Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Sama-sama Salting


__ADS_3

Hari ini Nadia datang agak terlambat. Sampai di sekolah banyak yang belum hadir. Nadia memilih tetap di kelas. Bosan di kelas Nadia berayun di luar. Saat ingin baris, Nadia menuju gerbang dan ingin mengunci pintu. Tiba-tiba mobil putih mendekat. Nadia mengerutkan keningnya melihat siapa pengendaranya. Saat berhenti Nadia menyadari bahwa itu adalah pria jangkung cool yang ganteng. Hot Daddy yang memiliki seorang putri, siapa lagi kalau bukan Doni. Doni keluar kemudian tersenyum menatap Nadia. Nadia pun turut tersenyum. Doni membuka pintu depan keluarlah Aysila.


"Hai... Cantik..." ucap Nadia tersenyum. "Salam Ibu." Ay pun menyalam Nadia.


Kemudian Doni membuka pintu belakang dan mengambil tas Ay. Nadia meraih tas Ay. Tangan mereka tak sengaja saling bersentuhan.


"Salam ayah, Nak," ucap Doni. "Ayah pergi kerja dulu yah."


"Iya, dadah ayah," ucap Nadia. Kemudian Ay disambut para bestie nya.


Di belakang dan depan mobil Doni terparkir septor orang tua murid yang lain. Nadia menyambutnya.


"Bentar yah ayah," ucap Nadia. Karena septor depan menghalangi mobil Doni. Doni duduk di belakang kemudi menatap Nadia yang menggandeng salah seorang anak muridnya. Doni tersenyum menatap Nadia dengan tatapan cinta. Nadia berkali-kali menatap ke arah Doni sambil tersenyum. Jantungnya berdebar terus-menerus.


Saat ingin makan, Ay tidak membawa bekal makan Nadia menelfon Doni. Namun Doni tak mengangkatnya.


"Kenapa Ayah gak angkat Ibu?" tanya Ay.


"Ibu gak tau Nak, ayo kita rekam suara," ucap Nadia.


'Ayah... Mana makanan Ay.'


Tidak ada tanggapan sama sekali dari ayahnya. Maka Nadia pun mengabaikan dan tetap fokus mengajar. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum," sapa suara di luar kemudian sebuah kepala menyembul. Nadia tersenyum menatap wajah Doni. Doni melihat ke arah Nadia dan berdiri di luar.


"Ayah..." panggil Ay. Nadia pun membuka pintu lebar agar Ay dan ayahnya bersua.


"Iya Nak, ayah mau antar ini," ucap Doni. Nadia mengambil bungkusannya dan tangan mereka pun bersentuhan. Ay menyalam ayahnya. "Ayah pergi dulu yah Nak. Terima kasih yah Ibu."


"Ehm... Iya Pak," ucap Nadia ingin menutup pintu. Namun Nadia mengurungkan niatnya, memperhatikan Doni yang memungut sepasang sepatu kecil dan merapikannya. Manis sekali. Batin Nadia mengintip sedikit sambil tersenyum. Doni menyadari itu dan menjadi salting. Nadia semakin tersenyum menatapnya.


"Dadah ayah..." ucap Ay dari jendela.


"Dah..." ucap Doni melambaikan tangannya.


Lagi-lagi Nadia berdebar menatap punggung yang tegak itu. Nyamannya kalau dipeluk. Batin Nadia yang tiba-tiba membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


***


Hari Sabtu Nadia datang agak terlambat. Nadia sibuk mengajari anak-anak mengaji di ayunan. Saat sudah baris berbaris, Mala memimpin barisan. Nadia memilih barisan di belakang bersama anak-anak. Tak lama mobil putih itu muncul. Nadia cuek saja tetap senam seperti biasa. Maka Mala yang menyambut Ay dan Doni. Semua teman-teman Ay menyebut nama Ay.


"Artiiiissss..." teriak Nadia. Doni mendengar itu. Tapi Doni lebih fokus membetulkan tali sepatu Ay yang terlepas.


Nadia pindah di depan memimpin senam. Doni melirik ke arah Nadia yang begitu semangat memimpin anak-anak senam.


"Kenapa gak disambut Ibu?" tanya Yuni salah satu guru di situ.

__ADS_1


Nadia hanya tersenyum menanggapi dan melirik sekilas ke arah Doni yang menyerahkan tas kepada Mala. Ay mendekat ke arah Nadia. Mereka saling mengejek, kemudian Ay memeluk Nadia. Dibalas Ay dengan pelukan. Doni menatap keduanya dengan tatapan cinta. Saat sudah masuk kelas mereka belajar menari. Namun saat makan Doni lupa membawa bekal Ay.


"Ibu... Makanan Ay gak ada," ucap Ay merengek pada Nadia.


"Ayo... Ayah Ay lupa lagi beli makanan Ay. Ayo... Ayahnya lupa punya anak," ucap Nadia mengejek.


"Ibu..." Ay merengek lagi.


"Nah, telfon ayah," ucap Nadia.


'Ayaaaaahhhhh...' ucap Ay merengek.


'Iya, apa kakak?' tanya Doni di seberang.


'Antarkan makanan Ay ayah ke sekolah,' ucap Ay.


'Iya, nanti ayah anterin yah. Tunggu yah Nak,' ucap Doni.


'Iya ayah,' ucap Ay.


'Iya ayah,' sambung Nadia.


Deg. Doni tersenyum di seberang. Nadia juga tersenyum sendiri dengan keberaniannya.


'Iya, dah yah.' Panggilan berakhir.


Ternyata ayahnya lama sekali datang. Ay sudah kelaparan. Ay melihat makanan temannya jadi ingin meminta. Nadia tidak tega melihat Ay seperti itu.


"Kita mau ke mana Ibu?" tanya Ay.


"Ay mau beli kue atau jajan?" tanya Nadia.


"Ay mau beli kue Ibu," ucap Ay.


"Oke ayo," ajak Nadia.


"Ay mau beli es krim Ibu," ucap Ay.


"Jangan sekarang makan es krim nya Nak, nanti kalau udah pulang minta sama ayah Ay, Oke!" ucap Nadia.


"Oke Ibu," ucap Ay.


Nadia mengajak Ay ke warung dekat kos an nya.


"Ay capek Ibu, jalan terus," ucap Ay.


"Dekat lagi Nak, dekat kos an ibu," ucap Nadia.

__ADS_1


"Oh... Oke," ucap Ay semangat.


Sampai di sana Ay minta dibelikan donat. Nadia pun membelikan donat untuk Ay. Saat perjalanan pulang Nadia menatap Doni dari kejauhan yang mencari Ay. Nadia tersenyum melihat Doni yang kebingungan.


"Itu ayah Ay," ucap Nadia. Ay pun memanggil ayahnya dengan suaranya yang nyaring.


"Ayaaaaaahhhhh..." panggil Ay semangat.


"Aduh Nak... Berapa itu Ibu harga kue nya?" tanya Doni pada Nadia.


"Alah... Udahlah Pak," ucap Nadia santai.


"Bilang apa sama Ibu Ay?" tanya Doni sambil menyerahkan bungkusan ke tangan Ay.


"Makasih Ibu," ucap Ay.


"Iya," cap Nadia.


"Ay... Ay... Gak sabaran kali," ucap Doni di belakang Nadia dan Ay. Nadia hanya tersenyum menanggapi.


"Ay fikir tadi siapa rupanya ayah," ucap Ay polos. Nadia tertawa menanggapi.


"Ay fikir siapa? Ay fikir siapa? Ya ayahlah," ucap Doni tersenyum. Nadia tersenyum mendengar perdebatan ayah dan anak ini.


"Ayah naik apa ke sini? Mana kereta ayah?" tanya Ay.


"Itu... Kereta ayah di depan ayah parkir," ucap Doni. Nadia tertawa menanggapi. "Nanti kita langsung pulang ke rumah yah Nak, pulang sekolah nanti."


"Kenapa ayah?" tanya Ay polos.


"Kok kenapa? Eyang udah tungguin di rumah Nak, bunda Ay juga minta Ay ke rumah," ucap Doni sengaja membesarkan suaranya ingin melihat reaksi Nadia.


Nadia yang mendengar itu bersikap biasa saja malah tersenyum.


"Terima kasih yah Ibu," ucap Doni.


"Hah... Oh... Iya Pak," ucap Nadia gugup. Kok jadi gugup bodoh. Batin Nadia merutuki dirinya.


"Ay denger, nanti langsung pulang yah," ucap Doni.


"Iya ayah," ucap Ay. Mereka sudah sampai di gerbang sekolah.


"Iya ayah, dadah ayah," ucap Nadia menatap Ay. "Bilang gitu Nak."


Ay cuek masuk ke gerbang dengan menenteng dua bungkusan kue dari Nadia dan dari Doni. Doni menghela nafas.


"Iya... Dadah Ibu," ucap Doni saat Nadia sudah masuk ke gerbang.

__ADS_1


Nadia menghentikan gerakannya. Apa katanya tadi? Udara... Mana udara... Batin Nadia menatap ke arah Doni. Doni salah tingkah dan membuang mukanya menatap ke arah Ay.


"Eh... Kok jadi dadah Ibu?" ucap Doni pelan. Nadia ingin tertawa namun menahannya dengan melempar senyuman ke arah Doni, walau Doni masih menatap ke arah yang lain. Nadia lebih memilih untuk undur diri meninggalkan Doni sendiri di depan gerbang dengan salah tingkahnya. Begitu juga dengan Nadia yang salah tingkah tingkat ke seratus sepertinya. 🤣🤣🤣


__ADS_2