Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Harapan


__ADS_3

Nadia pergi ke sebuah taman kota, sudah lama Nadia tidak menikmati pemandangan indah itu. Nadia mengamati orang yang berlalu lalang di taman itu. Nadia memilih untuk duduk di sebuah bangku taman dengan membaca sebuah buku di tangannya. Sementara itu para pengawalnya menyebar di sekitarnya. Nadia tidak ingin mereka terlalu mencolok, maka Nadia menyuruh mereka untuk memakai pakaian biasa.


"Ibu Nadia," sapa sebuah suara kecil mendekati Nadia.


Deg.


Nadia menatap ke arah sumber suara yang berlari kecil dengan lincah di pangkuan Nadia. Di belakangnya tentu saja berjalan seorang pria jangkung dengan senyum termanis yang diberikannya pada Nadia. Jantung Nadia berdebar keras.


"Ehm... Ay... Ngapain ke sini?" tanya Nadia mengelus puncak kepala Ay dan mencium kedua pipinya.


"Ibu... Ay rindu..." ucap Ay memeluk Nadia tidak menjawab pertanyaan Nadia. Nadia memeluk Ay dengan erat.


"Ibu juga rindu sama Ay," ucap Nadia.


"Ibu gak rindu sama ayah?" tanya Ay menatap Nadia.


Nadia melirik Doni yang masih berdiri di depan mereka mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum mendengar penuturan Ay.


"Ay sudah makan belum?" tanya Nadia mengalihkan perkataan tak menjawab pertanyaan Ay.


"Sudah tapi sama ayah di sana," ucap Ay.


Doni kini sudah duduk di sebelah Nadia. Mereka seperti keluarga kecil.


"Nadia..." panggil Doni menatap wajah gadis di sebelahnya yang tengah memeluk anaknya dengan sayang. "Saya... berniat untuk datang ke rumahmu, ingin melamar kamu."


Kriiiiiinnnnngggg...


Nadia terbangun mematikan alarmnya. Pukul 03.05. Astaghfirullah... Mimpi apa aku ini? Batin Nadia mengingat mimpinya tadi. Nadia segera beranjak dari tidurnya untuk berwudhu dan melaksanakan sholat malam. Nadia menangis sesenggukan dalam do'anya. Mengingat segala dosa-dosanya yang telah lalu.


Sementara di sudut kota lain, Doni masih belum tidur. Doni masih sibuk dengan laptopnya. Doni mendadak insomnia beberapa hari ini. Doni mematikan laptopnya. Doni menatap layar ponselnya sejenak. Mencari daftar kontak nama Nadia. Doni mengetuknya dan membaca isi-isi WA antara dia dan Nadia. Sampai Doni terlelap.


***


"Ma..." Doni memulai pembicaraan dengan Mama nya di pagi hari saat mereka sedang sarapan. "Doni..."


"Ayah... Kenapa gak bangunin Ay?" tanya Ay cemberut. Ay masih memakai piyama nya. "Ay jadi terlambat ke sekolah."


Doni tersenyum menatap Ay begitu juga dengan eyangnya.


"Ay... Hari ini libur," ucap eyangnya.


"Oh... Iya kah Ayah?" tanya Ay membulatkan matanya.


"Iya sayang, sekarang pipis dulu dan cuci mukanya yah," ucap Doni mengacak rambut Ay.


"Iya ayah," ucap Ay patuh.

__ADS_1


"Kamu mau bilang apa, Doni?" tanya Santi.


"Doni ingin melamar Nadia," ucap Doni mantap menatap Ibunya.


Santi tersenyum, lebih tepatnya mengejek Doni.


"Kamu yakin dia akan menerima kamu? Doni, kamu sudah tau kan bahwa Nadia berasal dari keluarga terpandang dan seorang pebisnis yang terkenal. Mama malu jika kita meminang nya. Kita yang tidak punya apa-apa ini Nak," ucap Santi.


"Mama kenapa jadi pesimis gitu? Mama sendiri kan bisa menilai gimana Nadia selama kita mengenalnya," ucap Doni.


"Justru itu Nak, Mama merasa kamu gak pantes sama Nadia," ucap Santi. Doni merasa terpukul karena Santi tidak menyemangatinya. "Mama harap kamu buang perasaanmu jauh-jauh. Mama harap kelak kamu dapat perempuan lain. Mama hanya ingin kamu realistis Doni."


Doni terdiam merasa lemas atas penuturan mamanya. Doni memang merasa bahwa mereka bagai bumi dan langit sekarang.


***


Wulan mendatangi rumah Santi. Saat ini adalah wiridan di rumah Santi. Wulan merasa bahagia Santi mendatanginya.


"Sendiri, Lan?" tanya Santi berharap Nadia ada di sana.


"Iya San," ucap Wulan menyadari siapa yang dicari Wulan. "Maaf San, karena saya tidak mengatakan yang sebenarnya tentang keluarga Nadia. Karena Nadia melarang saya."


"Sudah lah Lan, justru saya yang merasa malu karena sudah menyodorkan anak saya pada Nadia," ucap Santi.


"Namun, kita tidak tau bagaimana takdir mereka nanti, San. Saya hanya bisa berdo'a yang terbaik buat mereka," ucap Wulan.


"Assalamu'alaikum," sapa Wulan.


"Wa'alaikum salam, bibi di mana?" tanya Nadia di seberang.


"Di rumah Eyangnya Ay," ucap Wulan.


Deg!


"Oh... Nadia fikir di rumah. Ya udah Nadia ke sana yah, Bi," ucap Nadia.


Setengah jam kemudian Nadia datang ke rumah Santi. Rumah sangat ramai karena ada wirid. Nadia memasuki rumah Santi lewat pintu samping. Beberapa mata menatap ke arah Nadia. Tatapan ingin tau dan menyelidik. Nadia membawa bingkisan untuk Wulan, Ay dan Santi.


"Cari siapa Nak?" tanya salah seorang Ibu di situ.


"Em... Saya cari..." Nadia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Doni baru saja masuk ke dapur.


Deg! Tanpa diminta jantung Nadia berdebar keras menatap ke arah Doni. Yang ditatap belum menyadari kehadiran Nadia.


"Oh... Cari Mas Doni," celetuk ibu itu menatap arah pandangan Nadia. "Mas Doni dicariin Mbak cantik ini."


Doni menoleh ke arah Nadia yang terpaku menatapnya. Doni tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Ayo..." ajak Doni. "Bibi Wulan ada di dalam."


Nadia tersihir melihat senyum Doni dan mematuhinya.


"Cie... Siapa mas Doni? Pacar yah?" celetuk Ibu yang lain mulai meng-ghibah.


Nadia deg-deg an.


"Aduh... Bu... Mana ada perempuan yang mau sama saya," ucap Doni melirik Nadia yang sudah berada di sebelahnya.


"Alah... Mas Doni ini suka merendah... Wong mantan istrinya saja artis, apalagi gadis sederhana seperti dia," ucap ibu yang lain.


Deg! Mereka tidak tau saja siapa Nadia. Batin Doni.


"Bener Bu, saya sudah ditolak beberapa kali," ucap Doni.


"Pak Doni," ucap Nadia marah. Doni tersenyum manis padanya tanpa merasa bersalah.


Bisa-bisa aku diabetes dan punya penyakit jantung terus-terusan dekat dia. Batin Nadia merutuki.


"Ibu Nadia..." sapa Ay memeluk kaki Nadia. Nadia yang menenteng bawaan menyerahkannya satu pada Ay. "Ini apa Bu?" Ay sumringah melihat Nadia memberi beberapa buku dan mainan yang menambah kognitifnya. "Ayo Bu, ke kamar Ay."


Nadia mengikuti Ay sampai ke kamarnya. Sementara Doni mengikuti mereka dengan senyuman mengembang. Dia lupa disuruh bawa makanan ke depan.


"Sini Bu, duduk," ucap Nadia menarik Nadia ke kasurnya. "Ayo baca buku ini."


Doni mendekati keduanya. Nadia tampak was-was melihat Doni yang mendekat.


"Anda mau apa?" tanya Nadia.


"Ayah ngapain?" tanya Ay.


Doni mengetuk pelan kening keduanya.


"Apa sih Pak," protes Nadia.


"Ayah..." ucap Ay.


"Ya udah ayah keluar dulu yah," ucap Doni ingin mencium pipi Ay. Jarak Doni dan Nadia begitu dekat. Dia memang sengaja melakukannya. Sayangnya Ay mengelak, memeluk Nadia sehingga Doni nyaris mencium Nadia.


"Apa sih Pak?" ucap Nadia marah menolak dada Doni karena menahan debaran jantungnya. Doni malah tersenyum dan tidak ingin beranjak.


"Astaghfirullah Doni... Nadia..." ucap Santi menutup mulutnya. Di sana tidak hanya ada Santi, namun juga Wulan dan beberapa orang lainnya.


***


Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan dinikahkan? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2