
Nadia memilih menoleh ke luar jendela karena saat ini dirinya merasa malu.
"Ibu... Ay haus," ucap Ay.
Nadia menoleh dan menatap Ay dengan gemas. Begitu juga dengan Doni yang menatap Ay dengan gemas, bukannya bilang sama dia malah sama Nadia.
"Bentar yah Nak, Ibu belikan," ucap Nadia. Doni menatap Nadia. "Pak, nanti berhenti di kedai yah. Mau beli minum." Nadia mengatakan pada pengawalnya.
"Baik Nona," ucap pengawalnya.
Tak lama mobil berhenti. Doni segera turun begitu juga dengan Nadia. Keduanya sejajar di kedai itu.
"Biar saya yang bayar," ucap Doni. Nadia hanya menuruti walau dia merasa tidak enak karena mengambil cemilan juga. Ya udahlah gak papa. Batinnya.
Saat di mobil, Doni mengikuti Nadia. Karena tempat duduk Nadia, pintunya menghadap ke jalan. Doni membukakan pintu untuk Nadia sebelum Nadia membukanya membuat Nadia tidak nyaman.
"Makasih Pak, gak usah repot," ucap Nadia gugup.
Entah bagaimana kejadiannya begitu cepat. Doni memeluk Nadia namun Doni menahan sebelah tangannya ke atas atap mobil agar tidak terlalu menekan Nadia. sementara tangan yang lain refleks memeluk pinggang Nadia. Nadia membulatkan mata merasa tak nyaman.
"Maaf Pak," teriak dua orang yang mengendarai sepeda motor di depan. Nadia langsung berdegup kencang karena begitu dekat dengan Doni. Nadia menolak dada Doni yang datar. Lebih tepatnya meraba tanpa sengaja.
Astaga, batin Doni segera menjauhi Nadia karena mendadak ada yang berdiri tegak namun bukan tiang bendera. 🤣🤣🤣
Wajah Doni merah padam. Sementara pengawal yang melihat kejadian itu tersenyum geli. Doni segera masuk ke dalam mobil dan tidak berkata-kata lagi. Begitu juga dengan Nadia yang begitu malu. Mobil pun kembali melaju.
"Mana minuman Ay," ucap Ay memecah keheningan. Keduanya menoleh menahan malu.
"Ini Nak," ucap Nadia menyerahkan air mineralnya. Namun Nadia kepayahan membukanya. Doni segera merebut minuman itu dan membukanya serta menyerahkan pada Ay membuat Nadia diam sesaat. Nadia menyerahkan pipet nya agar Ay lebih nyaman minum.
"Pengendara tadi pergi begitu saja yah Pak," ucap pengawal itu. Mau tidak mau Doni teringat kejadian tadi. Namun Doni segera menguasai dirinya.
"Em... Iya..." ucap Doni singkat tidak ingin membahasnya. Nadia juga merasa malu.
"Nadia turun di mana?" tanya Doni tiba-tiba mengurangi rasa gugup.
"Oh... em... di hotel saja Pak. Besok saya pulang," ucap Nadia.
"Ay mau ikut sama ibu Nadia di hotel," celoteh Ay.
"Ay... Besok kan sekolah. Gak boleh bolos," ucap Nadia.
"Tapi, Ay mau ikut Ibu," ucap Ay merengek.
Nadia melirik Doni. Doni mengerti arti pandangan Nadia.
"Ay... Ay gak boleh bolos sekolah. Lagi pula nanti eyang cariin Ay," ucap Doni.
__ADS_1
Ay cemberut memajukan bibirnya membuat Nadia tersenyum. Nadia mencium dan memeluk Ay dengan gemas.
"Nona... Sudah cocok jadi Ibu," ucap pengawal Nadia. Nadia membulatkan matanya.
"Fokus saja nyetirnya Pak," ucap Nadia. Pengawal itu langsung membungkam mulutnya yang ember.
Doni tersenyum senang. Nadia melirik Doni yang tersenyum. Bahagia sekali dia. Batin Nadia kemudian membuang mukanya ke jendela. Tak lama mereka sampai di hotel xxx. Hotel yang tidak terlalu besar dan berbintang. Nadia tidak ingin menghambur-hamburkan duit walau dia mampu.
"Terima kasih yah, Pak," ucap Nadia pada Doni. Hari sudah mulai gelap. Ay tertidur di sebelahnya. Saat Nadia turun. Ay mendadak bangun dan menangis.
"Ay mau ikut Ibu... Ay mau ikut Ibu..." ucapnya.
Nadia tidak tega melihatnya.
"Bagaimana kalau Ay sama saya malam ini Pak?" tanya Nadia meminta izin pada Doni.
Doni menatap Ay dan Nadia bergantian. Serta beberapa pengawal yang sudah stand by.
"Bagaimana kalau nginap di rumah saya saja?" tawar Doni.
Nadia tampak berfikir keras. Karena dia tidak ingin merepotkan Santi.
"Karena Ay besok jadi bolos kalau nginap di hotel. Saya juga tidak bisa bolak-balik karena harus ke sekolah," ucap Doni.
Nadia berfikir, memang besok tidak ada keperluan mendesak. Namun Nadia tidak ingin merepotkan. Ponsel Doni berdering.
"Wa'alaikum salam," balas Santi. "Kalian di mana? Mama sendiri di rumah."
"Iya ini mau pulang, Ma," ucap Doni me-loudspeakerkan ponselnya.
"Nadia sudah pulang?" tanya Santi. Doni menatap Nadia, begitu juga sebaliknya.
"Belum Ma, Nadia mau nginap di hotel tapi Ay minta ikut," ucap Doni.
"Ajak nginap di sini aja, Doni," ucap Santi. "Mama kesepian."
"Oke Ma," ucap Doni. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," ucap Santi mematikan sambungan.
"Bagaimana?" tanya Doni pada Nadia. Nadia kasian mendengar Santi yang kesepian.
"Baiklah," jawab Nadia.
"Hore... Ibu Nadia nginap di rumah Ay," ucap Ay senang mengerti dengan percakap mereka.
Nadia tersenyum dan memeluk Ay. Mereka masuk kembali ke mobil dan mobil melaju.
__ADS_1
"Lucu sekali anak Bapak, buat satu lagi Pak. Biar bertambah anaknya yang bijak," ucap pengawal Nadia yang mengendarai mobil Doni. Doni tersenyum.
"Mau nya sih Pak, tapi Nona tidak mau sama saya," ucap Doni. Nadia membulatkan matanya. Pengawal Nadia tampak tersenyum.
"Fokus nyetir aja Pak! Atau mau besok gaji terakhir?" ancam Nadia.
Pengawal itu tidak berani berbicara lagi dan fokus mengendarai.
"Nadia... Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Doni gemas. Nadia tidak memperdulikan perkataan Doni. Nadia tidak suka Doni mengumbar asmara mereka. Asmara? Astaga... Apa yang aku pikirkan? Batin Nadia.
"Hayo... Ibu Nadia ngambek gara-gara ayah," ucap Nadia memecah keheningan.
Pengawal Nadia tampak tersenyum mendengar perkataan Ay yang polos.
"Ay... ayo baca hafalan suroh. Ibu gak pernah dengar lagi," ucap Nadia mengalihkan pembicaraan.
"Baik Ibu..." ucap Ay memulai menghafal suroh-suroh pendek sepanjang jalan. Nadia membenarkan saat Ay salah melafalkan. Doni tersenyum melihat keakraban mereka begitu juga dengan pengawal Nadia.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Doni. Ay tidak sabar menarik Nadia masuk ke dalam. Sementara Doni dan pengawal lainnya masih di luar mengurus letak mobil.
"Nadia..." ucap Santi memeluk Nadia. "Maafin saya."
"Ibu gak salah apa-apa kok. Justru Nadia yang minta maaf karena sudah merepotkan," ucap Nadia.
"Merepotkan apa?" tanya Santi melepaskan pelukannya. "Nadia sudah makan? Ayo kita makan!"
"Belum eyang... Ay laper," kali ini Ay yang menjawab. Nadia dan Santi tersenyum.
"Ya udah ayo kita makan, Ay sayang," ucap Santi.
"Nadia mau sholat dulu, Bu," ucap Nadia.
"Oh... Iya ayo!" ucap Santi mengajak Nadia ke Mushola kecil.
Nadia segera mengambil air wudhu, begitu juga dengan eyang dan Ay Tak lama Doni juga datang ke mushola kecil itu.
"Sudah siap?" tanya Doni. Nadia bingung apa maksud Doni. "Kita sholat berjamaah." Nadia mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin Doni yang jarang sholat bisa jadi imam? Batin Nadia.
Doni khusyuk mengimami sholat mereka. Nadia sedikit terharu mendengar bacaan sholat Doni yang fasih. Doni sebenarnya rajin sholat dan pernah sekolah di pesantren. Hanya saja kemarin dia hanya berpura-pura ingin melihat Nadia yang mempedulikannya. Namun Doni sadari tidak mengajari Ay. Nadia bergetar mendengar suara Doni sampai ke lubuk hatinya. Mereka selesai melaksanakan sholatnya dan berdo'a. Doni tersenyum menatap Nadia yang menunduk. Saat eyang dan Ay sudah ke meja makan. Nadia merapikan tempat sholat bersama Doni.
"Bagaimana? Apakah saya masuk kriteria imam rumah tangga yang kamu inginkan?"tanya Doni tersenyum meninggalkan Nadia yang tersenyum dan tampak gugup.
Dasar sombong! Batin Nadia. Emang ganteng sih, Sholeh, kriteria aku banget. Nadia tersenyum sendiri. Astaghfirullah...
***
Duh... Gak sabar sebentar lagi janur kuning melengkung... 🥰🥰🥰
__ADS_1