Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
First Kiss


__ADS_3

"Astaghfirullah... Jadi batalkan wudhu aku," ucap Nadia mengomel sendiri melihat punggung Donu yang menjauh.


Nadia kembali berwudhu di kamarnya dan kembali berjalan keluar. Di sana sudah ada eyang Ay, Santi, serta beberapa pelayan yang ikut sholat. Di bagian depan tempat laki-laki yang sudah terhalang hijab. Sholat pun dimulai. Nadia tau suara itu. Suara yang indah dan begitu fasih bacaannya hingga membuat Nadia gemetar sampai ke hati. Selesai sholat Nadia segera beberes khawatir Ay terbangun dan mencarinya. Nadia bergegas ke kamarnya. Benar saja, Ay sudah merengek dan menangis mencari Nadia.


"Ssssttt... Anak ibu. Maaf yah tadi ibu abis sholat subuh," ucap Nadia.


"Kenapa ibu gak ajak Ay? Ay mau sholat juga," ucap Ay ngambek.


"Maaf yah sayang, ya udah ayuk Ay sholat ibu temeni!" Ajak Nadia.


"Gak mau, Ay udah gak mood," ucap Ay cemberut.


"Sholat itu dilaksanakan bukan karena mood sayang. Sholat itu kewajiban," ucap Nadia tersenyum. "Ay mau masuk surga gak sama ayah dan eyang? Tadi ayah dan eyang juga sholat lho. Masa' Ayah sama eyang masuk surga. Ay nya ditinggal karena gak sholat."


"Ayah udah datang ibu?" Tanya Ay.


"Udah sayang," ucap Nadia tersenyum.


"Ay mau jumpa Ayah..." Ucap Ay merengek.


"Tapi sholat dulu yah!" Ucap Nadia.


"Oke..." Ucap Ay.


Pakaian Ay yang semalam di antar ayahnya lengkap satu tas dengan peralatan mandi dan sholatnya. Jadi Nadia tinggal arahin Ay saja. Selesai sholat Ay bergegas mandi dan menemui ayahnya ditemani Nadia. Nadia sendiri juga sudah mandi sebeluk subuh. Ay menuruni tangga mencari keberadaan ayahnya namun tidak juga ketemu.


"Eyang... Ayah mana?" Tanya Ay yang melihat Santi bersama mami Nadia bersiap senam bersama yang lain.


"Eh... Cucu eyang udah bangun, udah mandi, cantik," ucap Santi. "Ayah tadi ke kamarnya."


"Kamar ayah di mana?" Tanya Ay.


"Di atas... Sebelah kamar kalian," ucap eyang. Ternyata Doni menuruti kata Nadia kemarin. Untungnya Nadia sudah menyuruh pelayannya bersih-bersih kamarnya.


"Ibu... Ayo ke atas. Ay mau jumpa ayah," ucap Ay.


"Gak senam dulu Nak?" Tanya Nadia.


"Ay mau jumpa ayah dulu," ucap Nadia.


"Temani Na, nanti Ay jatuh di tangga," ucap maminya.


"Iya Ma," ucap Nadia patuh.


Merek pun menaiki tangga sementara mereka sudah mulai senam. Ay tidak sabaran segera ke kamar ayahnya mengetuk pintunya.


"Ayah... Ini Ay... Ayah... Ayah di dalam yah?" Tanya Ay mengetuk pintunya.


Ceklek! Pintu terbuka. Kelihatan Doni yang hanya memakai celana panjang tanpa baju memperlihatkan tubuhnya yang atletis membuat mata Nadia ternodai. Nadia segera membalikkan tubuhnya merasa malu sendiri. Sementara Doni keliatan cuek saja.


"Anak ayah udah bangun yah?" Tanya Doni memeluk dan menggendong Ay.

__ADS_1


"Iya ayah... Tadi Ay juga udah sholat, udah mandi," ucap Ay.


"Anak ayah pinter," ucap Doni mencium pipi Ay. "Nadia... Ada yang mau saya bicarakan."


"Ta... Tapi tolong pakai bajunya dulu Pak. Gak malu apa?" Ucap Nadia sewot yang masih membalikkan badannya. Doni tersenyum.


"Baiklah!" Ucap Doni menurunkan Ay dan segeta memakai kaosnya yang ngepas ke tubuhnya. Doni kini menjulang di depan Nadia. Nadia merasa berdebar. Rasanya saat ini jantungnya ingin meloncat keluar. Malah Doni kelihatan makin ganteng lagi.


"A... Ada apa?" Tanya Nadia gugup.


Doni tersenyum melihat Nadia yang gugup serasa ingin memakannya.


"Kita ngobrol sambil sarapan yah!" Ucap Doni.


"Mereka masih senam," ucap Nadia.


"Kita duluan ke taman belakang," ucap Doni. Nadia mengangguk patuh.


"Ay ikut..." Ucap Ay.


"Iya tuan putri pasti ikut," ucap Nadia.


Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia ingin ngobrol berdua saja dengan Nadia. Karena dia tau betul Ay tukang rusuh. Hehehe...


Sampai di taman belakang mereka meminta pelayan membawakan sarapan. Ay yang melihat ayunan segera ke sana. Selain ayunan juga ada perosotan dan aneka mainan lainnya membuat Ay senang. Ini kesempatan Doni untuk ngobrol berdua.


"Ay makan dulu," ucap Nadia.


"Ay belum lapar ibu. Ay mau main dulu," ucap Ay.


Doni senang Nadia memperhatikan Ay. Doni mulai mengunyah sarapannya.


"Na..." Ucap Doni.


"Hm..." Nadia mulai berdebar.


"Kamu mau kan menikah dengan saya?" Tanya Doni serius.


Nadia menghentikan aktivitas mengunyah makanannya. Jantungnya berdebar kencang.


"Saya..." Doni tidak sabar mendengar jawaban Nadia.


"Kenapa Na? Saya siap menerima apa pun jawaban kamu," ucap Doni dengan wajah sedihnya.


Nadia meliriknya sebentar dan tersenyum kecil.


"Kenapa kamu tersenyum? Saya serius Na," ucap Doni frustasi. "Jika memang saat ini saya ditolak, saya mundur."


Nadia merasa kecewa dengan ucapan Doni. Ternyata hanya sebatas itu Doni memperjuangkannya. Padahal Nadia awalnya ingin menjawab ya. Namun Nadia mendadak tidak mood menjawab dan mengunyah makanannya.


"Maaf saya mendadak kenyang," ucap Nadia berdiri.

__ADS_1


Doni menghela nafasnya dan mencegah Nadia. Doni merasa marah karena Nadia tidak menjawab pertanyaannya.


"Kalau kamu tidak menjawab dalam hitungan ketiga, saya akan mencium kamu saat ini, detik ini juga," ancam Doni.


Apa-apaan ucapan kurang ajar Doni itu. Nadia merasa marah dan menampar pipi Doni. Nadia sudah tidak tahan dan menangis. Doni bingung sendiri apa maunya perempuan ini. Bekas tamparan Nadia masih terasa di pipinya. Doni merasa tidak sabaran.


"Maaf..." Ucap Doni mengelus puncak kepala Nadia yang masih menangis. "Saya tidak mengerti saya harus bagaimana?"


'Dasar kulkas' batin Nadia antara sedih dan lucu. Nadia menyudahi tangisannya.


"Pak... Sebelum kita menikah tolong belajar dulu sampai tuntas bagaimana cara membangun rumah tangga yang sakinah agar bapak tidak gagal lagi," ucap Nadia.


"Itu artinya kamu mau menikah denganku kan?" Ucap Doni senang.


"Bapak dengar kan apa yang saya bilang?" Ucap Nadia.


"Iya sayang..." Ucap Doni senang menjawil pipi Nadia.


"Jangan sentuh... Bukan muhrim," ucap Nadia memperingatkan. Doni tersenyum senang dan dengan cepat mencium pipi Nadia sebelah kanan. Nadia melototkan matanya dan marah. "Bapak..."


Sebelum Nadia mengejarnya, Doni sudah lari terlebih dahulu menuju ke arah Ay. Doni merasa girang di pagi itu karena Nadia menerima pernikahan mereka. Nadia berusaha mengejar Doni yang sudah menggendong Ay namun langkah kaki Doni yang panjang membuat Nadia kualahan mengejarnya. Mereka sudah sampai di kolam renang yang dalam khusus orang dewasa. Nadia berhenti sejenak mengatur nafasnya. Doni merasa senang karena Nadia tidak bisa mengejarnya. Nadia merasa sedikit pusing dan...


Byur... Nadia masuk ke kolam renang. Doni dan Ay tertawa karena Nadia yang ceroboh. Nadia tampak hilang timbul di permukaan air. Penghuni rumah baru selesai senam dan datang ke arah mareka.


"Nadia mana?" Tanya maminya.


"Di dalam kolam renang oma," ucap Ay.


"Nadia gak bisa berenang," teriak maminya panik.


Deg! Tanpa babibu Doni langsung meloncat ke air dan menangkap Nadia yang hampir kehabisan nafas. Ya Allah tolong selamatkan calon istriku. Batin Doni yang menangis membawa Nadia ke tepi. Semua di sana menjerit melihat Nadia yang tidak sadarkan diri. Doni berusaha memberikan pertolongan pertama buat Nadia. Doni menekan-nekan dada Nadia dan memberikan nafas padanya. Saat pemberian nafas ketiga Nadia membuka matanya dan memuntahkan air dari mulutnya.


"Alhamdulillah..." Doni langsung menangis sambil memeluk Nadia dan mencium keningnya.


"Doni..." Bentak Bram. Doni tampak terkejut begitu juga dengan yang lain. Doni segera menyadari kesalahannya dan melepaskan Nadia. Mami dan Santi berganti memeluk Nadia.


"Kamu gak papa kan sayang?" Tanya eyang menangis.


"Nggak bu. Nadia udah gak papa," ucap Nadia pelan.


"Syukurlah Nak, berterima kasih sama Doni karena sudah menyelamatkan kamu," ucap Maminya.


Nadia menatap Doni yang dimarahi papinya. Nadia tidak terima.


"Papi... Mas Doni udah selamatin Nadia," ucap Nadia menyela antara Doni dan Bram.


"Tapi tadi dia nyium kamu Nak," ucap Bram marah.


"Itu pertolongan pertama Pi, darurat," ucap Mami Nadia membela. "Lagi pula mereka juga akan menikah."


"Kamu mi, malah ikut-ikutan," ucap Bram tidak terima. Yang lain hanya senyum mendengar perseteruan mereka.

__ADS_1


Nadia menyentuh bibirnya dan mentap ke arah Doni yang juga menatapnya dan mengedipkan matanya sebelah. Wajah Nadia memerah. Ciuman pertamaku, kenapa aku tak tau, batin Nadia merasa malu dan bergegas masuk meninggalkan mereka. Doni ingin mengejar namun saat ini posisinya sedang dimarahi Bram.


"Ibu... Ay ikut..." Ucap Ay berlari. Nadia menggenggam tangan Ay. Pakaiannya sudah basah kuyup dan terlihat tercetak jelas membuatnya malu.


__ADS_2