
Meskipun dalam hati kecilnya masih merasa takut, apakah Bilda akan menerimanya dengan ikhlas ataukah hanya menerimanya karena keterpaksaan
***
Setelah menyelesaikan obrolan antara orang tua dan anak , yang dilakukan di serambi masjid tersebut, tak berselang lama seseorang dari keluarga Bilda memanggil mereka, dan mempersilahkan kembali ke kediaman pak Wawan, untuk bersiap-siap dalam acara pengajian yang akan di laksanakan sebentar lagi.
"Mari pak buk, dan mas Emil , kita siap-siap untuk acara pengajian " ucapan laki-laki dari keluarga Bilda dengan sopan.
"Baik pak, terima kasih" ucap Emil kemudian, tidak kalah sopan.
Mendapati hal itu mereka bergegas mengikuti orang tersebut menuju kediaman pak Wawan.
Rasa bahagia, takut , tegang, dan Gugup yang berkecamuk dalam diri seorang Emil tidak dapat ia sembunyikan. Bahkan perasaan ini baru ia rasakan pertama kali.
Setibanya Emil di kediaman pak Wawan, wo yang sebelumnya di tugaskan untuk menyiapkan busana untuk mempelai pria dan orang tuanya pun langsung sigap mengarahkan mereka dan menyiapkan segara keperluan.
***
Didalam kamar, dimana Bilda sebelumnya melaksanakan sholat magribnya dengan khusyuk, sudah tidak ada Isak tangis, tidak ada lagi air mata yang mengalir.
Hal itu terjadi entah karena memang Air matanya terlah habis atau kah karna hatinya kembali bersemi, Bilda tidak mengetahui pasti alasan di baliknya.
Setelah melaksanakan sholat dan wiridan, seperti biasa rutinitas yang di lakukannya setelah selesai sholat, mampu membuat hatinya menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Bilda hanya berdoa dengan khusyuk penuh harap, semoga pernikahannya kali ini senantiasa dinaungi berkah dan barokah.
Bilda hanya berkeyakinan pada Allah, untuk memulai sesuatu yang baru maka juga harus di persiapkan dengan hati yang baru.
"Nak... Betul kamu tidak apa-apa dengan keputusan Ayah tadi ?" ucap pak Wawan setelah mengetahui putrinya telah menyelesaikan sholatnya
Saking khusyuk nya Bilda sholat hingga tidak mengetahui jika ayahnya telah masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Pak Wawan mencoba menanyakan kembali keputusan
yang sebelumnya diambil kepada putri semata wayangnya.
Mendapati Ayahnya duduk di sisi tempat tidurnya dekat dengan posisi Bilda sholat saat ini. dengan khusyuk apk Wawan membelai rambut Bilda yang disandarkan pada pahanya. dengan penuh kasih sayang orang tua tersebut Menguatkan hari Putrinya.
Bilda pun melemparkan seutas senyum bahagia. Mencoba menjelaskan pada Ayahnya jika dia menerima apa pun keputusan orang tuanya.
"Ayah, kenapa ayah sangat mengkhawatirkan Bilda ?? bukankan Ayah selalu mengatakan pada Bilda , jika segala sesuatu yang terjadi pada diri kita itu sudah di gariskan oleh yang maha kuasa ?" ucap Bilda dengan lembut, terukir senyum manis di bibirnya.
Tidak lagi terlihat kesedihan maupun kekecewaan yang beberapa jam lalu di tampakkan oleh wajah cantik Bilda.
"Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga kalian berdua" , ucap pak Wawan kemudian seraya meninggalkan putrinya karena harus bersiap-siap untuk melakukan pengajian.
Beberapa tamu undangan pun semudah hadir di kediaman Bilda. Puluhan anak yatim yang di undang pun sudah siap di tempat tersebut. Tidak lupa Seluruh keluarga Emil dan Ardi dari Kota Malang, yang sebelumnya beristirahat di hotel, telah sampai di kediaman Bilda pula.
Emil yang terlihat sangat mempesona mengenakan Koko Kurta berbahan Sutra dengan warna putih tulang, baju yang sebelumnya di siapkan keluarga Bilda untuk Ardi pun kini ternyata Emil lah yang mengenakannya, terlihat Aura ketampanan memancar berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya.
Dalam sekejap mata Allah menampakkan kuasanya diatas dua anak manusia yang.
Dimana sebelumnya Ardilah yang akan menjadi calon suami Bilda, hingga beberapa prosesi pernikahan dinlakukan, hingga saat ini Emil lah yang datang bersimpuh memohon doa restu untuk mempersunting gadis cantik bernama Bilda Khairunisa
Wawllohuaqlambisowab, Dan sesungguhnya hanya Allah yang tahu.
Tak berselang lama Bilda di dampingi oleh ibu dan budenya yang dengan digandeng masuk kedalam ruangan yang telah di setting oleh wo untuk acara pengajian.
Senada dengan Emil, Bilda mengenakan pakaian yang berbahan sama dengan Emil, baju gamis yang di kenakan Bilda memperlihatkan Aura kecantikan berpuluh-puluh kali lipat, hingga Aura kecantikan yang di keluarkannya. mampu menghilangkan guratan kesedihan di wajahnya.
Sungguh setiap mata memandang berhasil terbius oleh kecantikan Bilda. Tidak terkecuali Ardi yang telah duduk di sudut ruangan tersebut.
Bilda yang melenggang masuk melewati beberapa orang di ruangan tersebut, pun selalu menundukkan pandanganya, berharap tidak menjadikan madhorot bagindirinya ataupun orang lain.
__ADS_1
Ardi merasa sangat menyesal, merutuki dirinya sendiri ... Menyesali ketidak berdayanya atas Fitnah-fitnah yang di jatuhkan oleh Galuh kepada dirinya.
Entah apa pandangan orang lain terhadapnya saat ini, sudah tidak lagi dia hiraukan.
Seharusnya aku bil yang di sana, mengenakan pakaian yang sama denganmu, menapaki setiap langkah menuju bahtera rumah tangga, namu... batin Ardi dalam hati, masih dengan penyesalan di hatinya.
Tampak guratan kesedihan diwajah cantik Bu Nurmala malam itu, sebetulnya beliau sudah mengikhlaskan takdir yang menimpa keluarganya, namun ada rasa sedih dan tidak rela jika Bilda menjadi menantu orang lain dan bukan dirinya.
Namun hal itu segera dia tepis, karena bagaimana pun meskipun bukan menjadi menantunya, namun Bilda juga akan menjadi bagian dari keluarga besarnya, dengan Status Emil yang menikahinya. Dan hal itu tetap membuat ya bahagia.
Berbeda dengan Ardi maupun Bu Nurmala yang masih meratapi kesedihan dalam dirinya. Emil merasa sangat bahagia. sesekali mencuri pandang ke arah Bilda yang duduk tepat di dihadapannya, namun dengan jarak yang lumayan jauh.
"MashaAllah Sungguh dirimu merupakan Bidadari Perwujutan dalam dunia nyata bil " Gumam Emil tak henti-hentinya mengagumi calon istri nya tersebut.
"Semoga Allah menjadikan Rumah tangga kita penuh keberkahan, Senantiasa dinaungi Kebahagiaan".
ujar Emil dalam hati, tak henti-hentinya mengagumi ciptaAn Allah yang sebentar lagi akan SAH menjadi istrinya.
"Emil... Jaga pandanganmu nak"
Ucap Bu Azizah mencoba mengingatkan puteranya. yang seketika di balas dengan rasa malu, seraya menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal.
"Sabar... Besok sudah SAH, kamu bisa memandangi wajah istrimu dengan puas, bahkan bisa melakukan lebih dari itu" Timpal pak Lukman dengan nada sedikit menggoda.
Emil yang mendengar nya seketika melotot kearah mata Ayahnya, hampir-hampir dia kaget dengan apa yang di sampaikan oleh Ayahnya. Meski hal itu juga di benarkan oleh Emil.
Debaran jantung yang sangat kencang membuat tubuh kekar Emil sedikit gugup. namun seper sekian detik mampu Emil kuasai.
Suasana haru dengan Isak tangis kebahagiaan di antara keluarga besar tersebut sangat terasa.
Rangkaian acara pengajian yang terasa sangat khidmat, di ikuti oleh seluruh anggota keluarga besar dari kedua mempelai pun menjadi semakin Haru tatkala Bilda memohon ijin untuk menikah kepad kedua orang tuanya.
__ADS_1