
Mereka sampai di rumah Doni walau tak sebesar rumah Papinya, namun Nadia merasa nyaman tinggal di sana.
"Ayo sayang!" Ajak Doni.
"Hore kita pulang... Ay mau tidur sama ibu nanti... Hore..." Ucap Ay.
Mereka saling pandang.
"Ay... Ayah sama Ibu sekarang tidurnya di kamar ayah. Ay tidur sendiri di kamar Ay," ucap eyang hati-hati.
"Ay nggak mau, Ay mau tidur sama Ibu Nadia," ucap Ay ngambek.
"Ayah maunya tidur sama Ibu Nadia," ucap Doni meniru Ay.
Ay ngambek dan berlari ke kamarnya.
"Mas..." Nadia menegur Doni dan mengikuti Ay ke kamarnya. Doni dan Santi menatap Nadia yang begitu peduli pada Ay.
"Andai saja kamu lebih dulu bertemu dengan Nadia, Nak," ucap Santi.
"Sudah lah Ma, yang penting sekarang, bukan dulu," ucap Doni. Santi mengangguk.
"Mama masuk dulu yah!" Ucap Santi.
"Iya Ma, Doni mau ngatur mobil dulu," ucap Doni menatap para pengawal Nadia yang sudah berbaris rapi.
"Ay... Ay... Ibu boleh masuk gak?" Tanya Nadia di balik pintu. Ay terdengar terisak. "Ibu masuk yah!"
Nadia masuk mendapati Ay yang tengah menangis telungkup di tempat tidur. Nadia gemas melihatnya.
"Ay... Sayang..." Nadia mengelus kepala Ay. "Ibu mau cerita nih. Ayo sini liat ibu."
Ay nya hanya diam aja. Nadia membiarkannya menangis.
"Ya udah, nanti kalau Ay sudah mau bicara, bicara sama Ibu yah," ucap Nadia.
Ay menangis selama satu menit. Kemudian dia menatap Nadia yang masih setia di sebelahnya. Ay merasa sekarang karena Nadia tidak meninggalkannya. Nadia menatap Ay dengan gemas.
"Sudah selesai nangisnya tuan putri?" Tanya Nadia mengelus pipi Ay.
"Ibu..." Ay memeluk Nadia dengan manja.
"Iya sayang," ucap Nadia mengelus punggung Ay.
"Ay mau tidur sama ibu," ucap Ay.
"M... Kenapa? Biasanya kan Ay tidur sendiri?" Tanya Nadia.
__ADS_1
"Iya, tapi sekarang Ay mau sama ibu," ucap Ay.
"Ay sayang, ibu gak kemana-mana kok, ibu tetap di sini sama Ay, sama ayah, sama eyang," ucap Nadia.
"Tapi kan ayah udah besar ngapain tidur sama ayah? Ay kan masih kecil," ucap Ay. Nadia tertawa.
"M... Gimana yah? Ay tau kan ibu udah nikah sama ayah?" Tanya Nadia.
"Tau..." Jawab Ay.
"Ay mau punya adek gak? Biar Ay gak kesepian?" Tanya Nadia.
"Mau Ibu, Ay mau punya banyak adik," ucap Ay berbinar.
"Nah itu tau, gimana mau punya adik kalau ibu tidurnya sama Ay?" Tanya Nadia.
"Emangnya kalau ibu tidur sama ayah bakalan ada adik Ay?" Tanya Ay polos.
"Iya," jawab Nadia tersenyum.
"Kok bisa?" Tanya Ay. Nadia bingung harus jawab apa? Lupa kalau Ay anak bijak.
"Yah... Bisalah... Dikasih sama Allah," ucap Nadia cari jawaban aman.
"Oh... Jadi Allah nanti yang ciptain adek Ay?" Tanya Ay.
"Cara ciptainnya bagaimana ibu?" Tanya Ay lagi. Bener-bener deh anak bijak.
"Ay... Nadia... Ayo makan!" Ajak Santi di ambang pintu.
"Eh... Eyang udah ajak makan tuh. Ayo kita makan!" Ajak Nadia.
"Ayo bu!" Ajak Ay semangat.
Di meja makan sudah ada Doni dan para pengawal lainnya. Doni tidak mau pengawalnya makan tidak di meja yang sama dengan mereka. Walau mereka merasa sungkan namun mereka tetap mematuhi Doni.
"Nona muda!" Mereka serempak berdiri dan memberi hormat.
"Sudah... Sudah... Kalau di rumah ini anggap saja kita setara," ucap Nadia. Mereka saling pandang tidak berani duduk sebelum Nadia duduk. Setelah Nadia, Ay, dan Santi duduk barulah mereka duduk.
"Pak Wildan jangan sungkan, karena bapak juga mertua saya," ucap Doni. Wildan merasa bahagia karena Doni begitu sopan padanya. "Neo dan boy juga bukan orang lain kan?"
"Iya tuan... Tapi jika tuan besar tau..." Mereka tampak ragu.
"Papi tidak ada di sini," ucap Nadia.
"Baik Nona," ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Ibu Nadia hebat yah punya pengawal. Nanti Ay juga mau punya pengawal kayak ibu Nadia. Biar kemana-mana Ay ada yang jagain," mulai lagi celoteh Ay. Semua yang ada di situ tersenyum mendengar celotehnya Ay.
***
Di Kamar Doni.
"Ay udah tidur?" Tanya Doni yang menatap istrinya di ambang pintu. Ay memaksa Nadia untuk mendongeng sebelum tidur. Maka Nadia menurutinya, walau pun Doni agak kesal karena dirinya tak sabar ingin memeluk istrinya.
"Sudah Mas," ucap Nadia memasuki kamar Doni. Kamar Doni bernuansa maskulin. Di setiap sudutnya, bernuansa maskulin dan harum parfum suaminya.
"Sini sayang," ucap Doni memeluk Nadia dan mencium puncak kepalanya. Nadia membalas pelukan Doni dan menghirup parfum di dada Doni. "Dah ngantuk?" Nadia mengangguk. "Tapi mas belum. Seronde boleh?"
Nadia malu-malu menatap suaminya. Doni tersenyum lebar.
"Tapi pakai yang ada di lemari yah!" Ucap Doni. Nadia mengerutkan kening membuat Doni gemas untuk mencium keningnya.
Nadia melepaskan pelukan Doni menuju ke lemari. Doni sudah tersenyum senang. Nadia melototkan matanya dan menatap Doni kembali. Ternyata isinya pakaian dinas Nadia. Sementara pakaiannya yang biasa dia pakai berada di lemari sebelahnya. Sebelahnya pakaian Doni. Dari mana dan kapan Doni membeli pakaian dinas itu? Jangan... Jangan... Itu pakaian...
"Itu baru mas beli semua sayang, sebelum kita pulang mas pesan online," ucap Doni.
"Nadia gak mau pakai baju itu mas," ucap Nadia.
"Kenapa sayang? Bukannya kemarin Adek pakai baju dinas seperti itu," ucap Doni.
"M... Itu karena kado dari mami. Nadia gak enak sama mami," ucap Nadia. "Walau berakhir mengenaskan." Doni tertawa karena memang pakaian itu berakhir mengenaskan.
"Tapi mas suka sayang. Dipakai yah? Menyenangkan suami itu berpahala lho," ucap Doni.
Nadia tampak berfikir sejenak. Walaupun nanti dipakainya pasti berakhir mengenaskan seperti yang kemarin. Tapi karena demi menyenangkan suami Nadia pun menuruti saja.
"Sayang sini bentar," ucap Doni. Nadia duduk di sebelah Doni. "Ini nafkah bulan ini." Doni menyerahkan gold card ke tangan Nadia. "Beli keperluan kamu sayang. Habiskan untuk bulan ini."
"Tapi sayang, kartu dari papi..."
"Ini nafkah dari mas sayang untuk kamu. Kalau soal belanja, biar mama yang urus. Mama juga dapat dua kartu kok sayang," ucap Doni. "Kalau soal kartu dari papi itu udah jadi hak kamu sayang. Maafin mas walaupun nominal di kartu ini gak setara dengan di kartu papi..."
"Gak papa mas, Nadia terima berapa pun yang mas kasih," ucap Nadia.
"Kalau mau di cek di ponsel kamu juga bisa," ucap Doni. Doni mengajari Nadia. Alangkah terkejutnya Nadia dengan nomonal di kartu yang diberikan Doni.
"Mas ini... Untuk sebulan? Bukan untuk setahun?" Tanya Nadia.
"Nggak sayang, mas bahagia sudah dapatin kamu. Itu tidak seberapa harganya dengan kamu sayang," ucap Doni mengecup Nadia. Nadia berterima kasih pada Doni dan menyimpan kartunya. Alangkah beruntungnya Nadia memiliki suami seperti Doni. Walau isinya setengah dari yang sering papinya kirim namun itu lebih dari cukup baginya. "Ayo dipakai bajunya mas sudah gak tahan sayang."
Nadia pun tertawa menuruti kemauan Doni. Nadia memilih menggantinya di kamar mandi walaupun Doni melarangnya. Nadia merasa malu. Doni menunggu dengan penuh harap.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan pakaian dinas malamnya. Doni menelan ludah beberapa kali menatap setiap inci tubuh istrinya membuatnya kembali on.
__ADS_1