
"Roby... Jangan masuk sembarangan... Roby..." Seorang anak kecil masuk ke ruangan di mana Nadia dirawat. Seorang anak yang dikenalinya beserta ayahnya masuk ke sana. Sementara pengawal yang berjaga membiarkan mereka masuk karena mereka mengenal ayah Roby.
"Roby..." sapa Nadia.
"Tante..." ucap Roby senang mendatangi Nadia. Tangannya masih ada bekas infus.
"Siapa sayang?" tanya Doni heran menatap seorang anak kecil beserta ayahnya di ruangan istrinya.
"Maaf Na, mengganggu. Ini Roby baru sehat jadi mau pulang, tapi tau sendirilah gimana lasaknya dia," ucap ayah Roby pada Nadia mengabaikan suami Nadia. "Kamu sendiri kenapa?"
Ayah Roby mendekati Nadia. Sementara Doni menatap tak suka pada Roby. Dia ingat pria itu. Pernah menyinggahi Nadia di TK dulu, juga anak kecil itu.
"Mas Rudi, kenalin ini suami Nadia," ucap Nadia memperkenalkan Doni pada Rudi. Keduanya saling menatap tidak suka. Menikah? Kenapa aku tidak tau? Batin Rudi. Padahal aku yang ingin menikahi Nadia.
"Doni..." ucap Doni mengulurkan tangannya pada Rudi namun Rudi menggubrisnya. Rudi lebih memilih mengajak Roby untuk keluar.
"Ayo keluar Roby. Semoga cepat sembuh yah Na," ucap Roby mengabaikan Doni sama sekali. Nadia kesal melihat tingkah Rudi yang mengabaikan suaminya. Namun, Nadia tau bahwa Rudi berwatak keras. Dia selalu was-was bertemu dengan orang baru. Aslinya mah Rudi baik banget. Almarhumah mantan istrinya begitu dicintainya, makanya dia tidak menikah sudah 3 tahun lamanya semenjak Roby lahir. Yah, istrinya meninggal di meja operasi.
"Iya mas, makasih," ucap Nadia sekenanya.
Saat Rudi keluar bersama Roby, wajah Doni langsung berubah masam dan tidak suka. Namun Nadia lebih memilih diam agar Doni tidak sakit hati.
"Ternyata sainganku banyak," ucap Doni dingin. Bersyukur aku terlebih dulu menikahinya. Batin Doni.
"Kenapa mas?" tanya Nadia.
"Nggak sayang, sekarang mau makan apa lagi?" tanya Doni.
"Nggak mas, Nadia mau pulang aja. Capek," ucap Nadia.
Setelah segala administrasi selesai, mereka menuju parkiran. Ternyata Rudi dan anaknya masih berada di sana. Roby merengek gak mau pulang, dia ingin tetap di rumah sakit. Rudi berusaha membujuk Roby. Nadia yang melihat itu merasa kasihan.
"Mau ke mana sayang?" tanya Doni melihat Nadia yang melangkah ke arah Rudi dan Roby.
"Bentar mas," ucap Nadia.
Dia lagi. Batin Doni menatap Rudi. Doni pun mengikuti Nadia.
"Na..." sapa Rudi tersenyum. Namun kembali memasang tampang cool saat melihat suami Nadia di belakang Nadia.
"Tante Nadia... Roby gak mau pulang. Di rumah sepi gak ada orang. Roby mau di rumah sakit banyak orang," ucap Roby cemberut. Nadia merasa kasihan karena Roby hanya tinggal berdua dengan ayahnya sepeninggal bundanya. Pastilah Roby merasa kesepian. Rudi menatap sendu ke arah Roby, terlihat raut kesedihan di wajahnya.
"Roby... Roby harus pulang yah Nak. Kasian ayah jadi banyak libur kerjanya. Nanti kalau ayah gak kerja lagi Roby makan apa? Terus untuk sekolah sama beli mainan Roby bagaimana?" ucap Nadia mencoba membujuk Roby. Doni tersenyum melihat istrinya yang begitu bijak membujuk anak-anak.
"Okelah... Roby mau pulang," ucap Roby cemberut naik ke mobil hitam ayahnya.
__ADS_1
"Makasih yah Na, maaf sudah ngerepotin," ucap Rudi.
"Sama-sama Mas," ucap Nadia tersenyum.
Andai saja aku terlebih dahulu menikahimu, batin Rudi.
"Makasih yah Bro," ucap Rudi pada akhirnya.
"Oh... Iya sama-sama bro, hati-hati di jalan," ucap Doni.
"Tante Nadia, Ay nya mana?" tanya Roby yang baru menyadari bahwa Nadia bersama ayah nya Ay.
"M... Di rumah," ucap Nadia. "Kapan-kapan main ke rumah yah sama Ay."
"Asyik... Ayah... kapan-kapan ke rumah Ay kita yah!" ucap Roby.
"Iya Nak, makanya Roby harus sehat dulu. Banyak makan, iya kan Tante?" ucap Rudi.
"Iya," ucap Nadia.
"Kami balik dulu yah! Assalamu'alaikum," ucap Rudi.
"Wa'alaikum salam," ucap Nadia dan Doni.
"Sayang..." ucap Doni memulai pembicaraan.
"Iya mas," ucap Nadia.
"Roby itu sakit apa sayang?" tanya Doni.
"Asma mas, bawaan bayinya," ucap Nadia sedih.
"Mama nya?" tanya Doni.
"Sudah meninggal mas, waktu melahirkan Roby di meja operasi," ucap Nadia menghapus air matanya yang mengalir. Dia ingat benar bagaimana kakak sepupunya melahirkan dulu.
"Kasian yah Sayang, dia masih sekecil itu," ucap Doni.
"Iya mas, tapi mas Rudi masih tidak mau menikah lagi, kasian Roby," ucap Nadia.
Karena dia ingin menikah denganmu, sayang. Mas bisa lihat dari cara dia memandang kamu. Batin Doni.
"Padahal masih muda yah," ucap Doni.
"Iya mas, Nadia sudah berencana mau jodohin sama kak Mala. Karena mereka sama single parent," ucap Nadia.
__ADS_1
"Kak Mala yang berisik itu," ucap Doni.
"Ih... mas ini. Gak boleh ngatai orang," ucap Nadia. "Mas... kapan-kapan Nadia boleh gak bawa Ay dan Roby main bareng?"
Doni tampak berfikir. Dia tidak ingin istrinya dekat dengan pria lain. Tapi, dia merasa kasihan dengan Roby.
"Boleh sayang, ajak aja ke rumah yah," ucap Doni.
"Makasih suamiku yang ganteng," ucap Nadia mencium pipi suaminya. Doni bahagia sekali.
***
"Roby... Ayo kita main putri-putrian," ucap Ay. Saat ini Roby sedang berada di rumah Doni. Nadia meminta Rudi mengantarkan Roby ke rumah Doni. Karena mendadak Rudi ada urusan ke luar kota. Rudi merupakan ketua dari penyelenggara pemilu. Maka Rudi begitu sibuk saat ini. Nadia meminta Roby untuk menginap.
"Nggak mau ah," ucap Roby ketus.
"Iya... Aku jadi putrinya. Kamu jadi pangerannya," ucap Ay polos. Roby tersenyum menanggapi.
"Lebih enak main perang-perangan seru," ucap Roby yang mulai main perang dengan robot-robotan nya.
"Ya udahlah aku juga ikut main perang-perangan," ucap Ay yang pada akhirnya mengalah. Ay biasanya tidak mau kalah namun Ay merasa punya adik. Makanya Ay sayang dengan Roby.
Nadia dan Santi tersenyum menatap Ay dan Roby yang bermain bersama.
"Assalamu'alaikum," sapa suara di luar. Doni baru saja pulang.
"Wa'alaikum salam," ucap mereka.
"Ayah..." teriak Ay mendekati ayahnya. "Roby... Ayo... ayahku datang!" ajak Ay.
"Mas," Nadia menyalam Doni, sementara Doni menyalami Santi.
"Anak ayah main apa?" tanya Doni.
"Ayah ini Roby, temen Ay. Kami main robot-robotan," ucap Ay. Roby cuek saja masih asyik dengan mainannya. Doni menatap Roby yang sedang asyik bermain.
"Roby main apa Nak?" tanya Doni mendekati. Roby menghentikan aktivitasnya dan merasa malu.
"Main robot om," ucap Roby malu-malu.
"Anak pinter," ucap Doni mengelus kepala Roby. Roby merasa senang. Nadia senang karena Doni menyayangi Roby.
"Ayah... gendong..." ucap Ay manja.
"Kakak ini udah besar minta digendong juga," ucap Doni. Pada akhirnya Doni menggendong Ay. Roby menatap mereka. Maka Doni pun menggendong Roby juga. Mereka tertawa bersama dan bermain bersama.
__ADS_1