
"Ehm... Mas..." Nadia merasakan sensasi saat Doni mengeksplor setiap inci tubuhnya. Baju dinasnya yang transparan membuat Doni semakin bergairah. Doni tidak sabaran segera mengoyak bajunya. "Mas kenapa dikoyak lagi?"
"Menutupi tubuhmu yang indah sayang, mas gak tahan," ucap Doni mencium istrinya dengan penuh kasih sayang. "Mas mulai yah!"
Nadia semakin bergairah, begitu juga dengan Doni. Miliknya serasa diremas di dalam. Milik istrinya masih saja sempit menbuatnya semakin keenakan. Doni mengubah posisi Nadia kemudian menikmatinya lagi. Yang ada hanya lenguhan dan ******* di setiap sudut kamar mereka. Tak terasa Doni melakukannya sebanyak tiga ronde dengan berapa kali pelepasan. Mereka tidur saling berpelukan.
Keesokan paginya Doni membangunkan Nadia untuk sholat subuh. Doni baru saja pulang dari mesjid. Sebelum ke mesjid tadi Doni sudah membangunkannya, namun sepertinya Nadia belum juga bangun karena masih polos dalam selimut.
"Sayang... Bangun sholat atau mau seronde lagi?" Goda Doni.
Nadia membuka matanya dan melihat suaminya yang rapi memakai peci, baju koko, dan sarung.
"Sudah jam berapa mas?" Tanya Nadia.
"Setengah enam," ucap Doni.
"Astaghfirullah... Kenapa gak mas bangunkan?" Tanya Nadia ingin bangkit. Namun Nadia tersadar dalam keadaan polos. Pakaian dinasnya tentu saja berakhir mengenaskan juga.
"Sudah mas bangunkan lho sebelum subuh tadi," ucap Doni.
"Mas, ambilin handuk! Nadia malu," ucapnya.
"Mas udah liat semua kok," ucap Doni tetap mengambilkan handuknya.
Nadia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian keluar untuk sholat. Doni memperhatikan Nadia yang memakai handuk, sungguh membuat dirinya berdiri tegak lagi. Doni menunggu Nadia sampai selesai sholat. Doni sudah bersiap dengan pakaian kerjanya.
"Mas masuk hari ini?" Tanya Nadia.
"Iya sayang, ada yang perlu dikerjakan," ucap Doni.
"Bukan karena mas mau ketemu sama asisten mas yang seksi itu?" Tanya Nadia cemberut. Doni menghentikan aksinya dan menatap istrinya dengan senyum mengembang.
"Kamu cemburu sayang?" Tanya Doni menggodanya.
"Siapa yang cemburu?" Ucap Nadia mengelak. "Ayo turun mas! Mau urus Ay." Doni mengekori istrinya. "Ay gak sekolah mas?"
"Libur aja dulu sayang," ucap Doni. "Nanti pulang sekolah mas ajari berenang yah sayang. Pakai bikini seksi yah."
"Ih... Mas... Nadia malu," ucap Nadia.
"Kalian sudah siap-siap?" Tanya Santi di meja makan.
"Bibi masak apa Ma?" Tanya Doni.
"Belum ada masak," ucap Santi.
__ADS_1
"Sini biar Nadia yang masak Ma," ucap Nadia.
"Gak usah Na," ucap Santi.
"Kenapa tidak Ma? Nadia ingin masak untuk mama, suami dan anak Nadia," ucap Nadia kekeh.
"Ya udah ma, gak papa," ucap Doni.
"Ibu Nadia," panggil Ay merengek baru bangun.
"Eh... Anak Ibu udah bangun. Ayo pipis terus cuci muka biar sarapan," ucap Nadia. Ay menuruti. Selesai melaksanakan hajatnya Ay menuju ke meja makan.
"Ibu masak apa? Harum," ucap Ay.
"Nasi goreng," ucap Nadia.
"Asyik... Ay suka nasi goreng ibu," ucap Ay.
"Cucu eyang pinter," ucap Santi.
"Ay pinter kan eyang? Berani tidur sendiri?" Ucap Doni.
"Ayah yang takut tidur sendiri. Minta ditemani Ibu tidur," celoteh Ay. Mereka pun tertawa.
"Mas kerja dulu yah sayang," ucap Doni. "Kalau mau pergi kabari mas dulu yah."
"Iya mas," ucap Nadia mengecup punggung tangan suaminya. Kemudian Doni mengecup keningnya.
"Ay gak mau sekolah," ucap Ay.
"Iya Ay boleh libur dulu. Tapi jangan nakal yah Nak," ucap Doni mencium pipi anaknya.
"Ay gak nakal kok, Ay anak baik," ucap Ay.
"Iya sayang, Ay anak baik," ucap Doni. "Dah ayah pergi kerja yah. Ma, Doni berangkat kerja yah. Sayang..." Nadia tersenyum menatap kepergian suaminya begitu juga dengan Doni.
Sampai di sekolah semua heran dengan perubahan sikap Doni yang ceria. Biasanya Doni selalu memasang wajah yang cool namun saat ini Doni tersenyum kepada setiap orang membuat mereka baper khususnya wanita.
***
Doni pulang agak sore, Nadia menunggu suaminya dengan senyuman.
"Sayang... Sini Nadia bawain tasnya," ucap Nadia.
"Nggak usah sayang, biar mas sendiri," ucap Doni.
__ADS_1
"Mama sama Ay mana?" Tanya Doni.
"Tadi keluar bentar Mas, minta beli jajan. Nadia gak dibolehin mama ikut karena khawatir mas pulang gak ada orang di rumah," ucap Nadia.
"Jadi hanya kita berdua di sini sayang?" Tanya Doni tersenyum penuh arti.
"Ada pengawal juga mas," ucap Nadia.
"Kan di luar sayang. Mas pengen sayang," ucap Doni. Nadia membulatkan matanya.
"Mas... Nadia sudah mandi," ucap Nadia.
"Nanti mandi lagi sayang, mas gak masalah. Ayo!" Ajak Doni.
Nadia pun menuruti Doni sampai ke kamar.
"Bentar yah sayang, mas mandi dulu. Sayang ganti baju dinas dulu yah!" Ucap Doni.
"Mas... Ngapain Nadia pakai kalau ujung-ujungnya mas robek juga," ucap Nadia. "Mubajir tau."
"Hehehe... Mas nggak tahan sayang," ucap Doni. "Udah ah! Nanti keburu mereka pulang."
Doni segera menyelesaikan hajatnya. Saat membuka pintu. Doni berdesir menatap istrinya yang tampak malu-malu mengenakan baju dinasnya. Nadia juga memoles wajahnya sedikit dan menggunakan parfum. Doni semakin bergairah. Nadia sendiri beberapa kali menenggak air liurnya menatap tubub suaminhya yang begitu seksi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Roti sobeknya begitu menantang.
Doni pun langsung memagut istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Doni melancarkan serangan beberapa kali membuat istrinya mendesah membuat dia semakin bergairah.
"Sayang... Kenapa masih sempit? Mas ketagihan sayang... Tidak mau lepas," ucap Doni.
"Mas... Nadia malu..." Ucap Nadia semakin memerah wajahnya. Doni menaikkan temponya dari pelan, ke sedang, kemudian ke cepat. Nadia seperti melayang. Nadia sendiri malu mengakui kalau dirinya juga ketagihan bermain dengan suaminya.
"Ibu... Ay sudah pulang..." Suara Ay terdengar dari bawah.
Doni segera mempercepat dan akhirnya mereka sampai ke puncak kenikmatan.
"Mas duluan mandi yah sayang, biarkan pintunya terkunci," ucap Doni. Nadia mengangguk lemas.
"Ibu... Ibu di mana? Ibu di kamar? Ay ke atas yah!" Ucap Ay.
Doni mempercepat mandinya dan segera keluar sebelum si ceriwis mendobrak pintunya.
"Ayah udah pulang? Mana ibu Nadia?" Tanya Doni heran. Nadia segera mengunci pintunya.
"Ibu... Lagi tiduran bentar Nak. Eh... Anak ayah dari mana?" Tanya Doni mengalihkan perhatian Ay. "Ayo turun." Doni berhasil membujuk Ay untuk turun.
Nadia segera mengganti sprei mereka. Nadia melihat baju dinasnya. Kali ini Doni tidak merobeknya karena suaminya melakukan semuanya dengan penuh kelembutan dan hati-hati. Nadia merasa malu sendiri mengingat pergumulan mereka. Doni begitu kuat dan mennggempurnya tiada ampun. Nadia segera membersihkan dirinya. Ada banyak bekas merah di tubuhnya akibat ulah Doni yang mengecap sebagai kepemilikan dirinya. Gak nyangka ternyata suaminya yang cool justru di luar dugaan kalau urusan ranjang.
__ADS_1