Suamiku, Ayah Anak Didik ku

Suamiku, Ayah Anak Didik ku
Imun Booster


__ADS_3

Nadia memasuki sebuah ruangan yang besar mengikuti Doni dan Windi. Aroma parfum kopi menyeruak ke dalam ruangan itu. Nadia merasa nyaman berada di ruangan itu.


"Silakan duduk bu Direktur," ucap Doni mempersilakan Nadia duduk di sofa dengan meja yang berada di tengahnya. "Ibu mau pesan apa?"


"Teh saja," ucap Nadia.


"Oke... Windi Teh dan Coklat panas," ucap Doni menyuruh asistennya.


Windi mengangguk dan beranjak dari sana. Nadia menatap Windi sampai menghilang di balik pintu.


"Kenapa?" tanya Doni memperhatikan Nadia yang menatap Windi.


"Gak pak, hanya saja pakaiannya terlalu..." Nadia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? Cemburu?" tanya Doni tersenyum menggoda.


Nadia langsung melotot menatap Doni yang begitu pede nya.


"Biasa aja," ucap Nadia cemberut.


Tak lama Windi datang membawa minumannya. Kemudian dia duduk di sebelah Doni membuat Nadia agak panas. Doni tersenyum melihat Nadia yang begitu menggemaskan saat ini di matanya. Windi menjelaskan sesuatu kepada Doni dan sengaja menempel pada Doni.


"Windi... Nanti saja dijelaskan. Saya masih ada tamu. Kamu kembali ke ruangan mu," ucap Doni tegas dan dingin.


"Tapi Pak..." Windi tampak kesal menatap Nadia. Apa istimewanya perempuan ini? Batinnya.


"Perlu saya ulang dua kali?" ucap Doni tegas. Membuat Windi segera berdiri takut.


Nadia pura-pura tidak memperhatikan sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan pengawalnya. Windi beralih menatap kedua pengawal Nadia yang sedari tadi mengikuti mereka. Seorang bicara dengan Nadia, sementara yang lainnya menatap tajam ke arah Windi membuat Windi bergidik ngeri dan segera keluar dari ruangan itu.


"Sudah bisa kita mulai, Pak?" tanya Nadia tak sabar.


"Sebentar kita tunggu Ibu Kepala Yayasan," ucap Doni. "Ayo, minum dulu."


Nadia menuruti apa yang dikatakan Doni. Nadia meraih cangkirnya.


"Sebentar Nona," ucap Neo. Neo memeriksa minuman yang akan Nadia minum.


"Neo, gak mungkin Pak Doni racuni saya," ucap Nadia.


"Tidak apa-apa Nadia, mereka hanya mengerjakan tugas," ucap Doni.


Setelah aman, Nadia pun menyesap teh nya. Tak lama seseorang datang memberi salam dan masuk ke ruangan itu. Pakaiannya tampak elegan dan berwibawa. Saat beliau mendekat Nadia terkejut.


"Ibu yayasan sudah datang," ucap Doni.


"Ibu..." ucap Nadia.


"Halo sayang..." ucap Santi.


"Ibu, jadi... Ibu... Kepala Yayasan nya? Pantesan Pak Doni sering telat, sekolah keluarga," ucap Nadia.


Santi dan Doni tertawa mendengar Nadia yang begitu blak-blakan berbicara.


"Nadia mau pesan makan apa?" tanya Santi.

__ADS_1


"Nggak Ibu, Nadia masih kenyang," ucap Nadia jujur.


"Baiklah... Kita mulai saja..." ucap Santi.


Maka pertemuan dan pembicaraan pagi itu begitu santai. Nadia senang dapat bekerja sama dengan yayasan mereka. Menjelang siang, Nadia pamit.


"Nadia, sering datang kemari yah sayang," ucap Santi.


"Insya Allah Ibu," ucap Nadia menyalam Santi.


Santi meminta Doni untuk mengantarkan Nadia sampai depan sekolah. Saat itu suasana sekolah sepi karena anak-anak beserta guru masuk ke dalam kelas. Sementara Windi tetap ngintilin mereka di belakang.


"Windi... Kembali ke ruangan!" ucap Doni dingin.


Windi merasa geram namun tetap menuruti. Namun tetap saja Windi penasaran dengan mereka. Maka dia mengintip dari jendela. Nadia dan Doni saling melempar canda sampai ke parkiran. Doni beberapa kali tersenyum dan tertawa sambil menatap Nadia dengan penuh cinta. Para guru juga penasaran dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Windi. Mereka bertanya-tanya siapa perempuan itu? Perempuan yang mampu meluluhkan dan mencairkan si kulkas 12 pintu. 🤣🤣🤣


Doni merasa sangat tidak rela saat ingin berpisah dengan Nadia. Ingin rasanya Doni memeluk Nadia saat itu juga. Namun apalah daya pengawal Nadia sudah berkumpul di sana. Sementara Nadia juga merasakan sayang jika harus cepat pulang. Nadia berusaha menyangkal jika dirinya tidak menyukai pria itu. Namun semakin dia menyangkal semakin dia mencintai pria itu.


"Nadia..." panggil Doni saat Nadia ingin memasuki mobilnya. Gerakan Nadia terhenti kemudian berbalik menatap Doni. "Hati-hati di jalan."


Nadia tampak begitu gugup. Karena memikirkan apa kira-kira yang ingin disampaikan Doni ternyata hanya itu.


"Oh... Iya terima kasih Pak!" ucap Nadia tersenyum. "Titip salam buat Ay tersayang."


Nadia memasuki mobilnya dan berangkat dari situ. Doni menatap kepergian Nadia sampai mereka menghilang dari pandangan. Doni kembali memasang wajah sedih kemudian kembali ke mode cool nya. Tanpa dia sadari beberapa memperhatikannya.


***


Nadia sampai di rumah orang tua nya. Rumah mereka tampak di dekor dengan hiasan warna-warni menyambut kedatangan kakaknya.


"Sudah Mi, Nadia capek," ucap Nadia memeluk maminya.


"Ya udah masih ada waktu untuk istirahat sebentar, kemudian siap-siap yah," ucap Maminya.


"Oke mami," ucap Nadia menuju ke kamarnya.


Nadia merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Nadia benar-benar merasa letih saat itu. Maka tak lama Nadia tertidur.


Ting...


Nadia terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi. Nadia dengan malas meraih ponselnya. Pesan dari...


Nadia segera membuka matanya dan duduk sambil tersenyum menatap layar ponselnya karena ada nama Doni di sana.


'Bu Direktur sudah sampai?'


'Sudah Pak Kepsek.'


'Aku merindukanmu.'


Nadia menatap layar ponsel itu begitu lama sambil tersenyum sendiri. Nadia tidak membalas pesannya karena kebelet. Sementara di seberang sana Doni merasa uring-uringan sendiri karena Nadia tidak membalas pesannya. Doni teringat harus menjemput Ay, maka Doni pun bergegas ke TK tempat Ay belajar.


Saat dalam perjalanan, ponsel Doni berbunyi. Pesan dari Nadia.


'O... Ya Pak... Saya lupa mau undang Bapak, Eyang Ay, dan Ay ke acara di rumah.'

__ADS_1


Doni tersenyum senang membaca pesan dari Nadia.


'Oke... Share lok yah. Ay pasti senang.'


'Iya... rindu sama Ay.'


'Sama saya juga kan?'.


'Nggak.'


Doni tertawa renyah mendapat pesan dari Nadia. Imun booster nya kembali naik lagi saat menerima pesan dari Nadia.


'Yang bener?' Doni mencoba menggoda Nadia kembali.


'Sedikit.'


'Berapa persen?'


'0,01 persen.'


'Hahaha...'


'Nggak lucu.'


'Nadia...'


'Pak Doni...'


'Tolong ganti kata Pak nya.'


Saat Nadia asyik membalas chat Doni, tanpa Nadia sadari maminya datang.


"Hayo... Kenapa kamu senyum-senyum sendiri liatin Ponsel?" tanya Maminya penasaran.


"Mami..." Nadia kaget dan menyembunyikan ponselnya.


"Dari siapa? Cowok ya?" tanya mami nya penasaran.


"Orang tua murid Nadia dulu Mami," ucap Nadia tidak sepenuhnya berbohong.


"Akrab sekali seperti ada hubungan khusus," ucap Mami kembali menggoda Nadia.


"Ih... Mami... Nggak lho," ucap Nadia menyangkal.


"Hm... Mungkin sekarang kamu tidak mau cerita ke Mami. Tapi Mami harap nanti kamu cerita," ucap mami bijaksana.


"Makasih mamiku yang cantik," ucap Nadia memeluk maminya.


"Ya udah sekarang bersiap, sebentar lagi kakak mu datang. Penata rias sudah berada di depan. Nanti mami suruh masuk. Mami juga sudah memilihkan dress untuk kamu," ucap Mami.


"Mami... Nadia gak mau dirias. Nadia mau seperti ini aja," ucap Nadia.


"Jangan donk sayang. Nanti banyak tamu penting," ucap Mami.


"Baiklah..." ucap Nadia menuruti. Sementara ponselnya terabaikan.

__ADS_1


__ADS_2