatkan.


"Iya ibu, Ay seneng banget Ibu," ucap Ay sumringah.


"Belum tentu juga Ibu hamil, Ay, jangan terlalu berharap," ucap Nadia.


"Yah... Ay mau punya adek bayi bu," ucap Ay menggumam.


"Makanya Ay habisin dulu makannya. Kalau belum ada adek bayinya di perut ibu nanti ayah bantu buat lagi," ucap Doni kelepasan.


"Kok jadi ayah yang bantu buatin adek? Ay juga mau ikut ayah," ucap Ay.


"Mas..." Nadia melotot memperingatkan Doni. Ay yang begitu bijak memang susah diajak kompromi.


"Ay boleh ikut yah ibu bantuin buat adek," ucap Ay semangat.


"Ay... Ayo abisin dulu makannya yah. Nanti kalau udah habis kita main lagi," ucap Nadia.


"Ingat pesan mama tadi yah Nak. Tes..." ucap Santi pada Doni dan Nadia.


"Baik ma," ucap mereka kompak.


***


Selesai makan, Nadia kembali mual dan memuntahkan isinya semua. Doni merasa cemas.


"Sayang... mas ambilin air hangat dulu yah," ucap Doni segera menuruni anak tangga. Air dispenser di kamarnya sudah habis. Nadia merasa lemas sekali. Saat Nadia ingin kembali ke kasur, penglihatannya kabur dan Nadia pingsan.


Doni dengan tergesa menuju ke kamar membawa secangkir air hangat. Alangkah terkejutnya dia melihat istrinya tergeletak di lantai. Doni segera meletakkan cangkirnya di nakas dan melihat keadaan istrinya.


"Sayang... sayang..." tanpa ba bi bu Doni membopong Nadia.


"Nadia kenapa Don?" tanya Santi cemas.


"Pingsan ma, tadi muntah terus," ucap Doni khawatir.


"Ya udah bawa ke dokter," ucap Santi.


"Iya ma," ucap Doni.


"Ibu... Ibu kenapa?" tanya Ay mulai menangis.


"Ibu cuma pingsan Ay, Ay di rumah aja yah dulu sama eyang," ucap Doni.


"Gak mau... Ay mau ikut," ucap Ay merengek.


Mereka sudah sampai di dalam mobil.

__ADS_1


"Ay sama eyang di sini aja yah biar dijagain om Neo," ucap Doni berusaha menenangkan.


"Sini sama om," ucap Neo ingin menggendong Ay. Ay pun menurut dan menangis di bahu Neo.


Sementara pengawal lainnya mengikuti mobil Doni.


"Langsung ke rumah sakit yah, Pak," ucap Doni khawatir masih memeluk istrinya dan mencium keningnya.


Karena goncangan Nadia terbangun walau masih lemas. Nadia menatap Doni yang memangkunya. Wajah tampannya terlihat cemas. Nadia menyadari saat ini mereka di mobil.


"Mas..." ucap Nadia lemah. Doni langsung menatap istrinya.


"Alhamdulillah..." Doni langsung menciumi setiap inci dari wajahnya. "Jangan bergerak dulu yah sayang, bentar lagi kita sampai di rumah sakit."


Sesampainya di rumah sakit, Doni tetap membopong istrinya.


"Ada apa Pak? Ayo letakin di sini!" ucap petugas IGD.


Doni pun meletakkan Nadia dengan perlahan di bedrest. Nadia masih lemas sekali. Segera saja Nadia mendapatkan penanganan. Saat ini infus tergantung di sana.


"Bisa jelaskan kronologinya!" tanya Dokter yang datang. Doni pun menjelaskan kronologinya. "Sudah ditespek?"


"Belum sempat dokter," ucap Doni.


"Oke nanti akan dibawa ke obgyn untuk penanganan lebih lanjut," ucap dokter tersebut.


"Haus sayang? Mau makan sesuatu?" tanya Doni menatap istrinya yang sudah terjaga penuh. Sepertinya infusnya bekerja dengan cepat.


"Yakin mau makan bakso?" tanya Doni. Nadia mengangguk. Doni pun memerintahkan salah satu pengawal untuk membelikan bakso.


Tak lama Nadia dibawa ke dokter Obgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter menekan perut Nadia dengan alat sambil melihat ke arah monitor.


"Selamat yah Pak! Janinnya tumbuh dengan baik," ucap Dokter. Doni merasa bahagia menatap penuh cinta pada Nadia. Nadia tersenyum senang. Sebenarnya Doni ingin mencium Nadia namun malu karena dokternya perempuan. "Namun sebelumnya bapak harus ingat yah. Ibu harus bed rest total karena masih di treesemester pertama. Tidak boleh kerja yang berat-berat. Kemudian, mohon maaf bapak harus menahan diri dulu untuk tidak melakukan hubungan suami istri selama 3 bulan ini."


Doni mengangguk patuh walau sebenanrnya dia tidak tahan jika tidak melakukannya kepada istrinya. Namun demi anaknya dia harus menahan diri. Nadia tersenyum melihat Doni yang manyun.


"Ini resepnya nanti ditebus yah Pak! Ingat pesan saya," ucap Dokter tersebut.


"Baik Dokter," ucap Doni.


"Jika infusnya nanti sudah habis, Ibu sudah boleh pulang," ucap Dokternya lagi.


"Terima kasih Dokter," ucap Doni tersenyum.


Wajah tampan Doni memikat Dokter itu. Biasanya selalu pasien yang baper pada dokter itu. Namun kali ini dokter tersebut malah baper liat keluarga pasiennya.


"Dokter... Pasien selanjutnya," ucap Suster mengingatkan walau sebenarnya suster itu juga terpesona oleh ketampanan Doni.


"Eh iya..." ucap Dokter.

__ADS_1


Nadia kesal karena dokternya yang sedari tadi fokus ke arah Suaminya. Memang suaminya ganteng. Tapi Nadia gak rela jadi konsumsi publik.


"Mas ayo...!" ajak Nadia. Mereka pun kembali ke kamar rawat inap.


Saat mereka sudah berada di rawat inap, Nadia cemberut.


"Kenapa Sayang? Hm..." tanya Doni yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mencium bibir istrinya gemas.


"Dokter dan susternya suka sama Mas," ucap Nadia. Doni tertawa renyah namun merasa bahagia karena istrinya cemburu.


"Mas suka adek cemburuin mas terus," ucap Doni mencium istrinya kembali.


"Tapi Nadia gak suka..." ucap Nadia manja.


"Di hati mas cuma ada Adek, Sayang," ucap Doni.


"Gombal," ucap Nadia mulai senang.


"Mas serius sayang... Gak ada yang lebih cantik selain Adek," ucap Doni mencium istrinya kembali.


"Pak... Ini baksonya," ucap pengawalnya datang di saat yang tidak tepat. "Maaf Pak!" Dia segera pergi.


"Mas sih, Nadia kan jadi malu," ucap Nadia. Doni kembali mencium pipi istrinya yang merona merah.


"Kita kan suami istri sayang, ngapain malu," ucap Doni mengedipkan matanya pada Nadia.


"Ih... Sejak kapan sih mas genit, tukang gombal, bucin," ucap Nadia. Doni kembali terkekeh. "Dulu aja ngomongnya irit, jarang senyum, cool kayak coolkas 12 pintu."


Doni kembali tertawa renyah mendengar omelan istrinya yang menurutnya lucu di telinganya. Mungkin benar dia sudah bucin parah pada istri kecilnya ini.


"Adek ini durhaka lho ngatai suami kayak coolkas 12 pintu," ucap Doni tersenyum.


"Emang kayak coolkas 12 pintu dulunya," ucap Nadia.


"Ya udah, mas nemui dokter dan suster yang tadi aja yah," ucap Doni pura-pura.


"Mas... Jangan tinggalin Nadia," ucap Nadia merengek menarik tangan Doni. "Nadia minta maaf." Pengaruh hormon kehamilannya membuat Nadia semakin manja dan baper. Nadia pun menangis.


Doni terkejut menatap Nadia yang menangis. Padahal Doni hanya bercanda. Doni pun memeluk Nadia menenangkan.


"Mas cuma bercanda sayang... Sudah jangan nangis lagi yah," ucap Doni mengelus kepala Nadia dengan sayang dan menciumnya.


"Nadia minta maaf karena pernah bilang mas coolkas 12 pintu," ucap Nadia mengulangi lagi. Doni tersenyum.


"Mas gak marah kok. Justru mas merasa lucu dengernya," ucap Doni. "Istilah dari mana pula itu. Kebanyakan nonton Drakor nih adek nih."


"Kok mas tau?" tanya Nadia. Doni hanya tersenyum.


"Ya udah ayo makan baksonya sebelum dingin. Abis infusnya kita pulang yah! Mama dan Ay pasti seneng," ucap Doni.

__ADS_1


Nadia merasa bahagia mendapatkan suami yang begitu perhatian dan sayang padanya. Walau kegantengan suaminya meresahkan. Doni pun telaten menyuapi Nadia. Karena permintaan Nadia baksonya tidak membuatnya mual lagi.


__ADS_2