
"Bukannya Bapak berkata ketus kepada saya beberapa hari ini? Bukannya Bapak juga mengatakan bahwa saya tidak pantas menjadi guru? Bukankah Bapak juga memindahkan kelas Ay agar tidak bertemu dengan saya? Apa Bapak sakit? Ada angin apa sampai Bapak mengatakan hal itu?" tanya Nadia dengan pertanyaan bertubi-tubi membuat Doni terkesiap dan tidak mampu menjawab.
"Itu..." Doni menghentikan ucapannya.
"Kenapa Bapak diam? Maaf... Saya memang sangat menyayangi Ay. Tapi saya tidak menyukai Anda," ucap Nadia tegas. Doni merasa terkejut dengan jawaban Nadia. Nadia menyerahkan Ay pada Doni. "Terima kasih karena sudah membantu saya. Saya permisi."
"Ibuuuuu..." Ay memberontak ingin memeluk Nadia.
Nadia menatap mata Ay. Kali ini Nadia membuka maskernya. Kali ini Nadia tidak peduli Doni menatap wajahnya yang sembab.
"Ay... Anak Ibu... Anak Sholehah. Ay mau janji gak sama Ibu?" tanya Nadia.
"Ay gak mau," ucap Ay cemberut.
"Ay udah lihat foto ayah dan bunda ibu kan?" tanya Nadia. Ay mengangguk. "Ibu rindu sama ayah dan bunda Ibu. Jadi Ibu mau jumpai mereka dulu. Nanti kalau Ay pinter, Ay juara kelas, pasti Ibu dateng kasih hadiah buat Ay. Ibu janji. Tapi, Ay harus jadi anak yang baik, anak yang sholehah, patuh sama kedua orang tua. Yah?"
Ay mengangguk ragu. "Sekarang Ibu mau kemana?"
"Ibu mau pulang ke rumah orang tua Ibu. Ay jaga diri baik-baik yah," ucap Nadia.
"Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak pasti pada anak-anak," skak Doni pada Nadia.
"Saya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak pasti buat orang lain. Saya pasti akan menepati janji saya. Apalagi pada anak-anak," ucap Nadia. "Permisi."
"Tunggu..." Doni tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan Nadia. Doni meletakkan Ay di bangku taman. Doni menjulang di depan Nadia. Nadia merasa gemuruh di dadanya. Nadia menundukkan kepalanya. "Apa alasan Anda menolak saya?" Pria ini dengan pede nya menanyakan itu. Nadia tersenyum sinis.
"Ada beribu banyak alasan saya tidak menyukai Anda. Tak perlu saya sebutkan satu per satu," ucap Nadia mantap. "Saya permisi. Tolong jangan halangi saya."
Nadia ingin berjalan ke kanan, namun Doni mengikuti ke kanan. Nadia ingin ke kiri, Doni juga ke kiri. Membuat Nadia kesal.
"Ibu dan Ayah ngapain sih? Lucu?" Celoteh Ay pada akhirnya membuat keduanya tersenyum. Nadia segera berbelok menghadap ke belakang, namun lagi-lagi Doni menghalangi Nadia.
__ADS_1
"Plis... Pak! Jangan kekanakan," ucap Nadia kesal.
"Saya ingin Ibu menjawab apa alasan Ibu menolak saya?" tanya Doni sekali lagi.
"Karena Anda pernah gagal dalam pernikahan. Itu satu dari seribu alasan saya tidak menyukai Anda. Jika Anda tidak dapat mempertahankan pernikahan Anda. Bagaimana selanjutnya Anda bisa mempertahankannya?" ucap Nadia mantap. "Saya rasa tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan. Saya permisi."
Nadia tidak peduli Doni menghalangi langkah Nadia, Nadia tetap melewatinya. Doni tetap mengejar Nadia walaupun Nadia melewatinya. Hingga beberapa kali tangan mereka bersentuhan. Membuat Nadia geram.
"Biar saya antar ke kosan Anda," ucap Doni.
"Tidak perlu," ucap Nadia ketus dan berhasil melalui Doni.
Nadia segera memesan ojol. Sementara Doni dan Ay sudah berada di dalam mobil melalui Nadia.
"Ibu... Ayo ikut!" ajak Ay. Nadia hanya menggeleng sambil tersenyum menatap Ay. Doni pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat.
Nadia merasa lega saat mereka pergi. Ada perasaan bersalah dan sakit di dada Nadia. Nadia telah membohongi perasaannya sendiri. Sebenarnya Nadia sudah jatuh cinta pada Doni. Entah mulai kapan. Namun, Nadia memilih untuk tidak jujur. Ojol datang di depan Nadia. Nadia menaiki ojol tersebut. Jujur saja Nadia tidak ingin naik ojol karena merasa tidak nyaman. Namun Nadia terpaksa. Saat di jalanan sepi, lagi-lagi ojol berhenti. Entah kenapa Nadia saat ini merasa was-was.
"Anu Non, saya kebelet," ucap ojol tersebut. Nadia mengernyitkan dahinya. Bukannya ke WC umum malah ke semak-semak. Batin Nadia.
Benar saja si empunya ojol ingin melancarkan aksinya. Dia sudah mempersiapkan tali yang ingin diikatkan ke Nadia saat Nadia membelakanginya.
"Apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Nadia ketakutan.
"Hahaha... Sudahlah... Gak usah sok jual mahal gitu," ucapnya memegang kedua tangan Nadia ke belakang.
Bug! Pemilik ojol tersungkur. Ternyata itu bodyguard papinya. Mereka menghantam ojol tersebut.
"Nona tidak apa-apa?" tanya salah satu bodyguard nya.
"Tidak... Saya tidak apa-apa," ucap Nadia. "Sudah... Lepaskan dia!" Mereka pun melepaskan ojol tersebut yang sudah pingsan.
__ADS_1
"Sekarang Nona mau kemana?" tanya body guard tersebut.
"Antarkan saya ke kosan saya, setelahnya saya ingin pulang ke rumah papi," ucap Nadia.
"Baik Nona," ucap mereka.
Mereka mengantarkan Nadia sampai ke kosan. Sementara itu, Doni yang mengikuti Nadia dari tadi memperhatikan apa yang terjadi. Siapa dia sebenarnya? Batin Doni. Sepertinya dia memang bukan orang biasa. Sedangkan Ay sendiri sudah tertidur di sebelah Doni.
"Ibu Nadia..." Ay mengigau.Doni mengelus pipi Ay.
"Kamu sayang Ibu Nadia yah Nak? Ayah juga," ucap Doni.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sudah sebulan Nadia meninggalkan kota itu. Meninggalkan Doni dan Ay yang merasa rindu kepada Nadia. Beberapa kali mereka ingin menghubungi Nadia namun lost contact. Mereka juga meminta pada Mala dan bibi nya, namun mereka juga tidak tau. Nadia bak hilang ditelan bumi meninggalkan kenangan dan kerinduan yang mendalam bagi keduanya. Sementara bunda Ay sibuk dengan dunianya. Saat Nadia ada, dia sibuk mendekati Doni dan Ay mencari perhatian. Saat Nadia tidak ada, dia memilih dunianya sendiri.
"Ayah... Kemana Ibu Nadia?" Celoteh Ay sewaktu-waktu.
"Ayah gak tau Nak, Ibu Nadia gak ada ngabarin. Nomor nya juga gak aktif," ucap Doni.
"Ay rindu Ibu Nadia ayah," ucap Ay merengek.
"Ayah juga Nak," ucap Doni mengelus kepala Ay.
Begitulah rutinitas Ay yang selalu sibuk menanyai keberadaan Nadia di mana. Ujian semester hampir dekat. Doni lebih sibuk mempersiapkan ujian di sekolahnya. Sementara di TK Ay juga melakukan hal yang sama. Ay berusaha belajar dan menghafal agar mendapat juara satu. Ay ingin menunjukkan pada ibu Nadia bahwa Ay bisa. Apalagi Ibu Nadia sudah berjanji akan memberi hadiah untuk Ay. Maka Ay berusaha dengan baik agar bisa berjumpa kembali dengan Nadia.
Sementara di tempat lain Nadia sudah menjadi kepala Yayasan Amal milik orang tuanya. Yah! papinya adalah seorang pebisnis. Nadia diberikan satu bisnis Papinya untuk dia menjalankannya. Demi berbakti kepada kedua orang tuanya. Nadia pun menjalankan kewajibannya.
"Bu direktur, selanjutnya tujuan kita ke kota Xxx, TK Xxx,"ucap salah satu pegawainya.
Nadia tertegun mendengar perkataan pegawainya. Bagaimana tidak? Kota dan Sekolah yang akan mereka tuju adalah kota dan sekolah yang begitu dirindukan Nadia akhir-akhir ini.
__ADS_1