
Tidak ada yang pernah tahu Apakah Ardi mengatakan kebenaran ataukah Galuh yang Mengatakan Kebohongan begitu juga sebaliknya.
Suasana semakin memanas karena antara Ardi dan Galuh tidak ada yang mau mengalah
Isak tangis kedua orang tua Bilda dan Ardi tak dapat di elakkan
Pak Lukman pun sebagai pihak yang menengahi merasa kebingungan dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut diam, tanpa ada satu kata pun yang keluar.
***
Setelah suasana terbilang cukup tenang, Bilda memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Maaf.." Ucap Bilda dengan nada pelan
Mendengar kata maaf yang keluar dari bibir Bilda seketika orang-orang yang ada di ruangan tersebut memandang kearahnya.
"Disini saya tidak mengetahui siapa yang benar diantara Mas Ardi dan Mbak Galuh, satu hal yang saya ketahui saat ini, adalah dimana saya melewatkan satu hal yang sangat penting" ucapan Bilda cukup tenang setelah mampu menguasai diri.
"Mungkin kedatangan saya sebelumnya tidak di waktu yang tepat antara kalian berdua, Sehingga saat ini masih ada urusan diantara kalian yang belum kalian selesaikan"
"Bilda... !!!" Sela Ardi seketika karena merasa urusannya dengan Galuh memang telah selesai.
Mendengar Ardi yang menyela pembicaraanya, Bilda mengangkat satu telapak tangannya menandakan jika dia tidak ingin di ganggu dan mengarahkan ke arah tempat dimana Ardi duduk, memohon agar Ardi tetap tenang, dan membiarkannya kesempatan untuk berbicara.
Seketika Suasana kembali hening , Bilda melanjutka kembali pembicaraan sebelumnya yang sempat terputus.
"Dalam hal ini kita semua tidak akan bisa menentukan solusi terbaik untuk masing-masing kita jika tidak mendengarkan pengakuan dari kalian berdua" kalian yang di maksut adalah Ardi dan Galuh.
"Sebelumnya saya telah mendengar pernyataan dari mbak Galuh, Jadi saat ini saya ingin mendengarkan pernyataan dari Mas Ardi"
Ucap Bilda dengan tenang, mengarahkan pandangan matanya ke Ardi yang duduk memperhatikan dengan wajah sendu.
"Silahkan Mas Ardi, mungkin ada yang ingin mas Ardi jelaskan" Ucap Bilda kemudian
__ADS_1
Karena sebelumnya Galuh telah banyak berbicara, sehingga saat ini Bilda merasa dia perlu mendengarkan pengakuan dari pihak Ardi.
Dengan ragu Ardi berusaha menceritakan kejadian yang di Alaminya.
Ardi menceritakan mulai dari pertemuannya dengan Galuh di sebuah cafe hingga dia yang tak sadarkan diri sampai akhirnya dia yang tidur dalam satu ranjang dengan Galuh dan terbangun pada malam harinya.
Setelah Ardi menceritakan semua, kejadian yang menimpanya, tampak beberapa orang merasa sangat shock termasuk kedua orang tua Ardi dan Bilda.
Setelahnya Ardi berusaha meyakinkan bahwa tidak ada yang terjadi diantara dirinya dengan Galuh malam itu, bahkan tidak ada satupun kejadian yang dia ingat sebelumnya sampai ketika dia terbangun pada malam harinya.
Mendengar penuturan yang di sampaikan oleh Ardi, galuh merasa sangat tidak terima.
"Kamu mau bilang kalau aku menjebakmu !! " Ucap Galuh dengan lantang
"Kenyataanya seperti itu, kamu telah menjebakku !!!" Ucap Ardi tidak kalah lantang
"Baiklah ... Mungkin ini bisa membuat kalian sadar kalau Aku tidak berbohong dengan Ucapanku!"
Ucap Galuh kemudian dengan senyum seringainya.
Seketika Galuh Melemparkan Isi amplop tersebut ke udara, dan berjatuhan lembaran demi lembaran diatas meja dan lantai ruangan tersebut.
Setiap mata yang melihat merasa sangat terkejut dan sangat tidak menyangka, Namak beberapa lembar foto dirinya dengan Ardi yang tanpa busana malam itu, terlihat Ardi memeluk Galuh dengan sangat intim.
Satu lembar foto yang jatuh tepat di pangkuan Bilda saat itu seketika dia angkat. Merasa hal itu sangat tidak pantas untuk di pertontonkan segera Bilda Membalik dan menutup lembaran kertas foto tersebut.
Tak terasa bulir Air mata kembali menetes di pipinya.
Bahkan pak Wawan yang sebelumnya tenang pun saat ini sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa putrinya.
Sedari tadi pak Wawan hanya diam dan memegangi dadanya, berusaha mencari udara yang dirasakannya semakin menipis, dengan berat pak Wawan menarik nafas dan menghembuskan seketika, sampai saat kesadaran pak Wawan yang menurun dan Akhirnya pingsan.
Menyadari hal itu Bilda dan Bu Ira segera berpaling kearah Pak Wawan, Bilda mencoba menggoyangkan badan Ayahnya, Tangisan pun tak mampu dia bendung.
Sebelumnya pak Wawan memang memiliki riwayat Asma kronis sehingga setiap saat bisa saja dia mengalami kambuh. terlebih dengan kondisi fisiknya ymsaat ini.
__ADS_1
Seketika kepanikan pun melanda setiap orang di ruangan tersebut, Emil yang dengan sigap mengangkat tubuh pak Wawan dan segera bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat. Tanpa menghiraukan orang lain yang ada di sana. Ketika emiel menemukan kesadaran ya, ternyata dia hanya berdua saja dengan pak Wawan menuju rumah sakit tersebut.
Setiap orang di luar ruangan tersebut merasa bingung karena tidak mengetahui penyebab pingsanya pak Wawan sebelumnya.
Bilda dan keluarganya hanya dapat menangis melihat kepergian mobil Emil begitu saja.
***
Setibanya di rumah sakit, Pak Wawan segera dibawa Emil menuju UGD dengan cara menggendongnya.
Dokter jaga yang menyambutnya segera memeriksa keadaan umum pak Wawan dan memastikan kondisinya saat ini.
Beberapa perawat mulai memasangkan Infus dan O2 ke tubuh pak wawan, Emil yang menemaninya hanya bisa menyaksikan tindakan cepat yang di lakukan oleh dokter dan para perawat jaga tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, pak Wawan tersadar dari pingsannya dan segera di bantu oleh Emil, Mengetahui orang tua tersebut berusaha untuk duduk seketika Emil melarangnya, dan menyuruh pak Wawan agar tetap beristirahat.
Dokter menjelaskan Jika kondisi yang di alami pak Wawan merupakan akibat dari kelelahan dan stres yang berlebihan, terlebih dengan kondisi tubuh yang memiliki riwayat penyakit Asma.
Namun dokter tetap menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas pemeriksaan yang lebih lengkap tentunya, hal ini bisa di lakukan setelah kondisi pak Wawan membaik.
Mendengar penjelasan dari dokter Emil merasa sangat lega, Jika saat ini kondisi pak Wawan baik-baik saja.
Pak Wawan yang menyadari Emil membawanya ke rumah sakit seorang diri mengucapkan rasa terima kasihnya
Beberapa saat kemudian dokter menyampaikan bahwa, jika kondisi pasien berangsur membaik maka boleh di lakukan Raat jalan.
***
Beberapa saat kemudian Bilda mendapatkan pesan dari Emil bahwa Ayahnya sudah sadar dan dalam kondisi baik-baik saja.
Bilda yang mengetahui hal tersebut merasa sangat bersyukur, dan segera menyampaikan kepada Ibunya.
Setelah mengetahui bahwa kondisi Ayahnya baik-baik saja, seketika Bilda mengambil keputusan untuk melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya sempat tertunda.
Bilda tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut, sehingga akan berdampak buruk bagi keluarganya, terutama kedua orangtuanya.
__ADS_1
Ketika semua orang masih dengan posisinya semula bilda memulai lagi pembicaraanya.