Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
semakin Berani


__ADS_3

"I... Ibu... Bi... Bibi..." Nadia terbata segera berdiri sambil menggendong Ay. Sementara Doni menghembuskan nafas gusar.


"Kemarin Kalian!" perintah Santi.


Jadilah saat ini mereka sedang disidang dihadapan khalayak ramai. Nadia merasa malu sekali. Sementara Doni berkali-kali menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang mereka pikirkan.


"Biar Ay yang beritahu," ucap Nadia pada akhirnya. Semua menatap ke arah Nadia dan Ay yang masih di dalam pelukan Nadia. "Karena anak kecil tidak pernah berbohong. Ayo Ay ceritakan bagaimana tadi kita bertemu!"


"Tadi Ibu Nadia datang, trus ada ayah di sana. Ay datangi Ibu Nadia. Trus Ibu Nadia kasih Ay buku dan mainan. Ay ajak ibu Nadia ke kamar. Trus Ayah ngikuti kami. Pas ayah mau cium Ay, Ay peluk Ibu Nadia terus..."


"Terus apa Sayang?" tanya Wulan. Sementara yang lain mendengarkan dengan semangat.


"Terus Ibu Nadia marah bilang, 'Apa sih Pak?' gak lama eyang dateng," ucap Ay polos.


"Oh..." Semua berkata serempak.


"Sudah jelaskan?" ucap Doni menatap tajam ke wajah semua.


"Tapi kamu juga salah, Doni. Kenapa harus mengikuti mereka sampai kamar," ucap Santi.


"Doni kan mengikuti Ay, Mama," jawab Doni gusar.


"Sudah tau Nadia juga ada di sana kenapa kamu juga dekat-dekat," ucap Santi lagi tidak mau kalah.


"Ya wajarlah Mama Doni mendekati gadis yang Doni cintai," ucap Doni lepas begitu saja.


Nadia menutup mulutnya, begitu juga dengan Wulan. Diikuti yang lain. Santi menatap Doni tak percaya karena Doni keceplosan.


"Sa... Saya Permisi dulu," ucap Nadia meninggalkan mereka begitu saja.


"Ibu Nadia," panggil Ay merengek. Sementara Doni mengejar Nadia sambil menggendong Ay.


"Sudah... sudah... Gak usah diributkan lagi. Sekarang sudah jelaskan kalau Doni yang ngejar-ngejar Nadia. Jadi kalian jangan membuat asumsi yang tidak-tidak," ucap Santi. Perlahan mereka pun pulang satu per satu.


"Ibu Nadia," panggil Ay yang sudah mendekat ke arah Nadia. Nadia berbalik dan menatap Doni dan Ay bergantian. Nadia saat ini sangat merasa malu.


"Nadia..." panggil Doni. "Maaf..."


Nadia sudah tidak tahan kemudian menumpahkan tangisannya di sana. Doni panik segera menarik tangan Nadia ke mobilnya. Sementara Nadia hanya mengikuti saja. Cukup lama mereka di dalam mobil. Ay juga ikut menangis di pelukan Nadia karena melihat Nadia yang menangis. Sementara Doni membiarkan mereka menangis sembari melajukan mobilnya ke sembarang tempat. Tak lama Nadia menyudahi tangisannya karena Ay juga sudah terlelap di pelukan Nadia. Sudah dua kali Nadia menangis memalukan di depan Doni, jadi Nadia mengabaikannya saja wajahnya yang terlihat sembab dan jelek.


"Kamu sudah makan?" tanya Doni. Nadia menggeleng. "Baiklah saya beli makanan dulu, kamu bisa makan di dalam mobil ini." Nadia hanya mengangguk patuh. Membuat Doni merasa gemas. Biasanya gadis ini bersikap keras kepala. Menurut begini terlihat manis. Batin Doni.


Doni memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan. Membeli 3 bungkus Nasi rames. Kemudian membawanya ke dalam mobil. Doni menyerahkan kepada Nadia. Nadia mengambilnya namun tidak memakannya. Doni melajukan mobilnya kembali membawa Nadia dan Ay ke pantai. Mobil terparkir di tepi pantai. Saat ini agak sunyi, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang.


"Mau keluar atau tetap di sini saja?" tanya Doni.


"Di sini saja," ucap Nadia.


Doni segera turun dan membuka pintu di sebelah Nadia.


"Sini Ay biar pindah ke belakang agar nyaman tidurnya," ucap Doni. Jok belakang sudah tersedia tempat tidur kecil. Cukup untuk Ay.


Doni kembali masuk dan meminta makanan tadi.


"Ayo kita makan," ucap Doni yang sudah mulai membuka makanannya.


"Saya mendadak kenyang," ucap Nadia. Doni menghela nafasnya.


"Ini enak lho," ucap Doni menyodorkan makanan di depan Nadia. Nadia menolak. "Nadia... Kalau kamu sakit saya khawatir."

__ADS_1


"Ibu Nadia... Jangan pergi..." ucap Ay merengek dalam tidurnya. Doni dan Nadia menatap ke arah Ay. Tak lama Ay terbangun.


"Lucu banget sih Nak," ucap Nadia yang membuka pintu dan pindah ke belakang.


Ay mengerjapkan matanya.


"Ay lapar Ibu," ucap Ay. Nadia tersenyum dan akhirnya mereka makan bersama. Doni senang melihat mereka makan bersama. Sementara dia juga menyuap makanan ke mulutnya.


Selesai makan, Nadia mengajak Ay ke mushola di dekat situ. Sementara Doni menunggu mereka di luar.


"Bapak gak sholat?" tanya Nadia setelah mereka keluar.


Doni menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Nanti aja," ucap Doni.


Nadia membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan yang dikatakan Doni.


"Pantesan yah Ay nya ogah-ogah an ngaji, males sholat juga ternyata figur ayahnya seperti ini. Bagaimana mau jadi imam rumah tangga nanti kalau Bapak seperti ini," ucap Nadia tegas ngedumel panjang.


Doni yang mendengar itu tampak terkejut. Namun, setelahnya dia tersenyum. Baru kali ini ada yang berani menegurnya seperti itu. Sementara Ay tertawa mendengar ayahnya dimarahi Nadia.


"Hayo... Ayah... Diamarahin Ibu Nadia," ucap Ay memperlihatkan gigi susunya yang tersusun rapi.


"Baik Bu Bos," ucap Doni ogah-ogahan.


Dasar Ayah ganteng. Batin Nadia. Lho... Nadia tersenyum sendiri dengan pemikiran


nya. Tak lama Doni pun selesai sholatnya.


"Nah... Gini kan jadi tambah ganteng," ucap Nadia tersenyum menatap Doni. Kemudian dia tersadar dan menutup mulutnya. Doni yang mendengar itu tersenyum senang karena dipuji Nadia.


Nadia pura-pura tidak dengar dan menggenggam tangan Ay. Kemudian Doni memegang tangan Ay sebelahnya. Mereka seperti keluarga kecil.


"Ayah... Mau es krim," ucap Ay memecah keheningan menunjuk ke arah stand eskrim di sekitar pantai itu.


"Putri ayah mau es krim apa?" tanya Doni.


"Es Krim rasa Coklat," ucap Ay. "Ibu Nadia mau rasa apa?"


"Hem... Nggak... Ay aja yah Nak," ucap Nadia.


"Ibu gak suka eskrim?" tanya Ay.


"Suka... Tapi sekarang lagi males makan es krim," ucap Nadia.


Sementara itu Doni pergi membeli es krim. Meninggalkan mereka yang asyik mengobrol.


"Ibu suka eskrim rasa apa?" tanya Ay.


"Em... Ibu suka es krim rasa moccacino," ucap Nadia.


"Moccacino tu apa Bu?" tanya Ay lagi. Bukan Ay namanya kalau nggak ceriwis.


"Sejenis rasa kopi susu gitu Nak," ucap Nadia.


Ay manggut-manggut. Membuat Nadia gemas mencium dan memeluk Ay.


"Good Afternoon," sapa seorang bule.

__ADS_1


"Good Afternoon," ucap Nadia. "Can I help you?" Nadia melihat bule yang tinggi itu seperti kebingungan.


"Where's the toilet, Mam?" tanya bule.


"Oh..." Nadia menunjuk ke arah WC umum di sana.


"Can you show me there?" tanya si bule. Mau tak mau Nadia mengajaknya.


"Wait a moment!" ucap Nadia.


Nadia menuntun Ay ke ayahnya.


"Mau kemana?" tanya Doni menatap tajam ke Nadia dan ke bule itu.


"Mau kasih tunjuk bule itu WC umum," ucap Nadia segera bergegas.


Doni tak sempat berkata apa pun. Karena selanjutnya Ay heboh ngajak Doni duduk untuk menikmati es krimnya. Tiba-tiba entah kenapa firasat Doni tidak enak. Doni segera menggendong Ay mencari keberadaan Ay. Benar saja saat di sana jalanan sepi Doni melihat Nadia dibekap mulutnya oleh bule tadi. Pakaian Nadia awut-awutan mempertontonkan sebagian auratnya. Nadia juga menangis tertahan.


Bugh...


Dengan amarah memuncak Doni menurunkan Ay dan menghajar pria itu. Nadia segera terlepas dan berlari memeluk Ay. Pria itu juga tidak tinggal diam memberi bogem ke pipi Doni.


Bugh...


Doni tersungkur. Nadia dan Ay menjerit. Tak lama bule itu diringkus para pengawal Nadia yang sudah Nadia kirimkan pesan.


"Maaf Nona," ucap kepala pengawal itu.


"Tidak apa-apa. Pak Doni..." Nadia meraih Doni dan menangis begitu juga dengan Ay.


"Ayah... Ayah..." Ay menangis begitu saja membuang es krimnya dan memeluk ayahnya.


"Maaf kan saya Pak!" ucap Nadia.


"Tidak apa-apa Nadia," ucap Doni menenangkan keduanya.


"Dia suruhan salah satu musuh Tuan besar, Nona," ucap pengawal itu setelah mengintrogasi.


"Kamu sudah tau harus bagaimana kan?" ucap Nadia menyudahi tangisannya. Walau raut wajahnya masih sedih melihat Doni terluka. Doni justru bahagia karena Nadia memperhatikannya.


"Baik Nona..."


Mereka sudah berada di dalam mobil Doni. Salah satu pengawal Nadia yang membawa mobilnya. Jadilah mereka bertiga di belakang dengan Ay perantaranya. Nadia mengambil kotak P3K dan menyerahkannya pada Doni. Doni sama sekali tidak bergeming karen dia tidak bisa mengobati sendiri. Nadia paham dan menghela nafas.


"Hadap ke sini wajahnya," ucap Nadia. Doni patuh.


Nadia pun mengoleskan lebam dan luka di pipi pelipis Doni dengan salep memakai cutton bud. Nadia tampak gugup dan gemetar. Namun Nadia berusaha menetralkan jantungnya karena ini keadaan darurat. Walau Ay berada di tengah mereka namun tetap membuat keduanya berdebar.


"Aww..." Doni berpura-pura meringis. Sementara pengawal Nadia tampak tersenyum melihat dari spion.


"Maaf... Sakit yah Pak?" tanya Nadia yang refleks mengelus dan meniup luka Doni. Doni tampak kegirangan. Nadia yang menyadari itu tampak malu dan menyudahinya.


"Cie... cie... ayah dan Ibu Nadia pacaran yah," ucap Ay meledek keduanya.


"Ay..." keduanya serentak menasehati Ay.


***


Maunya kamu Mas Doni. Ayo Mas Doni pepet terus sampai ke KUA... 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2