Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Menikah


__ADS_3

Malam pun menjelang. Nadia dan Doni tengah siap untuk akad nikah. Nadia hanya ingin dipoles sedikit saja dan tidak berlebihan. Nadia tampak anggun dan cantik. Doni tidak berkedip memandang wajah Nadia yang cantik. Saat ini mereka tengah berada dalam ruang tamu yang sudah dihias sedemikian rupa dan tampak sederhana. Nadia sendiri pangling melihat tampilan Doni yang begitu ganteng dengan jas nya. Akad nikah pun dimulai. Pernikahan ini hanya dihadiri keluarga dan para pengawal dan pelayan.


"Pernikahan ini tidak sah," ucap suara secara tiba-tiba.


Sonia merasa menang karena saat ini Sonia membawa bunda Ay. Semua merasa terkejut.


"Bunda," ucap Ay tiba-tiba.


"Anak bunda," ucap bundanya.


"Gak... Ay gak kenal bunda. Bunda Ay Ibu Nadia," ucap Ay.


"Tapi bunda hamil adek Ay. Ini anak bunda dan ayah," ucap bundanya mulai berakting. Nadia menatap Doni tak percaya. Doni menggelengkan kepalanya.


"Bunda..." Ay mulai terpengaruh.


"Anak Doni? Jangan mimpi kamu," ucap Santi.


"Ini bukti tes DNA nya Ma," ucap Bunda Ay menangis menunjukkan isi tes DNA. Bram menyambarnya dan merasa murka.


"Kamu..." Bram ingin menghajar Doni.


"Pak Bram..." Santi saat ini sangat marah. "Bapak percaya dengan tes DNA ini padahal tidak ada sampel Doni di sana."


Bunda Ay dan Sonia tampak pucat pasi.


"Jangan-jangan dia tidak benar-benar hamil," ucap Santi mengejek dan merendahkan bunda Ay. Saat ini dia merasa geram.


"Ibu benar... Ini rekaman percakapan mereka," ucap suara seseorang. Ternyata itu adalah Ronal.


"Ron..." Nadia merasa senang. Ronal tersenyum membuat Doni sedikit cemburu. Namun intinya rekaman itu pembicaraan antara bunda Ay dan Sonia yang ingin menggagalkan pernikahan mereka.


"Eh... Kalau gitu... Kita lanjutkan..." Ucap Bran merasa malu.


"Papi... Papi tidak adil. Kamu aku pecat," ucapnya pada Ronal geram. Ronal menanggapi santai.


"Sonia... Jika kamu sekali lagi mencoba menggagalkan pernikahan adikmu, maka semua fasilitas kamu papi cabut. setelah ini papi akan buat perhitungan sama kamu," ancam papinya. Sonia mendadak pucat dan ingin pergi dari situ.

__ADS_1


"Kak Sonia..." Panggil Nadia. Di hari yang bahagia ini Nadia tidak ingin ada pertengkaran dalam keluarganya Nadia memegang tangan Sonia. "Kak..."


"Kamu bukan adikku Nadia, Ibumu bukan ibu kandungku," ucap Sonia.


Jeder... Nadia merasa terkejut mendengar pernyataan dari Sonia.


"Sonia...!" Ucap Bram.


"Kamu tau mamimu itu sudah merebut papiku dari mamiku," ucap Sonia murka. Nadia menampar keras wajah Nadia. Nadia tidak terima. Jadi selama ini hanya Nadia yang tidak tau. Tiba-tiba Nadia merasa pusing dan pingsan.


***


Nadia terbangun dari pingsannya. Saat ini Nadia tengah berada di sebuah kamar yang sudah dihias seperti kamar pengantin. Nadia mendengar suara ribut-ribut di luar. Nadia teringat terakhir kejadian. Nadia mendadak menangis. Jadi selama ini kak Sonia satu ayah lain ibu dengan dia. Doni memasuki kamar dan merasa bersyukur karena Nadia sudah siuman dan duduk.


"Alhamdulillah syukurlah, Kamu sudah siuman Sayang," ucap Doni yang memeluk dan mencium kening, kedua pipi dan terakhir bibir Nadia. Nadia menolak Doni merasa marah. "Kita sudah menikah sayang." Nadia mengerutkan keningnya.


"Bagaimana ceritanya?" Tanya Nadia sewot.


"Ini..." Doni menunjukkan video ucapan ijab kabul Doni dan Bram di kamar ini dengan Nadia yang terbaring di sana. Sonia sendiri juga berada di sana. Nadia jadi bingung sendiri. "Keningnya jangan berkerut gitu." Doni memijat kening Nadia kemudian mencium keningnya dengan gemas.


"Nadia sudah siuman Nak?" Tanya Santi yang tiba-tiba masuk. "Aduh... Kalian ini sudah mesra-mesraan seharusnya tutup pintu."


"Jangan bergerak dulu Nak, kamu kecapekan mungkin," ucap Santi. "Kasih minum Doni."


Doni segera memberikan segelas air putih pada Nadia. Doni membantu Nadia minum.


"Nadia sudah siuman?" Tanya Bram kali ini masuk bersama Sonia dan maminya serta Ay.


"Nadia..." Ucap Sonia memeluk Nadia. "Maafin kakak. Sebenarnya tadi kakak cuma bohong karena kakak kesal kamu nikah duluan."


"Hah! Jadi kakak... Uh... Kak Sonia jahat..." Ucap Nadia merengek.


"Emang kakakmu ini kan tengil Na, selalu iri sama kamu dari dulu," ucap maminya.


"Mami..." Sonia merengek.


"Tapi papi tetap akan hukum kamu karena sudah berencana memfitnah menantu papi," ucap Bram.

__ADS_1


"Iya pi iya... Kali ini Sonia mengalah. Emang sebenarnya Sonia selalu kalah dari Nadia," ucap Sonia mulai cemburu lagi.


"Hm... Kak Sonia... Nadia gak pernah iri lho sama kakak walaupun kakak sudah sukses dan terkenal. Malah Nadia bangga," ucap Nadia.


"Justru itu Na, yang buat kakak iri dari kamu salah satunya ini kamu selalu baik hati padahal kakak ingin kamu juga punya rasa iri sama kakak," ucap Sonia.


"Sudah-sudah... Sudah clear kan semua. Semua keluar karena pengantin baru ingin berduaan," ucap mami.


"Ay gak mau keluar. Ay mau tidur sama ayah sama bunda," ucap Ay.


"Ay... Bunda nya lagi sakit jadi ayah mau obatin," ucap Santi.


"Ayah kan bukan dokter eyang, ayah itu kepala sekolah," ucap Ay bijak. Mereka semua tertawa.


"Ay sayang pinter banget sih. Mau Tante tunjukin baju-baju baru gak? Ayuk!" Ajak Sonia membujuk. Akhirnya Ay menurut.


Mereka pun keluar dari kamar. Doni mengunci pintunya. Nadia merasa berdebar begitu juga dengan Doni.


"Ayo makan dulu," ucap Doni menyuapi Nadia. Nadia merasa enggan dan malu. Namun akhirnya menyuap makanan yang diberikan.


"Mas gak makan?" Tanya Nadia malu-malu.


"Iya ini mas makan," ucap Doni memakan nasi yang sama dengan sendok yang sama bekas Nadia.


"Mas jorok itukan bekas Nadia," ucap Nadia.


"Kita kan pernah ciuman sayang," ucap Doni santai. Nadia merasa malu. Doni senang terus menggoda Nadia. "Ehm... Abis makan kita sholat dulu setelah itu..."


"Setelah itu apa?" Tanya Nadia.


"Setelah itu melakukan sunah Rosul sayang," ucap Doni membuat wajah Nadia semakin merah padam.


Selesai makan dan sholat, Nadia masih menggunakan jilbabnya. Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dek... Boleh Mas buka jilbabmu?" Tanya Doni membuat Nadia berdesir. Nadia mengangguk.


Doni mendekati Nadia dan perlahan membuka jilbabnya.

__ADS_1


Deg! Doni berdebar melihat Nadia yang semakin cantik dengan rambut yang panjang dan terurai. Ternyata Nadia sudah mengenakan pakaian tidur dibalik jilbabnya. Doni menangkup kedua pipi Nadia dan mulai mencium Nadia.


Nadia semakin bahagia karena Doni memanjakannya dan begitu lembut. Doni juga merasa beruntung saat ini telah menikahi wanita yang dicintainya. Doni berjanji pada dirinya sendiri dia tidak akan mengulangi kegagalan pernikahannya untuk kedua kalinya. Nadia adalah istri terakhirnya yang akan mengisi sisa hidupnya.


__ADS_2