
Nadia kembali ke kosannya dengan hati yang lapang. Bagaimana tidak dia sudah merasa menang menghadapi perempuan itu. Nadia fikir bunda Ay orang baik dan bersahabat. Namun ternyata orang yang suka merendahkan orang lain. Nadia memang lebih memilih hidup sederhana. Karena dia lebih suka memilih hidup seperti itu. Papi dan Mami nya sudah berulangkali melarangnya untuk pergi ke luar kota. Namun Nadia tetap keukeh ingin pergi dan mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Nadia tidak ingin memakai fasilitas apa pun yang diberikan orang tuanya. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya dan tidak ingin orang lain tau siapa dia sebenarnya. Nadia ingin mandiri dan memulai segalanya dengan dirinya sendiri. Nadia ingin mencari orang yang benar-benar ingin jadi sahabatnya. Bukan karena embel-embel kekayaan orang tuanya. Nadia ingin mencari sahabat sejati dan kalau bisa suami yang menerima dia apa adanya. Namun kali ini Nadia terpaksa mengeluarkan kartu yang sudah lama disimpannya. Kartu yang diberikan papinya namun baru kali ini Nadia mengeluarkannya untuk membuat orang lain tidak merendahkannya seperti itu. Nadia menghela nafas dan melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Sementara di tempat lain wanita itu merasa kepanasan karena guru anaknya itu telah mempermalukannya. Namun, otak liciknya segera bekerja. Dia pasti simpanan Sugar Daddy makanya bisa dapat black card seperti itu. Aku harus secepatnya memberitahu Doni agar dia menjauhi wanita itu. Batin Wanita itu dengan senyuman licik.
***
"Tuan, barusan di restoran xxx, Nona Muda memakai Black Card untuk pertama kalinya," ucap seorang ajudan.
"Selidiki," ucap bos besar itu tampak senang. "Akhirnya kau membutuhkanku, Nak."
"Baik, Tuan," ucap ajudan itu.
Pria itu berkali-kali menghubungi putrinya namun tidak tersambung. Pria itu tampak gusar. Sepertinya aku harus datang mengunjunginya. Batin pria itu.
Rasya, Bunda Ay mendatangi rumah Santi. Santi tampak tidak suka namun berusaha untuk bersikap netral.
"Bundaaaaa...." panggil Ay segera memeluk bundanya.
"Ay, Bunda bawa makanan lho," ucap Rasya.
"Makanan apa bunda?" tanya Ay semangat. Rasya memberikan makanan cepat saji dari restoran xxx.
"Bunda juga bawa banyak jajanan dan hadiah," ucap Rasya.
Ay melihat yang dibawa Rasya begitu juga dengan Santi.
"Kata Ibu Nadia, Ay gak boleh makan ciki-ciki nanti Ay mudah sakit," ucap Ay. Wajah Rasya tampak tidak senang, namun Santi merasa senang. "Ay juga gak boleh sering makan makanan cepat saja nanti Ay juga sering sakit." Rasya tampak geram. "Hadiah yang bunda kasih juga terlalu banyak, kata Ibu Nadia itu mubazir."
"Nak, Ay kan cuma sesekali makannya dan hadiah ini karena bunda jarang datang," ucap Rasya.
"Hadiah bunda kemarin belum sempat Ay buka. Bunda jangan mubazir nanti Allah marah," ucap Ay. "Ay ke dalam dulu yah bunda, Ay mau tidur siang, tadi Ay sudah makan masakan eyang yang enak." Ay pergi begitu saja meninggalkan Rasya dalam kebimbangan. Santi tersenyum penuh kemenangan.
"Mas Doni kemana Mah?" tanya Rasya.
"Masih di kantor," ucap Santi ketus.
"Kalau gitu Rasya permisi Ma, mau nemui mas Doni dulu," ucap Rasya berlalu.
Mau apa lagi dia? Batin Santi.
***
__ADS_1
Sampai di sekolah Doni, semua mata tertuju pada Rasya. Bagaimana tidak, penampilannya begitu cantik dan memukai, Rasya merasa bangga dengan itu. Doni menatap Rasya dari jauh di balik kaca kantornya.
Mau apa dia ke sini? Batin Doni. Rasya segera masuk ke ruangan Doni saat sudah dipersilahkan.
"Ada apa?" tanya Doni jutek.
"Kok kamu jutek si Mas, kita kan sudah lama tidak bertemu," ucap Rasya manja mencoba mendekati Doni.
"Jangan dekat," ucap Doni tegas.
"Baiklah," ucap Rasya duduk di depan Doni. Meja menjadi perantara mereka. "Apa kamu tau Mas, bahwa Nadia simpanan Sugar Daddy?"
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Doni menatap tajam ke arah Rasya.
"Yah... Kalau tidak percaya selidiki saja, karena dia memiliki black card. Siapa yang memiliki black card di dunia ini coba? Dia hanya seorang guru TK, tinggal di kosan kecil," ucap Rasya mengejek. "Sudah aku cuma mau bilang itu saja." Rasya merasa senang karena wajah Doni berubah menjadi masam. Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, jangan harap orang lain juga bisa mendapatkan mu. Batin Rasya merasa menang.
Doni memikirkan apa yang dikatakan Rasya. Apa benar Nadia simpanan Sugar Daddy? Tapi tidak mungkin. Tapi... Kenapa dia memiliki Black Card. Batin Doni semakin bingung.
***
Hari ini Nadia datang agak cepat. Pagi-pagi dia dikejutkan kedatangan Papi dan Mami nya. Saat ini Papi dan Mami nya sedang berada di hotel. Nadia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu. Setelahnya baru menemui kedua orang tuanya.
Ay datang bersama ayahnya menggunakan mobil. Nadia tengah sibuk membalas pesan-pesan dari orang tuanya. Sehingga Nadia tidak menyadari kedatangan mereka. Doni menatap Nadia dari kejauhan yang tengah fokus dengan ponselnya. Nadia tampak anggun hari ini memakai gamis dan jilbab panjang. Tidak kelihatan bahwa dia adalah simpanan Sugar Daddy. Doni tidak ingin turun. Nadia mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat Doni yang tidak turun dari mobilnya. Nadia merasa berdebar menatap Doni yang tidak melihatnya. Ay berjalan ke arah Nadia dan memeluk Nadia. Doni menatap mereka sebentar kemudian melajukan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Nadia.
"Ay ambil uang ayah yang banyak dari kantongnya trus ayah marahi Ay," ucap Ay.
"Pastilah marah Nak, Ay ambil uang orang tua. Wajar ayah marah karena nanti Ay jadi kebiasaan ambil-ambil punya orang. Itu namanya mencuri," ucap Nadia.
"Itukan orang tua Ay Ibu, jadi wajar donk kalau Ay ambil uangnya," ucap Ay. Nadia tersenyum mendengar perkataan Ay yang bijak.
"Iya, memang orang tua Ay, tapi Ay harus minta sama orang tua jangan asal diambil aja. Bilang gini, Ayah... Ay minta uang yah. Pasti dikasih ayah tu," ucap Nadia. "Oke..."
"Iya Ibu," ucap Ay.
***
Nadia pulang langsung pergi ke hotel tempat orang tuanya menginap. Hotel xxx yang mewah dan megah. Di depan pintu kamar mereka sudah berjaga para ajudan papinya.
"Anak Papi," ucap Papinya saat Nadia datang. Nadia menyalam dan mencium tangan Papinya.
__ADS_1
"Nadia," ucap maminya memeluk dan mencium Nadia.
"Kamu sehat Nak?" tanya Papinya.
"Sehat Pi," ucap Nadia.
Mereka duduk di sofa. Kamar itu tipe kamar yang paling mewah. Papinya memesan makanan dan minuman melalui telfon.
"Kenapa jarang kasih kabar, Nak?" tanya Mami.
"Hehehe... Maaf Mi, Nadia sering lupa karena banyak kerjaan," ucap Nadia.
"Kamu betah di sini?" tanya maminya. Nadia mengangguk.
"Ayo kita pulang ke rumah," ajak papinya.
"Nggak bisa Pi, Nadia nyaman di sini," ucap Nadia.
"Nyaman bagaimana? Bukannya kamu semalam ditindas seseorang sehingga kamu mengeluarkan black card yang papi kasih," ucap papinya.
"Papi... Terima kasih karena sudah peduli dan sayang pada Nadia," ucap Nadia bergelayut di lengan papinya. "Tapi Nadia ingin mencoba merasakan hidup mandiri papi tanpa harus ada nama keluarga di belakang Nadia. Nadia bersyukur punya papi dan mami yang sayang pada Nadia."
"Hm... Kamu memang berbeda dari kakakmu. Kakakmu begitu menikmati fasilitas yang papi berikan. Sementara kamu malah lebih memilih jalanmu. Ntah siapa kalian yang lebih dewasa," ucap papinya.
Nadia tersenyum memeluk lengan papinya.
"Ya sudah, jika terjadi sesuatu sama kamu, kamu harus segera memberitahu papi, faham?" ucap papinya tegas.
"Siap Papi!" ucap Nadia menghormat. "Do'ain Nadia yah Pi, Mi."
"Iya Nak, kami pasti akan selalu mendo'akanmu," ucap Maminya mengelus kepala Nadia.
Makanan datang, mereka pun menyantap makanan yang tersedia dengan penuh gembira.
***
Penasaran gak siapa Papi dan Maminya Nadia? Coba tebak apa pekerjaan mereka!
a. Pengusaha
b. Pedagang
__ADS_1
c. Pejabat
☺️☺️☺️