
"Ibu... Ibu udah sehat belum? Ini Ay udah pulang sekolah?" teriak Ay dari luar.
"Ck... Ay ganggu kesenangan aja," ucap Doni masih memeluk istrinya.
"Buka pintunya Mas, kasian Ay," ucap Nadia.
Doni pun membuka pintu. Ay mengacuhkan ayahnya dan langsung masuk ke dalam.
"Awas Ayah," ucap Ay. "Ibu... Ibu udah sehat?"
Nadia tersenyum menarik tangan Ay kemudian memeluknya.
"Alhamdulillah udah sayang, Ay baru pulang sekolah? Siapa yang jemput tadi?" tanya Nadia.
"Om Neo, Ibu," ucap Ay cuek. "Tadi waktu om Neo ke sekolah Ay, orang-orang berisik."
"Kenapa?" tanya Nadia.
"Om Neo kan ganteng," ucap Ay.
"Hm... Lebih ganteng ayah lah," ucap Doni mengelus kepala Ay.
"Iya ayah, semua laki-laki kan ganteng," ucap Ay membuat Nadia tertawa. Nadia teringat kata-kata Ay yang dulu bilang gitu tentang ayahnya. Neo sepupu Nadia sekaligus pengawalnya memang memiliki wajah blasteran.
"Ganti baju dulu sana!" ucap Doni.
"Ayah... Ay masih mau liat kondisi ibu. Ayah kenapa di sini terus nempel aja sama ibu bukannya kerja," celoteh Ay tak mau kalah.
"Ayah libur, yang punya sekolah kan ayah," ucap Doni mendebat anaknya.
"Pokoknya Ay gak mau sekolah lagi. Ayah libur, masa' Ay nggak," ucap Ay ngambek.
"Mas..." Nadia mengingatkan. "Ay sayang... Sini sama ibu." Nadia memeluk Ay.
"Tadi di sekolah belajar apa?" tanya Nadia.
"Belajar membaca," ucap Ay.
"Wah... Jadi anak ibu udah bisa baca donk," ucap Nadia. "Ibu mau liat Ay baca boleh?"
"Ibu... Ay lagi gak mood. Ay gak mau sekolah lagi gara-gara ayah libur," ucap Ay.
"Ibu kan tadi sakit Nak, kalo gak ayah yang jagain ibu. Siapa yang jagain ibu lagi?" tanya Nadia. Ay tetap cemberut. "Waktu Ay sakit ayah sering jagain gak?" Ay mengangguk. "Tuh... Berarti Ayah sayang dan perhatian sama Ay juga sama Ibu. Ay kan bentar lagi mau SD gak boleh libur-libur lagi donk sayang."
"Iya Ibu," ucap Ay patuh.
__ADS_1
"Gitu donk baru anak ayah," ucap Doni mengelus kepala Ay.
"Ayah..." Ay tersenyum menunjukkan barisan giginya yang rata. "Ayah... Ay mau ganti baju dulu. Dah... Ibu... Nanti Ay datang lagi yah."
Ay pun turun ke kamar nya. Doni dan Nadia tersenyum menatap punggungnya yang kecil.
"Gemes Na liat Ay, Ayah ganteng," ucap Nadia menggoda Doni membuat Doni semakin tersenyum lebar. "Ayah imut." Nadia meledek Doni seperti Ay dulu. Doni pun tertawa. "Mas... Na mau anak kayak Ay pasti lucu dan rame."
"Kamu ngajak sekarang sayang?" tanya Doni semangat 45 duduk di sebelah istrinya.
"Gak sekarang juga lagi mas, Nadia masih sakit, masih lemes," ucap Nadia manja.
"Iya sayang, mas faham kok," ucap Doni mengecup Nadia sekilas. Doni tak ingin berlama-lama karena takut keterusan tak bisa menahan diri.
***
Di kolam renang.
Hari berlalu, Nadia sudah pulih sepenuhnya. Hari ini libur. Doni, Nadia, dan Ay sedang berada di kolam renang. Doni mengajari Nadia bagaimana cara berenang. Nadia mengenakan bikini hijab jadi walau bodi ngepas di bagian betis dan tangan namun bodi Nadia tertutup semua. Nadia berkali-kali gagal diajari Doni karena kaki kirinya selalu menendang terlalu keras. Sementara Ay naik bebek-bebek karetnya.
"Harus seimbang sayang kakinya. Coba pelan-pelan dulu," ucap Doni.
"Na gak bisa," ucap Nadia manja. "Na gak usah berenang aja deh. Capek," ucap Nadia ngambek. Doni mengerutkan keningnya. Doni menghembus nafas kasar. Dia harus bersabar.
"Sayang... Ya udah kita pelan-pelan aja yah. Kita istirahat dulu nanti lanjut lagi," ucap Doni.
"Mas ke kamar mandi dulu yah," ucap Doni. Nadia mengangguk saja.
"Ay... ayo sini!" ucap Nadia.
"Iya Ibu," ucap Ay. Ay berusaha mendayung bebek-bebeknya. Namun karena semangatnya bebek-bebeknya terbalik dan Ay nyemplung.
Deg!
"Ay..." Nadia panik lihat Ay tenggelam. Menunggu Doni Nadia khawatir terlambat. "Bismillah." Nadia pun terjun ke kolam berusaha meraih Ay. Akhirnya Ay berhasil Nadia raih. Ay masih sadar dan ikut berenang. Nadia dan Ay sampai ke tepi. "Ya Allah Ay, Ibu panik tau. Ibu fikir Ay gak bisa berenang."
Ay tersenyum penuh arti. Sementara Nadia masih menetralkan jantungnya. Doni yang baru datang merasa heran melihat mereka berdua ada di tepi kolam sementara bebek-bebeknya masih berada di tengah kolam.
"Kenapa Sayang?" tanya Doni mendekati mereka.
"Ibu udah bisa berenang ayah karena mau selamatin Ay," celoteh Ay.
"Benar sayang?" tanya Doni girang. Nadia berfikir sejenak. Benar saja karena nalurinya ingin menyelamatkan Ay, Nadia berenang sampai ke tengah.
"Ay hebat kan ayah?" tanya Ay.
__ADS_1
"Iya anak ayah hebat," ucap Doni.
"Kamu gak papa kan sayang?" tanya Doni.
"Gak mas, cuma masih syok. Nih Na masih gemetaran karena panik tadi," ucap Nadia.
"Ya udah ayo udahan berenangnya, mas gak mau nanti adek sakit lagi," ucap Doni tegas. "Ay juga." Doni menggendong Ay yang ingin masuk kembali ke kolam dan menggenggam tangan Nadia masuk ke rumah."
"Ayah... Ay masih mau berenang," ucap Ay.
"Besok lagi yah Nak, kita makan dulu, istirahat, trus main," ucap Nadia.
Ay cemberut saja namun akhirnya setuju dibawa ayahnya dan Nadia mengganti pakaian. Selesai berganti pakaian, Nadia, Doni, dan Ay bergabung dengan eyang yang sudah ada di meja makan.
"Bagaimana berenangnya? Seru gak?" tanya eyang.
"Seru banget donk eyang. Ibu udah bisa berenang berkat Ay," ucap Ay semangat kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di kolam.
"Cucu eyang emang hebat, Eyang bangga," ucap Santi.
Nadia melihat menu yang ada di meja makan. Tiba-tiba Nadia merasa mual. Nadia bergegas ke westafel dan muntah-muntah di sana. Isi jus tadi keluar semua.
"Doni... Kalian sih mandi terlalu kelamaan," ucap Santi menegur anaknya.
"Sayang... Adek kenapa? Masuk angin?" tanya Doni mendekati Nadia dan memijit punggungnya.
"Nggak mas, Nadia mual aja liat makanan yang ada di atas meja," ucap Nadia.
"Kenapa mual?" tanya Doni bingung.
"Gak tau mas, Nadia ngerasa eneg liatnya," ucap Nadia manja.
"Coba dulu yuk, belum ada lho makanan yang masuk ke perut," ajak Doni, Nadia pun menuruti.
Mereka kembali ke meja makan. Nadia tiba-tiba mual lagi namun menahannya. Santi yang memperhatikan itu sepertinya faham.
"Yang mana buat kamu mual Na?" tanya Santi.
"Itu mah... Sambel itu," ucap Nadia. Santi pun memerintahkan bibi untuk mengambilnya.
"Jadi kamu mau makan yang mana Nak?" tanya Santi perhatian. Nadia jadi merasa gak enak. "Katakan saja!" Santi tersenyum penuh arti.
"Nadia pengen makan bakso," ucap Nadia menyebutkan makanan yang tidak ada di meja. Santi tersenyum senang.
"Coba kalian tespack dulu Don, kemungkinan besar Nadia hamil," ucap Santi.
__ADS_1
"Apa?" tanya Doni, Nadia dan Ay bersamaan.