Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Sisi Lain dari Doni


__ADS_3

Nadia duduk dengan nyaman di belakang seraya menatap buku yang masih di tangannya. Nadia tersenyum sejenak karena mengingat bagaimana dia dan Doni memperebutkan buku itu.


"Kamu suka buku itu?" tanya Doni yang sedari tadi melirik Nadia melalui kaca spion.


"Yah... Saya suka baca buku apa aja," ucap Nadia tersenyum menatap kursi kemudi. "Novel, komik, buku-buku motivasi dan pengetahuan, saya suka semua."


"Sudah usia berapa kamu masih suka baca komik?" ucap Doni mengejek.


"Hm... Kamu nggak tau aja komik itu menyenangkan tau," ucap Nadia tidak mau kalah. Membuat Doni semakin gemas.


Tiba-tiba ponsel Doni berdering. Nadia berdebar jangan-jangan dari bunda Ay. Kenapa aku harus peduli? Batinnya. Doni mengangkat telfonnya.


"Ayaaaahhhh..." ternyata itu suara Ay. Nadia tersenyum mendengarnya.


"Iya sayang, kenapa Nak?" tanya Doni lembut.


"Ayah lagi di mana?" tanya Ay.


"Lagi pacaran, Ay" ucap Doni membuat Nadia membulatkan matanya. Bagaimana tidak sama anak-anak dia berkata begitu.


"Astaghfirullah," ucap Nadia spontan mencolek bahu Doni.


"Ayaaaahhhh..." Ay merengek kesal.


"Ay mau liat pacar Ayah?" tanya Doni mengarahkan kameranya ke arah Nadia sehingga Nadia tidak bisa mengelak.


"Aysila," ucap Nadia tersenyum.


"Ibu Nadia," panggil Ay semangat.


Nadia mengambil ponsel Doni.


"Gak usah dengerin kata ayah yah Nak," ucap Nadia.


"Cie... Ibu sama Ayah pacaran yah," ucap Ay menggoda Nadia. Wajah Nadia memerah.


"Aysila... Nggak boleh bilang gitu yah Nak. Berdosa, marah Allah," ucap Nadia. Ay pun mengangguk.

__ADS_1


"Tapi Ibu kata ayah Ibu jatuh cinta," ucap Ay polos.


"Siapa yang bilang Ay?" tanya Nadia.


"Ayah. Tadi malam ayah bilang mau nikah sama ibu Nadia biar digendong ayah, terus dipeluk ayah tiap hari," ucap Ay polos.


"Astaghfirullah Nak, gak boleh bilang gitu yah. Yah Nak," ucap Nadia dengan wajahnya yang memerah. Doni tersenyum puas. "Yang jatuh cinta itu Ayah Ay kali."


"Iya bener Ibu," ucap Ay.


"Sama siapa? Sama Bunda kan?" ucap Ay.


"Bukan Ibu, sama Ibu Nadia," ucap Ay.


Nadia semakin menggeleng menyerahkan ponselnya pada Doni. Wajahnya semakin merah padam. Namun Doni merasa senang melihat kegugupan Nadia.


"Dah yah Nak," ucap Doni menyudahi VC nya.


"Pak, tolong anak-anak itu jangan diajari kata-kata kayak gitu. Dari mana dia tau semua kata-kata itu coba," ucap Nadia mulau merepet.


"Nadia kan tau sendiri bagaimana Ay yang bijak. Saya gak ada ajari dia kok," ucap Doni membela diri.


Nadia memilih membuang mukanya ke arah kaca mobil di sebelahnya. Nadia ingat kata-kata Ay yang mengatakan Doni ingin menikah, menggendong, dan memeluk setiap hari. Membayangkannya saja buat Nadia berdebar keras. Tolong pikiran negatif go away. Batin Nadia.


Doni menatap Nadia melalui kaca spionnya dengan berbagai ekspresi yang ditunjukkannya. Membuat Doni semakin gemas padanya. Terima kasih Ay. Batin Doni.


Mereka sampai di sebuah restoran mewah. Doni membukakan pintu Nadia agar keluar. Namun yang Doni dapati malah Nadia yang tengah tertidur. Sabar Doni sabar. Batin Doni. Doni duduk di sebelah Nadia.


"Nadia..." panggil Doni. "Nadia..." Nadia menggeliat dan bukannya bangun malah memeluk lengan Doni. Dia fikir mungkin bantal.


Doni langsung membeku di tempat. Jantungnya berdebar keras. Sabar Doni... Sabar.


"Nadia..." panggil Doni lagi.


Saat ini kepala Nadia nyaris menyentuh bibirnya. Doni mendekatkan dirinya dan satu kecupan mendarat di puncak kepala Nadia. Doni mengulangnya sebanyak tiga kali. (Emang niat banget yah Doni nya eh... Authornya... 🤣)


"Nadia..." panggil Doni sekali lagi. Nadia pun terbangun dan kaget melihat wajah Doni yang berjarak begitu dekat ke wajahnya dengan senyuman mautnya membuat Nadia berdebar dan jatuh cinta. Nadia ingin menjerit, namun Doni menutup mulut Nadia dengan jahil. Nadia pun menggigit tangan Doni. " Awww..." Nadia pun segera keluar dari mobil itu.dan menghempaskan pintunya. Doni tertawa sebentar sambil mengibaskan tangannya yang digigit oleh Nadia. Kemudian menyusul Nadia ke dalam restoran.

__ADS_1


Doni tidak mendapati wanita itu di dalam. Doni bertanya kepada para pelayan restoran mereka menggelengkan kepala. Tak lama Nadia muncul dari arah toilet dengan masih menggerutu. Doni tersenyum melihatnya.


"Ayo makan," ucap Doni. Nadia tidak peduli hanya pergi menuju meja makan. Doni mengikutinya.


"Bapak jangan ambil kesempatan yah!" ancam Nadia marah menunjuk ke arah Nadia.


"Kamu salah faham, kamu liat sendiri video ini," ucap Doni menunjukkan kamera ponselnya yang terhubung ke CCTV mobil.


Doni menyudahinya saat Doni akan mencium puncak kepalanya. Karena pasti gadis di sebelahnya itu akan mengamuk. Nadia merasa malu ternyata dia yang sudah memeluk tangan Doni.


"Maaf..." ucap Nadia. "Apa tangan anda sakit?"


"Hm... Iya nih... Bagaimana yah. Pasti infeksi ini kalo tidak diobati," ucap Doni lebay.


Nadia memperhatikan bekas gigitannya yang masih terlihat jelas di tangan Doni. Nadia mendelik sinis ke arah Doni.


"Lebay... Infeksi... Emangnya saya punya penyakit Rabies apa?" ucap Nadia manyun. Doni pun tertawa begitu juga dengan Nadia pada akhirnya.


Walau tidak ada peresmian, mereka memang terlihat seperti sepasang kekasih. Saling bercanda, tertawa, ambek-ambekan, dan rindu. Mereka menghabiskan makan siang mereka dengan candaan.


"Saya fikir sampai di sini saja pertemuan kita yah Pak. Karena saya harus balik sekarang," ucap Nadia.


"Kapan kamu pulang?" tanya Doni.


"Hari ini," ucap Nadia menatap Doni.


"Tidakkah kamu mau tinggal lebih lama?" tanya Doni.


"Orang tua saya membutuhkan saya," ucap Nadia.


"Jadi, Saya dan Ay tidak?" tanya Doni.


"Bunda Ay kan ada," ucap Nadia dengan pernyataan menyelidik.


"Oh iya bener," ucap Doni mencoba memancing Nadia agar cemburu, dan benar saja ekspresi Nadia seketika berubah kecewa.


"Oke, Saya Permisi!" ucap Nadia dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Nadia pun beranjak dari sana meninggalkan Doni yang tersenyum melihat Nadia yang cemburu. Nadia merasa kecewa. Kenapa aku harus kecewa? Oke Nadia, sekarang kamu menyadari bahwa dirimu memang benar-benar sudah mencintai pria itu. Batin Nadia. Para Bodyguard nya dengan setia sudah menunggunya di luar. Nadia merasa tidak tenang. Namun, dia harus pulang.


Sementara itu Doni mengirim story di aplikasinya. Doni sengaja membuat story di aplikasinya agar dilihat Nadia dan benar saja yang pertama kali melihatnya adalah Nadia. Doni tersenyum mengingat Nadia yang menggemaskan baginya. Tak lama Nadia mengirim status bahwa dia bisa menjadi seperti Singa jika sedang marah. Doni tertawa melihat kelucuan Nadia. Nadia seakan-akan sedang marah saat ini padanya. Tunggu Nadia... Saya pasti akan segera melamar kamu. Batin Doni.


__ADS_2