
Nadia sengaja tidak bertemu dengan Doni beberapa hari ini. Nadia merasa malu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Namun hari ini Nadia tidak bisa mengelak lagi karena mobil putih itu tepat berhenti di sana. Jika Nadia sengaja kabur bisa dipastikan Doni merasa Nadia menghindarinya. Doni dan Ay mendekati gerbang, Nadia berusaha menetralkan jantungnya agar tidak deg deg an.
"Tuan Putri," ucap Nadia di balik maskernya berusaha untuk biasa saja.
Doni tampak terkejut menatap Nadia yang memakai masker.
"Salam Ibu nya Ay," ucap Doni.
"Assalamu'alaikum," ucap Nadia.
"Wa'alaikum salam, Ibu," ucap Doni. Doni menyerahkan tas Ay, Nadia menjauhkan tangannya agar tangan mereka tidak bersentuhan. "Ya udah salam ayah, Nak."
Ay pun menyalam ayahnya.
"Udah, yah. Ayah kerja dulu yah," ucap Doni.
"Minta duit, uang jajan," ucap Ay.
"Minta duit? Uang jajan?" tanya Doni.
"Iya, biar nanti dibeli di sini aja makanannya Pak sama saya," ucap Nadia. Doni tampak berfikir menuju ke mobilnya.
"Ayaaahhh," panggil Ay manja.
"Iya bentar Nak," ucap Doni. "Ayah ambil dulu uangnya."
Nadia pun ikut menunggui Doni mengambil uangnya. Saat ingin menyerahkan uangnya, Nadia menyela.
"Tangan kanan Nak, terimanya pakai tangan kanan, tangan manis," ucap Nadia. Ay pun mengganti tangannya. Doni menatap Nadia sebentar kemudian berlalu dari sana.
Saat pulang Doni datang menjemput Ay. Nadia mendekati.
"Pak, sepertinya study tour nya batal. Uang yang kemarin bagaimana?" tanya Nadia.
"Uang yang mana?" tanya Doni.
"Uang yang distor untuk study tour?" tanya Nadia.
"Oh... Ya udah biar aja dulu di situ ibu," ucap Doni.
"Oh oke..." ucap Nadia. "Lagian belum pasti study tour nya. Bulan 12 kepastiannya."
"Hm... Kami juga mau pergi sebenarnya," ucap Doni.
"Iya, ini si manja ini mau pergi juga jalan-jalan sama temen-temennya," ucap Nadia menjawil Ay. Doni tersenyum. "Semakin banyak sekarang tingkahnya, dari semalem nangis terus, tadi juga nangis. Berantem terus sama Keyla."
"Iya Ay? Udah minta maaf sama Ibu?" tanya Doni. Ay memeluk Doni erat. "Hm... Ay..."
"Jadi mau pergi ke mana?" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.
"Ke kota xxx," ucap Doni.
"Sebenarnya dari tanggal 5 kemarin, terus ditunda ke tanggal 12, ini gak tau lagi tanggal berapa mau pergi," ucap Doni.
"Iya, kami sebenarnya guru-guru mau pergi juga tanggal 26 nanti. Tapi Ay gak bisa ikut kan?" ucap Nadia.
"Iya karena hari guru itu, Ibu," ucap Doni.
"Iya," ucap Nadia.
"Ya udah, makasih yah Ibu," ucap Doni.
"Iya, besok datang lagi yah Nak. Dadah... Hati-hati di jalan," ucap Nadia.
"Iya Ibu," ucap Doni tersenyum. Merekapun berlalu dari hadapan Nadia. Nadia pun memilih masuk. Agak panjang pembicaraan mereka saat ini.
__ADS_1
***
Hari ini Nadia datang lebih cepat karena piket. Nadia duduk di ayunan sembari menunggu siswa yang datang dan mengajari anak-anak mengaji. Mobil putih itu terparkir di samping gang. Nadia mengabaikannya saja, maka guru yang lain menyambut Ay dan Doni. Namun mereka sangat lama di sana.
"Lama kali Ay nya Ibu, pakai sepatu," ucap salah satu rekan itu kepada Nadia.
Nadia pun menghampiri mereka. Nadia menatap punggung yang berjongkok di tepi jalan itu. Nadia deg deg an melihat punggung yang lurus dan tegap itu. Rasanya nyaman kalau dipeluk. Nadia berusaha menyingkirkan pikiran negatif nya.
"Tuan Putri," ucap Nadia. Doni tampak bereaksi mendengar suara Nadia. Sementara Ay tersenyum menatap Nadia dan ayahnya bergantian.
"Iya Ibu, ini ikat sepatu Ay," ucap Doni.
"Kenapa belum pakai sepatu?" tanya Nadia.
"Iya Ibu, tadi sepatunya kebalik," ucap Doni.
"Hm... Nanti dibuka lagi kok sepatunya," komentar Nadia.
Doni mempercepat mengikat sepatu Ay.
"Udah, gini aja yah Ay," ucap Doni.
Nadia sudah meraih tas Ay. Nadia menatap Ay. Sementara Doni menatap Nadia yang menunduk.
"Ya udah salam ibu nya Nak," ucap Doni. "Assalamu'alaikum Ibu."
"Wa'alaikum salam, Sayang," ucap Nadia. "Ayo Nak!"
"Dah yah Nak, ayah pergi kerja dulu," ucap Doni.
"Iya ayah," ucap Nadia membawa Ay ke dalam. "M... Makanannya sudah ada?"
"Belum Ibu, nanti diantar Tantenya," ucap Doni.
"Oh... Oke," ucap Nadia membawa Ay ke dalam.
"Ayo rekam suara Ay," ucap Nadia. "Bilang, Ayah ganteng... Mana makanan Ay."
"Cie... cie... Ibu pacaran yah sama Ayah?" ucap Ay polos.
Nadia membulatkan matanya menatap Ay dan merasa berdebar dengan perkataan Ay.
"Astaghfirullah... Nak. Gak boleh bilang gitu yah. Gak boleh pacaran, yang boleh berteman yah. Sahabatan," ucap Nadia.
"Iya Ibu," ucap Ay mengangguk. Dari mana anak ini tau kata-kata itu, batin Nadia. Kemudian Ay merekam suaranya.
'Ayah... Mana makanan Ay,'
No respon. Nadia pun berinisitif menelfon Doni.
'Halo,' sapa suara di seberang.
'Ayah... Mana makanan Ay?' tanya Ay. 'Ibu... Ini ponsel nya kenapa?'
'Udah Nak? Mana?'
Nadia pun mematikan aplikasinya. Suara ganteng di seberang masih terdengar.
'Nanti diantar tante yah Nak, makanannya. Udah yah!' panggilan pun berakhir.
Saat pulang, Ay belum dijemput. Ay pun meminta Nadia menelfon ayahnya kembali.
'Assalamu'alaikum, Ibu,' sapa suara ganteng di seberang.
'Ini Ay, Ayah,' ucap Ay.
__ADS_1
'Oh...ya kenapa Nak?' tanya Doni.
'Ay mau pulang ayah, jemput Ay,' ucap Ay.
'Oiya Nak, bentar yah,' ucap Doni memutus panggilannya.
Nadia menuju ke kosan nya. Hari ini Nadia malas sekali masak. Maka, Nadia berniat membeli lauk dan sayur di warung nanti setelah singgah meletakkan tas nya ke kosan. Sementara nasi nya sudah Nadia masak dari tadi pagi. Saat Nadia ingin sampai di gerbang kosan nya sebuah mobil silver berhenti di depan Nadia. Seorang wanita cantik nan anggun turun dari mobil itu.
"Ibu Nadia," sapanya.
Nadia menoleh dan menatap bunda Ay di depannya.
"Iya bunda, ada apa?" tanya Nadia tersenyum.
"Bisa ikut dengan saya!" ajak bunda Ay.
Nadia tampak ragu, namun sepertinya ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
"Baiklah," ucap Nadia mengikuti wanita itu menaiki mobil mewahnya.
Mereka sampai di sebuah restoran mewah. Bunda Ay memesan makanan yang dia inginkan. Nadia tentu saja pernah makan di restoran mewah seperti itu. Namun Nadia lebih suka makan makanan merakyat. Ada berbagai macam garpu, pisau dan sendok di atas meja.
"Silahkan di makan," ucap Bunda Ay menatap Nadia. Dia sengaja ingin mempermalukan Nadia yang pasti tidak pernah makan di restoran mewah.
"Terima kasih," ucap Nadia tersenyum.
Nadia makan dengan anggun memakai alat makan yang sesuai dengan menu. Bunda Ay tampak terkejut. Namun berfikir mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan.
"Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Wanita itu memulai pembicaraannya.
"Ya, bunda. Katakan saja," ucap Nadia masih dengan bicaranya yang santun.
"Saya minta anda menjauhi putri saya Ay," ucap wanita itu.
Nadia tersenyum penuh arti dan pembawaannya santai.
"Maaf bunda, saya tidak bisa karena saya wali kelas Ay," ucap Nadia.
"Saya akan pindahkan Ay ke sekolah yang lebih bagus," ucapnya tidak mau kalah.
"Silahkan saja bunda, tapi bunda tau sendiri bahwa sekolah kami sekolah terbaik di kota ini," skak Nadia membuat wanita itu terdiam.
"Saya juga minta kamu menjauhi suami saya," ucap Nadia. Nadia tersenyum penuh arti.
"Maaf saya tidak pernah mendekati suami Anda," Nadia mulai merasa kesal. "Lagipula bukankah kalian sudah bercerai?"
"Beraninya kau ikut campur urusan rumah tanggaku. Sebentar lagi kami akan rujuk. Jadi kamu tidak usah gatal mendekatinya," ucap wanita itu.
"Baiklah, saya akan menjauhi suami eh... salah... mantan suami Anda. Tapi bukan salah saya jika dia yang mendekati saya. Saya rasa pembicaraan kita selesai sampai di sini. Terima kasih," Nadia sudah mulai jengah namun tetap berusaha santai.
"Kau... Saya pastikan kau akan hancur saya buat," ucap wanita itu. Nadia masih tetap tersenyum.
"Pelayan..." panggil Nadia. Wanita itu heran menatap Nadia kemudian tersenyum sinis.
"Kau mau apa? Kau mau bayar makanannya? Kau tidak akan pernah mampu membayarnya," ucap wanita itu meremehkan Nadia.
Nadia tersenyum, saat pelayan datang Nadia mengeluarkan black card dari dalam tasnya. Bunda Ay tampak terkejut melihatnya. Bagaimana tidak, black card itu hanya dimiliki oleh orang-orang penting. Siapa sebenarnya dia? Pelayan kembali lagi dan mengatakan sudah dibayarkan.
"Saya permisi Bunda, karena saya masih ada pekerjaan di kos," ucap Nadia tetap tersenyum meninggalkan wanita itu dalam kebingungan.
Siapakah sebenarnya Nadia?
a. Putri Kaya Raya
b. Simpanan Sugar Daddy
__ADS_1
c. Perampok
☺️☺️☺️